Doktor Lulusan Hochschule für Philosophie, Munchen Jerman Dikukuhkan Jadi Guru Besar IFTK Ledalero

Doktor Lulusan Hochschule Für Philosophie, Munchen Jerman Dikukuhkan Jadi Guru Besar Iftk Ledalero
Foto istimewa

MAUMERE — Imam Katolik dari Serikat Sabda Allah (SVD) Prof Dr Otto Gusti Ndegong Madung, SVD, Sabtu (18/4) dikukuhkan sebagai Guru Besar Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero di Auditorium Santo Thomas Aquinas IFTK Ledalero, Maumere, kota Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Prosesi pengukuhan dihadiri sejumlah pejabat penting yaitu Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV Prof Dr Adrianus Amheka, ST, M.Eng dan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si, Apt.

Selain itu, pengurus Yayasan Persekolahan Santo Paulus Ende, pimpinan dan anggota SVD Provinsi Ende, Wakil Rektor 1 IFTK Ledalero Pastor Dr Yosef Keladu Koten, SVD, para dosen, imam, civitas akademika, dan tamu undangan.

Gubernur Laka Lena dalam sambutannya mengatakan, Indonesia adalah ruang kebangsaan yang plural, ditandai oleh keberagaman suku, agama, bahasa, dan budaya.

“Dalam keragaman itu, demokrasi kita terus berada dalam proses pendewasaan. Namun kita juga menghadapi tantangan serius, ketimpangan sosial, polarisasi politik serta kecenderungan manipulasi identitas. Dalam situasi demikian, pemikiran reflektif-filosofis menjadi sangat penting untuk menjaga arah etis kehidupan bersama,” ujar Laka Lena.

Menurut Laka Lena, terkadang ada jarak yang besar antara gagasan dan realita. Filsafat politik sebagai kompas yang memberi arah normatif, politik praktis sebagai nahkoda yang mengemudikan kapal sejarah, dan hukum sebagai peta sekaligus aturan pelayaran yang menjembatani keduanya.

“Hukum menerjemahkan arah normatif ke dalam rambu-rambu konkret sekaligus membatasi tindakan agar tetap berada dalam koridor yang dapat dipertanggungjawabkan,” kata Laka Lena, politisi nasional asal Ende, Flores.

Lakalena mengakui, kadang dalam politik praktis kepala daerah bisa saja terjebak pragmatisme yang kadang tanpa arah. Melalui horizon pemikirannya, Pater Prof Otto Gusti Madung menempatkan demokrasi bukan sekadar mekanisme prosedural.

“Melainkan proyek etis yang berakar pada rasionalitas publik. Ini menjadi arah akademik kami untuk terus memperkuat ruang publik yang rasional dan inklusif,” ujar Laka Lena lebih lanjut.

Baca Juga :  Kadis Perhubungan Bone Terima Penghargaan Satya Lencana Karya Satya Pengabdian 20 Tahun

Laka Lena menambahkan, melalui pengukuhan Pater Otto Gusti Madung sebagai guru besar Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur terbuka dan menghargai catatan-catatan kritis yang konstruktif sebagai bagian penting dalam menavigasi penyelenggaraan pemerintahan yang lebih adil dan berorientasi pada kepentingan publik.

“Semoga amanah akademik ini semakin memperkuat kontribusi beliau dalam membangun ruang publik yang rasional, inklusif, dan berkeadilan, baik di tingkat nasional maupun dalam konteks pembangunan Nusa Tenggara Timur,” kata Laka Lena.

Adrianus Amheka dalam kesempatan tersebut mengatakan Prof Otto Gusti Madung merupakan guru besar ketiga di IFTK Ledalero dan merupakan guru besar pertama yang masih aktif di Sikka.

“Pengukuhan guru besar bukan sekadar acara seremonial melainkan tradisi akademik yang harus dilaksanakan untuk mendukung jabatan tertinggi akademik menjadi bagian penting lokus di daerah,” kata Adrianus Amheka.

Menurut Adrianus Amheka, orasi ilmiah menjadi bentuk tanggung jawab akademik seorang profesor untuk bidang ilmu yang relevan dengan kepakarannya.

Sementara itu Yosef Keladu mengatakan, pengukuhan ini disatukan dengan acara Dies Natalis ke-94 IFTK Ledalero. Hingga saat ini, katanya, IFTK Ledalero baru memiliki tiga guru besar.

“Kami berharap pengukuhan ini memotivasi para dosen IFTK Ledalero agar meraih gelar profesor,” ujar Keladu Koten.

Dalam pengukuhan tersebut Prof Otto Gusti menyampaikan orasi ilmiah berjudul Legitimasi Kekuasaan Epistemologi Demokrasi dan Daya Pertimbangan Politik: Refleksi Filsafat Politik Bagi Masa Depan Demokrasi di Indonesia.

“Orasi ilmiah ini bukan hanya pergulatan pribadi dan buku-buku, tetapi ziarah panjang, bertemu banyak orang dari latar belakang budaya dan sosial sehingga memperkuat pemahaman tentang demokrasi dan politik,” ujar Otto.

Otto Gusti Ndegong Madung, SVD lahir 20 Mei 1970 di Lengko Elar, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Flores. Sejak 1991 ia mulai belajar filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero.

Tahun 1994 meneruskan studi teologi di Philosophisch-Theologische Hochschule St Gabriel, Modling bei Wien, Austria. Tahun 1999 ia mencapai gelar Magister der Theologie di Austria. Pada Juli 1999, ia ditahbiskan menjadi imam.

Baca Juga :  Organisasi Profesi Wartawan Tolak RUU Penyiaran 

Sebelumnya, pada Juli 1998-September 2000 Otto Gusti menjalankan praktek diakonat dan bekerja sebagai imam pembantu di sebuah paroki di kota Wina, Austria.

Pada Oktober 2000 hingga akhir September 2001 ia bekerja pada Institut Sosial Jakarta, sebuah LSM milik Serikat Jesuit (SJ) yang bergerak di bidang advokasi masyarakat miskin di Jakarta.

Akhir 2001 hingga Februari 2008, Otto belajar filsafat pada Hochschule fur Philosophie, Munchen, Jerman. Pada 8 Februari 2008, ia mempertahankan disertasi berjudul Politik und Gewalt. Giorgio Agamben und Jurgen Habermas im Vergleich (Politik dan Kekerasan: Sebuah Studi Perbandingan tentang Giorgio Agamben dan Jurgen Habermas) di Hochschule fur Philosophie, Munchen. Disertasi itu diterbitkan di Utz Verlag, Munchen.

Otto Gusti diangkat dan dilantik sebagai Ketua STFK Ledalero periode 2018-2022. Pada 20 Agustus 2022, ia diangkat dan dilantik menjadi rektor pertama IFTF Ledalero periode 2022-2026.

Otto Gusti menulis sejumlah buku antara lain Politik. Antara Legalitas dan Moralitas (2009). Selain itu, Politik Diferensiasi versus Politik Martabat Manusia (2011), Post-Sekularisme, Toleransi dan Demokrasi (2017), dan lain-lain.

Sejumlah artikelnya dimuat di jurnal ilmiah. Begitu pula artikel opininya menyebar di sejumlah media nasional seperti Kompas, Media Indonesia, dan lain-lain serta media lokal seperti Pos Kupang, Flores Pos, Odiyaiwuu.com, dan lain-lain.

Selain sebagai dosen, Otto Gusti juga aktif dalam kegiatan advokasi dan pendidikan masyarakat luas dalam isu gender, hak asasi manusia (HAM) dan kekerasan terhadap perempuan barsama Divisi Perempuan, Truk-F, Maumere, dan JPIC SVD Ende. (Ansel Deri)

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts