BELU,- Di balik hiruk-pikuk aktivitas lintas negara, Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain kembali membuktikan bahwa perbatasan bukan hanya soal pengawasan dan pelayanan, tetapi juga ruang solidaritas kemanusiaan. Kali ini, aksi nyata diwujudkan lewat kegiatan donor darah sukarela yang digelar di Gedung Pasar PLBN Motaain, Jumat, 24 April 2025.
Bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Belu, kegiatan ini melibatkan 40 peserta dari berbagai latar belakang. Tak hanya pegawai PLBN, tetapi juga petugas bea cukai, imigrasi, TNI, POLRI, pemerintah desa, hingga para pelaku usaha sekitar turut ambil bagian dalam gerakan sosial ini.
Kepala PLBN Motaain, Maria Fatima Rika, menjelaskan bahwa donor darah bukan sekadar rutinitas, tetapi bentuk kontribusi nyata dari lembaga negara di tapal batas dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Sebagai pintu gerbang Indonesia di kawasan timur, kami ingin menunjukkan bahwa PLBN bukan sekadar pos pelayanan, tapi juga bagian dari masyarakat. Donor darah ini adalah bentuk kepedulian kami terhadap sesama,” ujar Rika.
Dari total peserta yang mendaftar, 17 kantong darah berhasil dikumpulkan oleh tim PMI. Sebelum donor dilakukan, seluruh peserta menjalani proses skrining ketat, termasuk pemeriksaan tekanan darah dan kadar hemoglobin, guna memastikan kondisi tubuh memenuhi syarat sebagai pendonor.
“BNPP 5 orang, Imigrasi 1, Bea Cukai 2, BKHIT 2, Satgas Pamtas 5, Brimob 1, dan Pemdes Silawan 1 orang,” rinci Rika mengenai para pendonor yang berhasil lolos skrining.

Kegiatan ini bukan hanya mendukung kebutuhan stok darah di rumah sakit, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya donor darah sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
“Selain bermanfaat bagi pasien yang membutuhkan, donor darah juga memberi dampak positif bagi kesehatan tubuh pendonor. Ini adalah aksi kecil dengan manfaat besar,” ungkap Rika.
Aksi kemanusiaan di perbatasan ini menjadi wajah baru dari peran PLBN yang selama ini identik dengan urusan lintas negara. Melalui kegiatan seperti ini, PLBN Motaain memperluas makna keberadaan mereka sebagai institusi yang hadir dan dekat dengan masyarakat, tidak hanya secara geografis, tetapi juga secara emosional dan sosial.
Solidaritas, kebersamaan, dan semangat gotong royong menjadi nilai-nilai yang tumbuh subur di wilayah perbatasan, sebagaimana terlihat dari antusiasme para peserta yang datang tidak hanya untuk mendonorkan darah, tetapi juga untuk terlibat dalam gerakan sosial yang lebih besar.
PLBN Motaain berharap kegiatan seperti ini bisa menjadi tradisi rutin yang melibatkan lebih banyak pihak ke depan. Dengan begitu, kawasan perbatasan bukan hanya menjadi garis pemisah antarnegara, melainkan titik temu bagi kemanusiaan.






