
JAKARTA- Sebuah terobosan sementara dilakukan di Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara. Wilayah yang berbatasan dengan negara Timor Leste ini bakal disulap menjadi destinasi wisata pantai.
Gagasan ini dicetuskan owner Beta Timor, Yosef Falentino Kebo, belum lam ini.
Ditemui di kantor Texmaco, Kuningan Jakarta, Falen demikian ia disapa mengatakan saat ini sementara membangun jembatan bambu khusus untuk sandaran kapal volume kecil berbobot,15 Gross tonnage (GT) dan kapal kecil lainnnya.
Infrastruktur jembatan yang berlokasi di dekat tanjung Bastian, panjangnya mencapai 300 meter, lebar satu meter. Kedalam laut yang dilewati jembatan tersebut diperkirakan tujuh hingga 10 meter.
Pemilik kapal pesiar Naef Siuk ini mengatakan apa yang dikerjakan sesuai komitmennya untuk membangun daerahnya, termasuk membantu pemerintah daerah setempat. Jika geliat wisata ini terwujud, setidaknya membantu daerah dalam hal retribusi atau pajak, juga penciptaan tenaga kerja.
“Ini peluang harus dimanfaatkan. Tidak bisa hanya berharap dari pemerintah daerah,”ujarnya.
Purnawirawan TNI AD yang memilih pensiun dini dengan pangkat mayor, lebih lanjut mengatakan jembatan yang dibangun merupakan tahap awal dari rencana besar berikutnya.
Sejatinya, ayah dua anak (putri dan putra) ini ingin mendesain pantai bagian Utara menjadi obyek wisata pantai. Karena itu alumnus Magister Managemen Business, dari salah satu Universitas ternama di Australia ini akan menambah wahana permainan wisata laut yang lebih menyenangkan guna menarik minat wisatawan.
Fasilitas yang dimaksud berupa, banana board, jet sky (motor laut). Fasilitas lainnya, permainan untuk anak – anak, disediakan peluncur, bentuknya menyerupai angsa. Selain itu ada juga perahu kecil (speed boat) yang bisa digunakan wisatawan menikmati laut Wini dan sekitarnya.
Bahkan di kawasan itu, suami dari Andina Winantuningtyas, juga akan membangun home stay dengan kapasitas dua kamar tempat tidur, lengkap dengan kamar mandi dan dapur. Fasilitas tersebut bisa digunakan bagi pelancong atau penikmat wisata pantai baik lokal, domestik dan internasional.
Wisatawan yang ingin menikmati semua fasilitas yang ada, dikenakan biaya Rp 100.000, perorang. Namun bagi pengunjung yang memiliki kartu tanda anggota (KTA) Beta Timor, akan mendapatkan diskon sebesar 50 persen. KTA Beta Timor juga berlaku untuk menggunakan fasilitas lain milik Beta Timor seperti naik bus ke Atambua atau Kupang.
Untuk diketahui Beta Timor adalah sebuah ormas yang bergerak di bidang sosial. Ormas yang didirikan Yosef Falentino Kebo, tujuannya membantu masyarakat kurang mampu.
Orientasi pria kelahiran Wini 10 Pebruari 1977 ini ingin melihat masyarakatnya hidupnya bahagia. Di setiap waktu, perwira lukusan Akademi Militer (Akmil) ini selalu bermimpi untuk mendedikasikan apa yang dimiliki bagi masyarakat.
“Hanya satu yang belum saya punya. Bermanfaat bagi orang lain,”mengakhiri sesi wawancara.
***
Langit kota Jakarta
Oleh : Yosef Naiobe
Rutinitas hari itu tampak lengang. Daerah Khusus Ibukota, yang biasanya bising dengan riuh kendaraan di jalanan pun sepi. Gerimis hari itu pun tergulung awan. Cuaca sungguh amat bersahabat untuk dinikmati rasa kebugarannya.
Di bilangan Kuningan, Jakarta, berjejer gedung pencakar langit, di sepanjang jalan utama. Daerah itu termasuk salah satu pusat bisnis di Jakarta. Hampir semua taipan kelas kakap memiliki gedung mewah di lokasi ini.
Salah satu gedung bertuliskan BNI Life, dengan ketinggian sekitar 25 tingkat. Di gedung ini, terdapat kantor Texmaco, yang berada di lantai 15. Perusahaan tekstil terbesar di Asia ini, Yosef Falentino Kebo berkantor.
Ia termasuk salah satu pemegang saham, dalam perusahaan yang memiliki beberapa cabang di Jawa dan luar negeri.
Dalam posisi sebagai salah satu pemegang saham dapat dipastikan kesibukan di perusahaan sangat tinggi dan menyita. Hari itu ia sengaja menghemat waktunya agar bisa saya bertemu, dalam sebuah sesi wawancara.
Menempati satu ruangan di samping pemilik PT Texmaco, anggota Kirab Remaja Nasional era 1990an ini mudah ditemui. Meski untuk keperluan tertentu, tamu harus lapor terlebih dahulu pada resepsionis di depan pintu masuk.
Melihat dari dekat, dengan mobile yang sangat tinggi, sebagai jurnalis, saya menangkap kesan, kapasitas SDM yang dimiliki, Yosef Falentino Kebo untuk menyulap Wini sebagai destinasi (tujuan) wisata bukan hal sulit. Memang kesannya mudah, jika memilki finansial besar tidak sekedar cukup. Sebab dari wawancara itu, terungkap bahwa ia rela menyediakan anggaran hampir Rp 10 miliar untuk mendesain obyek wisata pantai.
Hari itu, saya leluasa memanfaatkan waktu, mengeksploitasi keinginan owner Beta Timor ini untuk membantu masyarakat, khusus yang tidak mampu. Banyak hal diceritakan secara bebas. Tapi satu hal yang saya tangkap, sosok ini punya niat yang tulus membantu.
Penulis, asal kampung Mamsena, bekerja di Senayan – Jakarta.






