JAKARTA , Zonanusantara.com– Pemerintah bergerak cepat menangani dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores dan sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) dini hari.
Selain mengirim puluhan ton bantuan logistik melalui pesawat Hercules, pemerintah mengerahkan ribuan personel gabungan untuk membantu proses pencarian dan penyelamatan korban, distribusi bantuan, serta pemulihan layanan dasar.
Hingga Sabtu malam, total 27 ton bantuan logistik telah dikirim ke wilayah terdampak dalam beberapa kloter penerbangan Hercules. Bantuan tersebut dikirim menyusul arahan Presiden Prabowo Subianto agar penanganan bencana dilakukan secara cepat dan melibatkan seluruh unsur pemerintah.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan pengiriman dilakukan secara bertahap sepanjang hari untuk mempercepat sampainya bantuan kepada masyarakat.
“Ini adalah kloter terakhir penerbangan hari Sabtu. Dari total 27 ton logistik sudah terkirim ke NTT dengan berbagai kloter penerbangan Hercules di hari itu juga,” ujar Teddy sebagaimana disampaikan melalui keterangan resmi pemerintah.
Di luar bantuan logistik, lebih dari 3.500 personel TNI dan Polri dikerahkan ke berbagai wilayah terdampak. Mereka disebar ke sejumlah daerah di Flores dan wilayah NTT lainnya untuk mendukung evakuasi, pengamanan, distribusi logistik serta penanganan kondisi darurat.
Operasi besar tersebut dilakukan setelah gempa kuat mengguncang Flores ketika sebagian besar masyarakat masih tertidur.
- Gempa M7,7 Mengguncang Flores Saat Dini Hari
Gempa utama terjadi pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 dengan pusat gempa berada di kawasan utara Pulau Flores dan kedalaman sekitar 15 kilometer.
Guncangan kuat dirasakan di berbagai wilayah NTT, terutama di kawasan Flores. Sejumlah daerah seperti Nagekeo, Sikka, Manggarai dan wilayah sekitarnya melaporkan kerusakan bangunan dan infrastruktur.
Nagekeo menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius karena berada dekat dengan pusat gempa. Pada jam-jam awal setelah bencana, akses menuju sejumlah lokasi terganggu akibat longsor dan kerusakan jalan. Jaringan komunikasi juga sempat mengalami gangguan sehingga proses pendataan korban dan kerusakan tidak dapat dilakukan secara cepat.
Di Maumere, Kabupaten Sikka, sejumlah bangunan mengalami kerusakan dan tim penyelamat melakukan pencarian terhadap warga yang tertimpa reruntuhan. Gempa juga menyebabkan warga berhamburan keluar rumah dan bergerak menuju lokasi yang dianggap lebih aman.
Besarnya kekuatan gempa membuat BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami. Perubahan muka air laut terdeteksi di sejumlah titik setelah gempa. Setelah melakukan pemantauan, BMKG kemudian mengakhiri peringatan dini tsunami sekitar pukul 07.30 WIB, atau kurang lebih dua setengah jam setelah gempa utama.
Masyarakat tetap diminta waspada karena aktivitas gempa belum berhenti.
Hingga pukul 14.00 WIB pada hari yang sama, BMKG telah mencatat 235 aktivitas gempa susulan. Kondisi tersebut membuat banyak warga memilih bertahan di luar rumah karena khawatir bangunan yang telah mengalami kerusakan dapat runtuh apabila kembali diguncang gempa kuat.
- Korban Terus Bertambah
Skala bencana semakin terlihat setelah akses komunikasi mulai terbuka dan laporan dari kabupaten-kabupaten terdampak masuk ke pemerintah.
Pada hari pertama, jumlah korban terus mengalami perubahan seiring berlangsungnya operasi pencarian. Data sementara BNPB pada Sabtu malam mencatat lebih dari 40 orang meninggal dunia.
Memasuki Minggu (16/8/2026) sore, BNPB memperbarui data dan menyatakan 53 orang meninggal dunia akibat gempa M7,7 tersebut. Angka itu masih menjadi data dinamis karena proses pencarian, penyelamatan serta verifikasi laporan dari lapangan terus dilakukan.
Ribuan warga juga harus meninggalkan tempat tinggal mereka. BNPB mencatat lebih dari 5.000 warga sempat bertahan di lokasi pengungsian pada hari berikutnya, sementara tim gabungan terus mendata kebutuhan masyarakat di berbagai lokasi terdampak.
- Kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah warga.
Data awal menunjukkan ratusan rumah mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga berat. Puluhan sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, bangunan pemerintah serta infrastruktur lainnya juga dilaporkan terdampak. Di sejumlah lokasi, gempa memicu longsor yang menutup akses jalan dan memperlambat perjalanan tim penyelamat menuju permukiman yang paling sulit dijangkau.
- Pemerintah Kerahkan Kementerian dan Lembaga
Presiden Prabowo Subianto kemudian menginstruksikan jajaran pemerintah pusat untuk segera bergerak menuju NTT sejak hari kejadian.
Sejumlah pejabat pemerintah dikerahkan untuk mengoordinasikan penanganan langsung di lapangan, melibatkan antara lain unsur Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, BNPB, Basarnas, Kementerian Kesehatan serta Kementerian Sosial.
- Pemerintah juga melibatkan BUMN yang mengelola layanan vital.
PT PLN (Persero) dikerahkan untuk menangani gangguan jaringan dan pasokan listrik. PT Pertamina (Persero) mendukung kebutuhan energi dan bahan bakar, sementara PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk membantu pemulihan jaringan telekomunikasi yang terdampak.
Langkah tersebut menjadi penting karena kerusakan infrastruktur dan putusnya komunikasi di sejumlah lokasi sempat menghambat proses pendataan serta pengiriman bantuan.
Presiden meminta setiap instansi bekerja secara terkoordinasi agar operasi darurat tidak berjalan sendiri-sendiri. Prioritas diarahkan pada penyelamatan korban, pelayanan kesehatan, penyediaan kebutuhan dasar, pembukaan kembali akses transportasi hingga pemulihan listrik dan telekomunikasi.
- Bantuan Dikirim dari Udara dan Laut
Kondisi geografis Flores menjadi tantangan tersendiri dalam proses distribusi bantuan.
Pulau yang memanjang dari barat hingga timur tersebut memiliki wilayah bergunung-gunung dengan banyak permukiman berada cukup jauh dari pusat kabupaten. Ketika gempa menyebabkan longsor dan kerusakan jalan, jalur distribusi darat ke sejumlah lokasi otomatis terganggu.
Karena itu pemerintah menggunakan berbagai moda transportasi.
Pesawat Hercules digunakan untuk membawa bantuan dalam jumlah besar dari luar NTT menuju titik distribusi utama. Dari sana bantuan diteruskan menggunakan jalur darat maupun laut.
Di Kabupaten Sikka, misalnya, BNPB juga menggerakkan pengiriman logistik melalui jalur laut menuju masyarakat terdampak di Pulau Palue, menunjukkan bahwa operasi bantuan harus menjangkau pula pulau-pulau kecil di sekitar Flores.
Bantuan Presiden yang tiba di Maumere pada Minggu juga mencakup 1.725 paket sembako untuk masyarakat terdampak. BNPB pada saat bersamaan menggerakkan tambahan logistik untuk mendukung kebutuhan korban di Kabupaten Sikka dan daerah lainnya.
- Rumah Sakit Lapangan Disiapkan
Sektor kesehatan menjadi perhatian setelah sejumlah fasilitas medis ikut terdampak gempa.
Kerusakan pada fasilitas kesehatan membuat sebagian pelayanan harus dilakukan dengan skema darurat. BNPB kemudian menyiapkan rumah sakit lapangan, termasuk setelah RSUD Manggarai dilaporkan terdampak gempa M7,7.
Langkah tersebut diperlukan tidak hanya untuk menangani korban luka akibat reruntuhan bangunan, tetapi juga menjamin pelayanan kesehatan rutin bagi masyarakat tetap berjalan selama masa tanggap darurat.
Tim SAR dan tenaga kesehatan pada saat yang sama terus disiagakan karena aktivitas gempa susulan masih terjadi.
Kepala BNPB Suharyanto menginstruksikan sejumlah langkah strategis dalam penanganan darurat, termasuk penguatan operasi pencarian dan pertolongan, pendataan pengungsi serta korban, pemenuhan kebutuhan dasar, penanganan kesehatan dan percepatan pembukaan akses menuju lokasi terdampak. BNPB juga membentuk media center untuk memperbarui informasi resmi setiap hari sekaligus mengurangi simpang-siur data bencana.
- Flores Memiliki Sejarah Gempa Besar
Gempa 15 Agustus 2026 kembali mengingatkan bahwa kawasan Flores merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi di Indonesia.
Pulau Flores berada di kawasan yang dipengaruhi interaksi kompleks berbagai struktur tektonik. Aktivitas tersebut membuat wilayah Nusa Tenggara memiliki sejarah panjang gempa kuat.
Salah satu bencana terbesar terjadi pada 12 Desember 1992, ketika gempa besar di kawasan Flores memicu tsunami dan menimbulkan kerusakan luas, terutama di pesisir utara pulau. BMKG juga mengingatkan bahwa kawasan yang terdampak gempa 2026 pernah mengalami gempa besar pada masa sebelumnya.
Indonesia sendiri berada pada kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik aktif yang membuat gempa bumi menjadi bagian dari risiko geologis yang terus dihadapi berbagai daerah.
Namun kondisi geografis Flores membuat dampak bencana dapat menjadi lebih kompleks. Permukiman yang tersebar, medan pegunungan, keterbatasan akses antardaerah dan keberadaan banyak pulau kecil membuat proses evakuasi maupun distribusi bantuan memerlukan koordinasi darat, laut dan udara sekaligus.
- Masa Darurat Belum Berakhir
Memasuki hari-hari setelah gempa, operasi pencarian dan penyelamatan masih dilanjutkan. Tim SAR tetap ditempatkan di daerah terdampak dan pemerintah terus mengevaluasi kebutuhan masyarakat berdasarkan laporan lapangan.
Pemerintah menegaskan koordinasi antara kementerian, lembaga, TNI-Polri, pemerintah daerah, BUMN serta unsur relawan akan terus diperkuat.
Distribusi bantuan menjadi salah satu prioritas agar kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi, terutama bagi warga yang kehilangan atau belum dapat kembali ke rumah.
Di saat bersamaan, ancaman gempa susulan membuat pemerintah meminta masyarakat tidak terburu-buru memasuki bangunan yang mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman.
Bagi Flores, gempa M7,7 pada 15 Agustus 2026 menjadi bencana besar yang sekali lagi memperlihatkan kerentanan pulau tersebut terhadap aktivitas tektonik.(Ibrahim Malik)






