Kartini: Nyala Api yang Tak Pernah Padam

Kartini: Nyala Api Yang Tak Pernah Padam
Dr Andi Abbas, SH, MH, M. Si

Oleh:Dr. H.Andi Abbas, SH., M.H., M.Si

 

DI BALIK peringatan Raden Ajeng Kartini setiap tahun, tersembunyi kegelisahan yang belum selesai. Kartini bukan hanya sejarah, tetapi nyala kesadaran yang terus menantang cara kita memandang kebebasan dan kemanusiaan.

Kartini di Antara Seremoni dan Makna

Setiap tanggal 21 April, nama Raden Ajeng Kartini kembali dihidupkan dalam berbagai bentuk perayaan. Anak-anak mengenakan kebaya, sekolah menggelar lomba, dan media sosial dipenuhi kutipan inspiratif.

Namun, sering kali Kartini berhenti sebagai simbol, indah, tetapi dangkal. Kita merayakannya, tetapi tidak selalu memahami kegelisahan yang melahirkan pemikirannya.

Padahal, Kartini bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah suara yang lahir dari keterbatasan dan kesunyian.

Dalam ruang sempit yang diatur oleh adat dan kolonialisme, ia berani berpikir melampaui zamannya. Ia tidak puas dengan dunia yang diberikan kepadanya, dan di situlah letak keberaniannya.

Kegelisahan yang Melahirkan Kesadaran

Kartini hidup dalam dunia yang membatasi perempuan, baik secara fisik maupun intelektual. Ia merasakan langsung bagaimana pendidikan menjadi hak istimewa, bukan kebutuhan universal.

Dari situlah muncul pertanyaan-pertanyaan yang sederhana, tetapi mengguncang: mengapa perempuan tidak boleh belajar setinggi laki-laki? Mengapa mereka harus menerima nasib tanpa pilihan?

Surat-surat Kartini menjadi saksi kegelisahan itu. Ia menulis bukan sebagai akademisi, tetapi sebagai manusia yang gelisah melihat ketidakadilan.

Ia mengkritik adat yang mengekang, tetapi juga menyadari ironi kolonialisme yang tidak sepenuhnya membebaskan. Kesadarannya bersifat menyeluruh—melampaui batas budaya dan kekuasaan.

Emansipasi: Lebih dari Sekadar Membuka Akses

Hari ini, banyak yang mengatakan bahwa perjuangan Kartini telah berhasil. Perempuan bisa bersekolah, bekerja, bahkan memimpin.

Namun, emansipasi yang diperjuangkan Kartini tidak berhenti pada akses formal. Ia berbicara tentang kebebasan berpikir, keberanian mengambil keputusan, dan hak untuk menjadi diri sendiri.

Baca Juga :  Ketua DPD RI Dukung Pencarian Bibit Sepakbola dari Kalangan Santri

Masih banyak perempuan yang terjebak dalam tekanan sosial, harus sempurna, harus sesuai standar, harus memenuhi ekspektasi yang sering bertentangan satu sama lain.

Dalam bentuk yang lebih halus, ketidakadilan tetap hidup. Kartini mengingatkan bahwa kebebasan sejati tidak hanya diukur dari apa yang boleh kita lakukan, tetapi dari sejauh mana kita berani menentukan hidup kita sendiri.

Perjuangan yang Juga Milik Laki-Laki

Sering kali emansipasi dipahami sebagai perjuangan perempuan melawan laki-laki. Padahal, Kartini tidak pernah membingkai perjuangannya dalam konflik semacam itu. Ia percaya pada kemanusiaan yang setara, bahwa laki-laki dan perempuan adalah mitra dalam membangun peradaban.

Refleksi ini penting, karena ketidakadilan tidak hanya merugikan perempuan. Struktur sosial yang tidak adil juga membebani laki-laki dengan ekspektasi tertentu: harus kuat, tidak boleh lemah, tidak boleh gagal.

Dalam konteks ini, semangat Kartini adalah pembebasan bersama—membangun ruang di mana setiap manusia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa tekanan yang menindas.

Zaman Baru, Penjajahan Baru

Jika Kartini hidup hari ini, mungkin ia tidak lagi menghadapi pingitan fisik. Namun, ia akan berhadapan dengan bentuk “penjara” yang berbeda: tekanan media sosial, standar kecantikan yang tidak realistis, dan budaya perbandingan yang melelahkan.

Di era digital, kebebasan berekspresi justru sering berubah menjadi kebutuhan akan validasi. Banyak orang – terutama perempuan – merasa harus tampil sempurna demi diterima. Ini adalah bentuk penjajahan baru, yang tidak terlihat, tetapi sangat kuat.

Dalam konteks ini, semangat Kartini perlu diterjemahkan ulang: bukan hanya melawan batasan eksternal, tetapi juga membebaskan diri dari tekanan internal.

Keberanian untuk Jujur pada Diri Sendiri

Salah satu kekuatan terbesar Kartini adalah kejujurannya. Ia tidak menyembunyikan kebimbangannya, ketakutannya, bahkan keputusasaannya. Ia menulis dengan hati yang terbuka, tanpa berpura-pura kuat.

Baca Juga :  Masalah Pengolahan Sawah Berakhir Damai

Di dunia yang sering menuntut kesempurnaan, kejujuran seperti ini menjadi langka. Padahal, dari kejujuran itulah lahir kesadaran. Kartini mengajarkan bahwa menjadi manusia bukan berarti tanpa kelemahan, tetapi berani menghadapi dan memaknainya.

Menyalakan Terang dari Diri Sendiri

Hari Kartini seharusnya bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi tentang membaca kembali diri kita hari ini. Apa bentuk ketidakadilan yang masih kita biarkan?

Apakah kita masih terjebak dalam stereotip? Atau bahkan tanpa sadar, kita ikut melanggengkan batasan bagi orang lain?

Kartini tidak meminta kita menjadi pahlawan besar. Ia hanya menunjukkan bahwa perubahan dimulai dari kesadaran kecil, dari keberanian untuk berpikir, bertanya, dan bertindak dengan nurani.

Kartini yang Tidak Pernah Usai

Kartini bukan hanya milik sejarah. Ia hidup dalam setiap upaya kecil untuk memperjuangkan keadilan, dalam setiap suara yang menolak diam, dan dalam setiap langkah menuju kemanusiaan yang lebih utuh.

Maka, merayakan Kartini bukanlah soal seremoni, tetapi soal keberanian. Keberanian untuk melanjutkan apa yang telah ia mulai: menjadi manusia yang merdeka, berpikir, dan berani mencintai keadilan.

Karena pada akhirnya, Kartini tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu untuk dilahirkan kembali, dalam diri kita.(*).

Dr. Andi Abbas SH, MH, M. Si,  Pemerhati Masalah- masalah Sosial dan Penulis Buku Membangun Generasi Emas Dari Meja Makan Keluarga

 

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts