Menteri PPPA Membantu Perempuan di TTU

Menteri Pppa Membantu Perempuan Di Ttu
Foto Lius Salu

KEFAMENANU,- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, I Gusti Ayu Bintang Puspayoga memberikan bantuan peralatan produktif bagi perempuan penyintas binaan Yayasan Tapen Bikomi. Bantuan berupa mesin jahit, mesin obras, oven dan mixer diberikan saat
melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, belum lama ini.

Tak cuma itu istri mantan Menteri Koperasi Anak Agung Puspayoga ini juga membantu anak-anak korban kekerasan sera tindak pidana perdagangan orang.

Menurut I Gusti Ayu Bintang, para perempuan penyintas korban TPPO dilatih untuk bisa memiliki pendapatan dari hasil menenun kain tenun motif TTU yang terkenal dengan beragam warna.

“Galeri ini adalah bentuk praktik baik untuk memberdayakan kembali para perempuan penyintas TPPO,” ungkapnya.

Para perempuan di daerah itu lanjutnya harus disediakan tempat untuk dilatih berkarya dan mandiri.

Baca Juga :  Kalantas TTU Ajak Masyarakat Jadi Pelopor Keselamatan Berlalulintas

Mawar Suryani Lake Pohan, Ketua Yayasan Tapen Bikomi menyatakan pihaknya aktif melakukan sosialisasi kepada para penyintas dan calon korban untuk memikirkan dengan baik ancaman dibalik pekerja migran illegal.

Di galeri ini, ujar Mawar, ia dan tim memberi motivasi, melatih tenun dan aneka kerajinan yang bisa memiliki nilai jual.

“Ibu-ibu para penyintas ini masih eksis untuk hasil yang mereka dapat dari menenun,” katanya.

Ia menegaskan apapun produk yang dihasilkan dari penyintas pihaknya siap memasarkannya secara online. Dijelaskan bahwa kalangan usia produktif atau yang masih muda cenderung menjadi pekerjaan migran. Sementara yang sudah tua tidak berniat lagi menjadi pekerja migran.

“Kami tidak bisa melarang mereka, tetapi kami dampingi mereka dalam hal prosedural bekerja menjadi pekerja migran yang legal dan terjamin kemanan mereka,” ujar Mawar

Baca Juga :  Rasio Timpang, Ketua DPD RI Minta Pemerintah Menambah SDM Dokter

Theresia Raneldis salah seorang eks migran mengatakan mulai belajar sejak tahun 2018. Setelah menjadi korban perdagangan di Batam, ia memilih untuk menekuni tenunan karena uang yang didapat bisa ia tabung. Theresia mengaku trauma karena itu ia sudah tidak tertarik lagi bekerja di luar kota atau daerah lain.

“Saya memilih menenun karena bisa menghasilkan minimal satu juta rupiah. Uang ini bisa saya beli untuk kebutuhan gizi anak dan menabung untuk sekolah anak. Sisanya saya beli benang untuk ditenun,”ucapnya.

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts