Kota Malang, zonanusantara – Gelombang pro-kontra terkait penayangan film Pesta Babi yang tengah memanas di ruang publik mendapat perhatian serius dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya.
Menanggapi polemik tersebut, Ketua PWI Malang Raya, Ir. Cahyono, mengajak masyarakat untuk menyikapi karya seni dengan kualitas nalar dan kedewasaan berpikir.
Cahyono menilai bahwa perbedaan pandangan terhadap sebuah medium ekspresi adalah indikator sehatnya iklim demokrasi dan kebebasan berpikir di Indonesia.
Menurutnya, karya seni—termasuk film yang mengangkat ritual budaya—merupakan ruang terbuka bagi berbagai interpretasi.
Dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (14/5/2026), Cahyono menekankan bahwa masyarakat tidak boleh terjebak pada simbol-simbol di permukaan saja.
“Kita merdeka dalam berpikir sepanjang mampu menempatkan kualitas nalar sebagai kasta tertinggi. Ketika seseorang memahami hakikat dan jati diri sebuah persoalan, maka medium ekspresi seperti film atau ritual sejatinya hanyalah sebuah jalan penafsiran,” tegas Cahyono.
Ia mendorong publik untuk mendalami konteks, pesan, serta nilai-nilai subtansial yang ingin disampaikan oleh pembuat karya sebelum memberikan penghakiman sepihak.
Meskipun kritik terhadap karya seni dijamin oleh undang-undang, PWI Malang Raya mengimbau agar penyampaian aspirasi dilakukan secara proporsional dan santun.
Hal ini penting untuk mencegah perbedaan sudut pandang bereskalasi menjadi konflik sosial yang kontraproduktif.
“Kritik itu sah dalam negara demokrasi, namun harus disampaikan dengan cara yang sehat dan saling menghormati. Yang utama adalah menjaga ruang dialog agar tetap kondusif,” tambahnya.
Hingga saat ini, diskusi mengenai film Pesta Babi masih menjadi topik hangat di berbagai platform media sosial.
Pernyataan PWI Malang Raya ini diharapkan mampu meredam ketegangan sekaligus menjadi panduan bagi masyarakat dalam berdialektika di ruang publik secara lebih bijaksana.






