Oleh Yosef Naiobe
“Apalah arti sebuah nama? Pujangga legendaris asal Inggris William Shakespeare menulis dengan sangat romantis: “What’s in a name? That’s which we call rose by any other name would smell as sweet”
Baru-baru ini, media di Nusa Tenggara Timur ramai memberitakan wacana pergantian nama Biinmaffo menjadi Sonaf Besi, yang diusulkan oleh Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Yosef Falentinus Delasalle Kebo. Sebagai jurnalis yang mengenal dan dekat dengan Bupati Falen, saya percaya bahwa beliau memiliki niat baik di balik proposal ini. Namun, sebagai orang yang pernah menulis buku Sejarah lahirnya Kabupaten TTU, saya merasa bahwa pergantian nama Biinmaffo memerlukan pertimbangan yang matang dan tidak dapat dilakukan secara asal-asalan.
Nama Biinmaffo memiliki makna yang mendalam dan sakral dalam konteks kearifan lokal. Nama ini merupakan hasil kesepakatan para leluhur yang terdiri dari tiga pilar penting, yaitu swapraja Biboki, Insana, dan Miomafo. Penyatuan nama Biinmaffo mewakili wilayah tiga swapraja tersebut dan mengandung makna filosofi yang kuat tentang kerja sama dan saling menopang membangun pah Timor (baca TTU).
Biinmaffo juga dapat diartikan sebagai “di dalam naungan” dalam bahasa Timor (Dawan). Oleh karena itu, saya berharap bahwa proposal pergantian nama ini dapat dipertimbangkan dengan lebih matang dengan melibatkan partisipasi masyarakat terutama para tokoh-tokoh adat dan elemen masyarakat lainnya.
Apa arti Kefamenanu?
Pujangga legendaris asal Inggris William Shakespeare menulis dengan sangat romantis: “What’s in a name? That’s which we call rose by any other name would smell as sweet”
Tapi ini bukan tentang harumnya bunga. Topik ini lebih fokus pada pemaknaan nama daerah, sejarah pembentukannya dan identitas lokal yang terkait dengan nama-nama seperti Biinmaffo dan Kefamenanu. Dalam kontek yang utuh saya ingin membahas tentang nama Kefamenanu, yang merupakan ibukota Kabupaten TTU. Nama ini memiliki sejarah yang panjang dan konon berasal dari ziarah atau litani perjalanan Belanda yang menemukan lokasi ini sebagai pusat kota.
Napak tilas dari Noetoko menuju Kefamenanu menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), menghidupkan kembali sejarah dan mengingatkan kita akan akar budaya dan sejarah yang tidak boleh luntur dan dilupakan.
Namun, saya merasa bahwa nama Kefamenanu memiliki konotasi yang tidak baik, karena dapat diartikan sebagai “jurang yang dalam” dalam bahasa Timor. Oleh karena itu, saya mengusulkan agar nama Kefamenanu yang dapat dipertimbangkan untuk diganti dengan nama Sonaf Besi sebagaimana yang diniatkan Bupati TTU yang lebih positif dan mencerminkan kemajuan masyarakat TTU.
Dalam konteks penamaan Sonaf Besi, alangkah baiknya para penulis sejarah di TTU untuk membantu memberikan masukan kepada Bupati TTU melalui opini yang berharga. Mari kita bekerja sama untuk membangun daerah yang lebih maju dan mencerminkan identitas kita sebagai masyarakat TTU tanpa harus mencederai hanya karena berbeda pendapat.
Akhir cerita, naleok ka naleok Biinmaffo nalekonnes di bawah naungan tiga swapraja. Baik tidak baik Biinmaffo jauh lebih baik.
- Yosef Naiobe: Jurnalis & penulis sastra asal Mamsena berdomisili di Semarang, Jawa Tengah. Pada Pilkada tahun 2024 menjadi Tim Media Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman dan Bupati Bone Andi Asman Sulaiman yang merupakan adik kandung Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
- Salah satu penulis Buku Sejarah TTU bersama mendiang Danial Tifa wartawan kawakan Suara Karya di Denpasar, Bali dan Vincent Nifu mantan Wartawan Mingguan HIDUP Jakarta.
- Penulis Buku Pantologi Puisi berjudul Nyanyian Hati bersama Pater Dr Fritz Meko SVD penulis sastra yang juga merupakan pemerhati masalah Antropologi Budaya. Penulis Lain, Hendrika LW pegiat seni tari dan perfilman asal Malang, Jawa Timur






