
Kemegahan dekorasi, sentuhan adat Bugis-Makassar, hingga kehadiran sejumlah tokoh nasional menjadikan malam itu meninggalkan kesan mendalam bagi para tamu.
Salah satu tamu yang hadir adalah Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman bersama istri. Kehadiran Kepala Staf Kepresidenan RI tersebut menyita perhatian para undangan yang memenuhi ballroom.
Sejak memasuki ruangan, para tamu disambut tata dekorasi yang elegan. Lampu kristal menghiasi langit-langit ballroom, sementara unsur budaya lokal tampak kuat melalui penggunaan songkok recca dan berbagai ornamen khas Bugis-Makassar yang berpadu harmonis dengan konsep resepsi modern.
Acara yang berlangsung sekitar dua jam itu menghadirkan suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Penampilan tarian tradisional berpadu dengan hiburan musik dari penyanyi Anji (Erdian Aji Prihartanto) yang menghidupkan suasana sepanjang malam.
Menurut Dr. Hasanuddin, S.E., M.Si., dosen Universitas Gorontalo sekaligus Ketua Kerukunan Keluarga Masyarakat Bugis (KKMB) Provinsi Gorontalo, resepsi tersebut bukan hanya menampilkan kemewahan, tetapi juga menghadirkan kesan yang berbeda.
“Suasananya luar biasa. Penataan acaranya sangat baik dan tetap menghadirkan nuansa kekeluargaan. Kehadiran tokoh-tokoh nasional juga menjadi kebanggaan bagi keluarga besar kedua mempelai,” ujarnya.
Ia menilai kehadiran Jenderal Dudung menjadi bentuk penghormatan bagi keluarga yang menggelar hajatan.
Sementara itu, Dudung Abdurachman mengaku terkesan dengan keseluruhan penyelenggaraan resepsi. Menurut mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu, kemegahan sebuah pesta bukan hanya diukur dari dekorasi ataupun daftar tamu penting yang hadir.
“Resepsi ini megah dan berwibawa. Yang paling saya rasakan adalah tata krama dan nilai kekeluargaan yang tetap dijaga,” katanya.

Ia juga mengapresiasi cara keluarga mempelai memperlakukan seluruh tamu dengan penuh penghormatan.
“Semua tamu merasa dihargai, tanpa melihat latar belakangnya. Dari pejabat negara hingga masyarakat umum mendapatkan perhatian yang sama. Bagi saya, itulah kemewahan yang memiliki makna,” tutur Dudung.
Di tengah gemerlap dekorasi dan kemeriahan acara, perhatian Dudung justru tertuju pada hal-hal sederhana yang menurutnya menjadi inti sebuah pernikahan, yakni doa, jabat tangan penuh kehangatan, dan kebahagiaan yang terpancar dari wajah kedua mempelai.
Resepsi Andi Nizar dan Tasya akhirnya menjadi lebih dari sekadar pesta. Perayaan itu memperlihatkan bagaimana tradisi, keramahan, dan penghormatan kepada tamu dapat berpadu dalam sebuah acara yang elegan tanpa kehilangan nilai-nilai kekeluargaan.
Doa pun mengiringi langkah awal kehidupan rumah tangga kedua mempelai. Harapannya, kebersamaan yang dibangun pada malam penuh kebahagiaan itu menjadi awal perjalanan keluarga yang harmonis, kokoh, dan membawa manfaat bagi banyak orang.***






