Ketika parasut-warna bermekaran di angkasa, dan harapan serta semangat terbang di antara tepuk tangan ribuan warga.
Langit Kefamenanu sore itu seakan menjadi kanvas besar, dicelup dengan nuansa warna-parasut yang gemerlap. Udara hangat Timor Tengah Utara membawa desiran angin tipis yang menyapa para penerjun. Tepat di atas Lapangan Oemanu, tepat di depan Kantor Bupati TTU, sebuah momen istimewa tercipta ” Pertunjukan Terjun Payung Perdana”.
Pukul 14.48 WITA, suara tepuk tangan menggema saat payung pertama mengembang di udara. Warga yang telah menanti sejak siang larut ke dalam ekspektasi. Seorang penerjun, mantap mengatur arah, melayang mewah, lalu mendarat mulus di tanah sebuah pendaratan yang bukan sekadar fisik, tetapi simbol harapan yang menyentuh bumi kota.

Satu-persatu, penerjun lain mengikuti. Parasut berwarna menciptakan pola dalam langit merah, putih, biru, hijau rentetan warna yang menjadi lukisan bergerak. Tak ada kegaduhan kecuali sorakan penuh kagum, anak kecil menunjuk ke atas, orang tua mengangkat ponsel, para pemuda diam terpaku, mata berbinar.
“Ini perdana di Kabupaten TTU,” salah satu warga berbisik sambil tersenyum bangga.
Atraksi ini bukan hanya soal keberanian, tetapi persiapan matang. Brigpol Nur Fauziah Anwari Puteri, salah satu penerjun polwan dari Mabes Polri, mengungkap bahwa mereka diterjunkan dari ketinggian 8.000 kaki. Persiapan dilakukan mulai H-1 meninjau lokasi, memperhitungkan kecepatan angin, cuaca, dan memastikan lintasan mendarat aman.
Nur Fauziah sendiri adalah wajah yang tidak asing di dunia terjun payung telah lebih dari 500 kali melakukan penerjunan. Rekan-rekannya, meski jumlahnya lebih sedikit pengalaman, menunjukkan dedikasi tinggi. Ada perasaan gugup, tentu, saat parasut terbuka, tapi rasa itu segera tergantikan dengan ketenangan dan setelah kaki menyentuh tanah, kebanggaan.
Atraksi ini lebih dari sekadar hiburan. Ia menjadi simbol semangat baru Kota Kefamenanu, harapan akan suatu hari yang lebih cerah, dan identitas bersama yang dirayakan lewat aksi spektakuler. Saat penerjun membentangkan bendera lambang Kabupaten TTU, semboyan kota, simbol kepolisian, hingga bendera Provinsi NTT langit dalam sekejap menjadi panggung patriotik.

Dalam pandangan warga, ini bukan hanya atraksi fisik. Ada unsur keindahan, ada unsur ketegangan saat mereka menunggu apakah pendaratan sempurna atau sedikit goyah karena angin. Ada pula rasa bangga, bahwa kota mereka mampu menghadirkan acara sekelas ini.
“Baru sekali ini kami lihat yang begini,” ujar seorang ibu yang membawa anaknya.
“Sangat luar biasa, saya bangga jadi warga Kefamenanu. Coba ini terus ada tiap tahun bukan hanya memperingati ulang tahun kota, tapi jadi ikon kita,”seorang pemuda menambahkan.
Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, menyebut atraksi tersebut akan berlangsung tiga hari berturut-turut, dari 19 hingga 21 September 2025. Undangan terbuka bagi masyarakat alih-alih jadi penonton pasif, mereka diajak merayakan secara langsung, menghirup udara kebersamaan di tengah aksi yang memacu adrenalin.
Hari HUT ke-103 ini tak hanya diwarnai tumpukan kegiatan budaya, pameran, seni, dan musik. Kehadiran atraksi terjun payung membuka bab baru: bahwa Kota Kefamenanu punya kapabilitas dan keberanian untuk melangkah berbeda, untuk memberi ruang bagi hal-hal yang menantang gravitasi baik secara literal maupun simbolis.
Bagi banyak orang, sore itu menjadi kisah yang akan dikenang. Ada kesan pengalaman baru suara angin, warna parasut, sorak warga. Ada pula harapan aktivitas ini bisa menjadi tradisi, memperkaya warna lokal, menarik wisatawan, dan menguatkan identitas Kefamenanu sebagai kota yang tidak hanya biasa saja.






