Sekolah Gratis di Era Serba Bayar: Kisah MTs Alfaizun di Bone

Sekolah Gratis Di Era Serba Bayar: Kisah Mts Alfaizun Di Bone
Hj Nur Aisyah Ramly (Sang Nahkoda)

Di zaman sekarang, nyaris tidak ada yang berminat membangun sekolah gratis. Kebanyakan memasang tarif mahal, atau setidaknya sedikit lebih murah. Apalagi di era hedon seperti sekarang, semua serba bayar.

Namun, ketiadaan itu ternyata benar-benar ada. Satu-satunya adalah MTs Alfaizun yang berlokasi di Palakka, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Dengan jumlah siswa hampir 400 anak, secara hitung-hitungan ekonomi sekolah ini seharusnya membawa keuntungan finansial besar bagi pemiliknya. Bahkan jika dipungut biaya murah sekalipun, tetap akan mendatangkan keuntungan.

Namun MTs Alfaizun yang berdiri sejak 2006 ini berbeda. Sekolah swasta Islam yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Islam Alfaizun ini nyata-nyata tidak memungut biaya sepeser pun. Biaya operasional sekolah yang lazim diterapkan yayasan lain, di sini tidak dijumpai. Semua murni ditanggung pemilik yayasan.

Sekolah tingkat SMP ini merupakan salah satu aset milik NSR. Aset lainnya meliputi NSR Apparel, Studio Foto dan Film, NSR Phone, Pondok  NSR berkapasitas 60 kamar di Kompleks Unhas Makassar, dan NSR Maritim di Morowali.

Dari sekian banyak aset tersebut, dua di antaranya dijadikan sebagai misi kemanusiaan. Di titik inilah pemiliknya memilih jalan sendiri. Jalan sunyi yang tak banyak orang mau menempuhnya.

Sebuah rumah dua lantai disulap menjadi rumah singgah gratis. Tidak berhenti di situ, satu unit rumah lainnya juga dihibahkan atas nama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kabupaten Bone untuk dijadikan sekretariat.

Baik sekolah, rumah singgah, maupun rumah yang kini menjadi sekretariat HMI, semuanya diperuntukkan bagi keluarga-keluarga tak mampu.

Menyumbangkan aset berharga yang secara finansial menguntungkan merupakan keputusan yang sangat langka. Yang lebih sering terdengar justru sekolah-sekolah mahal yang membebani orang tua siswa. Banyak orang berada yang membangun sekolah mulai SD hingga SMA memasang tarif mahal, bahkan sangat mahal, apalagi jika dilabeli “kelas internasional”.

Baca Juga :  Tampil Perkasa, Kesebelasan Desa Kaenbaun Bantai Kesebelasan Jak 5-0  

Label semacam ini sering kali hanya kedok untuk menaikkan biaya pendidikan. Padahal tidak ada guru atau dosen asing yang dihadirkan. “Internasional” menjadi kamuflase demi menaikkan gengsi. Masyarakat acapkali merasa terkecoh dengan status ini tanpa memperhitungkan biayanya. Padahal mutunya pun belum tentu terjamin.

Pendidikan Bukan Sekadar Bisnis

Pendidikan di Indonesia sudah memiliki standar dan diatur dalam kurikulum disesuaikan dengan kondisi bangsa Indonesia. Jika ada sekolah berstatus internasional yang memasang tarif mahal, paling banter hanya ada tambahan wajib belajar bahasa Inggris bagi siswa. Selebihnya soal mutu, Wallahu a’lam.

Pendidikan mahal di Kabupaten Bone memang banyak ditemui. Meski jumlahnya tidak banyak, karena pemiliknya kebanyakan orang berduit, pejabat setingkat menteri, atau mantan pejabat pusat.

Undang-undang memang tidak melarang berbisnis di bidang pendidikan. Namun memasang tarif mahal adalah konteks yang berbeda. Bisnis di bidang pendidikan termasuk aspek sosial. Ia berbeda dengan usaha perdagangan, kontraktor, dan lainnya.

Jika tarifnya mahal, unsur sosialnya kehilangan makna. Ia menguap di antara hembusan semesta dan tenggelam di antara riuh cerita masyarakat. Pemiliknya mungkin tampak berada secara kasat mata, tetapi secara batiniah belum tentu ada kebahagiaan.

Memantik apresiasi publik 

Belakangan, sekolah gratis, rumah singgah gratis, serta sekretariat HMI yang dihibahkan bagi mahasiswa viral di media online. Menjadi buah bibir dan perbincangan hangat khalayak.

Saya lalu teringat perkataan para cerdik pandai: orang hebat lahir dari habit. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan seseorang dengan jiwa sosial itulah yang sesungguhnya melahirkan orang-orang hebat. Menjadi hebat tidak lahir secara instan. Ia bertumbuh selama bertahun-tahun.

Baca Juga :  7 Tahun Berlayar, PIS Sukses Meningkatkan Revenue dan Mengukir Prestasi Baru

Hebat Karena Habit

Kerja sosial adalah kebiasaan yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Mereka memiliki jiwa sosial yang tidak lazim. Membantu tanpa mengharap imbalan. Iklas. Mengalir seperti air, tiada henti.

Kebiasaan seperti ini tidak didapat secara instan. Ia ditanam sejak dulu dan bertumbuh bersama zaman, dan melewati segala rintangan.

Sampai di titik ini kita menyimpulkan bahwa, orang dengan jiwa sosial dan dinilai hebat tidak mungkin dicapai dalam waktu singkat. Orang bijak dan cerdik pandai melukiskannya dengan kalimat sederhana namun dalam: tak lekang oleh waktu dan tak lapuk oleh air.

Habit yang dimiliki orang hebat selalu menuntut satu hal yang tidak boleh diabaikan: kesetiaan pada jalur yang telah dipilihnya. Kesetiaan itu bukan soal materi atau nama besar, melainkan panggilan jiwa untuk melakukan kebaikan bagi orang-orang tak mampu.

Apa yang dilihat mata, dilakukan dengan hati, lalu dilukiskan. Kalimat pendek, tapi sarat makna.

Orang-orang hebat mengerjakan apa yang tidak dilakukan orang lain. Mereka memilih jalan sunyi, tapi yakin ada Sang Sutradara Agung dari kejauhan yang akan mendesain hidupnya.

Sampailah pada satu keyakinan : Orang-orang HEBAT bermula dari “mata kaki” menuju “mata hati”.

 

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts