Kabupaten Malang, ZonaNusantara – Program bongkar ratoon (peremajaan tanaman tebu) yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan mulai menorehkan dampak positif bagi para petani di Kabupaten Malang.
Meski sempat diterpa isu miring terkait dugaan setoran dana insentif Hari Orang Kerja (HOK), persoalan tersebut dipastikan telah klir dan murni terjadi karena adanya salah komunikasi.
Kini, riak kecil tersebut berganti menjadi suntikan semangat baru. Gelora menuju swasembada pangan kembali berembus kuat dari wilayah selatan Kabupaten Malang.
Puluhan petani di Desa Putukrejo, Kecamatan Kalipare, secara tegas menyatakan komitmen penuh mereka untuk menyukseskan program peremajaan ini demi mendongkrak produksi gula nasional pada tahun 2026.
Komitmen bersama tersebut dikukuhkan dalam sebuah pertemuan strategis antara Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat.
Langkah konsolidasi ini dinilai sangat krusial, mengingat sekitar 70 persen lahan pertanian di Desa Putukrejo didominasi oleh perkebunan tebu.
Sekretaris Desa Putukrejo, Athok, menegaskan bahwa keberhasilan transformasi sektor pertanian sangat bergantung pada kekompakan para petani. Menurutnya, soliditas antar-lini merupakan mesin utama penggerak pembangunan desa.
“Soliditas harus terbangun di semua lini, baik di dalam poktan, antar-poktan, hingga sinergi dengan Gapoktan dan pemerintah desa. Tentunya, hal ini menjadi kunci keberhasilan program bongkar ratoon tersebut,” ujar Athok, Selasa (2/6/2026).
Antusiasme tinggi juga disuarakan oleh Ketua Poktan Taruna Bakti Kalipare, Agus Wiyono.
Ia mengungkapkan bahwa respons positif tidak hanya datang dari petani senior, melainkan juga dari generasi muda tani yang merupakan alumni program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS).
Pada tahun ini, Poktan Taruna Bakti mengusulkan 16 hektare lahan tebu untuk masuk dalam program bongkar ratoon sebuah angka yang melonjak dua kali lipat dibanding realisasi tahun lalu.
“Kami terus bergerak menambah CPCL di sisa waktu yang ada,” tutur Agus optimis.
Manfaat nyata dari program ini bukan sekadar teori. Samsuri, salah satu petani setempat, memberikan kesaksian langsung. Berdasarkan pengalamannya pada musim lalu, produktivitas lahannya meningkat secara signifikan setelah menerapkan sistem bongkar ratoon.
“Hasil tahun lalu sangat membantu petani. Karena itu, pada tahun 2026 ini, saya mengajak petani lain untuk ikut. Saat ini sudah terkumpul lahan seluas 10 hektare milik petani yang siap di-ratoon,” ungkap Samsuri.
Melihat potensi yang besar ini, Koordinator Penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kalipare mengingatkan pentingnya aspek transformasi kelembagaan. Poktan dan Gapoktan diharapkan tidak lagi sekadar menjadi wadah berkumpul secara sosial, melainkan harus berevolusi menjadi lembaga ekonomi yang mandiri.
Pihak BPP mendorong agar kelompok tani bisa ‘naik kelas’ dan lebih agresif dalam menangkap berbagai peluang dari kebijakan pemerintah.
Sinergi yang kuat antara regulasi pusat dan kesiapan di akar rumput diyakini mampu membawa petani tebu Desa Putukrejo berkontribusi nyata bagi capaian swasembada gula nasional.
Sebagai informasi tambahan, penguatan kelembagaan petani tebu di Kabupaten Malang saat ini terus dipacu melalui wadah koperasi dan kelompok tani.
Langkah penguatan ekonomi ini juga mendapat dukungan penuh berupa sokongan permodalan dari pabrik gula setempat.
Kolaborasi ini menjadi bagian penting dari peta jalan (roadmap) strategis pemerintah menuju swasembada gula nasional yang ditargetkan tercapai sepenuhnya pada tahun 2028.






