
KEFAMENANU,- Program Guru Penggerak
yang diinisiasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dianggap dapat menjadi solusi untuk perubahan pendidikan di Indonesia.
“Program ini menjadi salah satu solusi karena guru dapat berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada teman-teman sesama guru lain di wilayahnya,”kata Analis Kebijakan Ahli Muda di PMTK Penjas dan BK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Abdul Munir di Kefamenanu, Sabtu (03/07/2021).
Menurutnya, kualitas pendidikan di Indonesia kalah dari negara-negara lain mendorong Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membuat terobosan baru dengan Program Merdeka Belajar.
“Program Merdeka Belajar digulirkan sejak 2019 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim,”imbuhnya.
Salah satu program merdeka belajar ujar Abdul adalah guru penggerak. Guru penggerak ini masuk dalam episode ke 5 dari program merdeka belajar,”tambahnya.
Diharapkan guru penggerak nantinya akan menjadi pemimpin pembelajaran baik di sekolah maupun lingkungan sekitar sekolah sehingga dapat membuat perubahan dalam proses pembelajaran di sekolah sehingga anak-anak didik dapat belajar dengan nyaman, leluasa bisa mengembangkan kemampuan dengan maksimal.
“Dan guru penggerak betul-betul menciptakan pembelajaran yang memajukan peseta didik untuk belajar seluas-luasnya sesuai tingkat kemampuannya. Sehingga diharapkan kedepan mutu pendidikan kita jauh lebih baik,ungkapnya.
Di Indonesia, guru penggerak baru mulai tahap yang pertama angkatan pertama hingga tahun 2024 dan akan dilaksanakan selama 13 angkatan.
“Selama sampai 2024 diharapkan kita memiliki sekitar 4000 sampai 5000 guru penggerak yang ada di indonesia,”pintanya.
Untuk Propinsi NTT terdapat 4 Kabupaten sebagai sasaran program Guru Penggerak yaitu Kabupaten TTU, Manggarai Timur, Sika dan Ende.
Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) pada Dinas PKO Kabupaten TTU, Mathias Subani mengatakan akan menindaklanjut dengan satu perencanaan yang sistematik untuk mendapatkan out put dari calon guru penggerak sehingga terjadi peningkatan kualitas pelayanan terutama terhadap anak-anak didik.
“Metode yang sementara kita lakukan adalah dalam rangka peningkatan sumber daya manusia untuk mengunakan teknologi dalam proses digitalisasi sehingga siswa benar-benar mampu menjadi pusat obyek pembelajaran. Harapan kita, mereka akan menjadi pilot atau model di sekolah,”ujarnya.






