Kota Malang, ZonaNusantara – Kualitas pelayanan obat bagi pasien peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Rumah Sakit Universitas Islam Malang (RS Unisma), Dinoyo, Kota Malang, menjadi sorotan tajam.
Pasien mengeluhkan lambatnya sistem layanan apotek yang membuat mereka harus menunggu antrean obat hingga berhari-hari tanpa kejelasan.
Kondisi ini dinilai berbanding terbalik dengan mayoritas rumah sakit lain di Kota Malang, yang umumnya langsung menyerahkan obat kepada pasien pada hari yang sama setelah pemeriksaan dokter selesai.
Salah satu pasien rawat jalan, Cahyono, mengungkapkan bahwa karut-marut pelayanan ini bukan kali pertama ia alami, melainkan sudah menjadi persoalan yang berulang.
Pria yang rutin melakukan kontrol bulanan ke spesialis penyakit dalam, dr. H. RM. Hardadi, Sp.PD. ini mengaku belum mendapatkan hak obat dan insulinnya sejak pemeriksaan terakhir pada 4 Juli 2026.
Ketika dikonfirmasi, petugas apotek rumah sakit hanya berdalih bahwa pasokan obat belum tersedia.
“Saya berharap RS Unisma bisa lebih profesional. Jika pemenuhan obat tertunda lama seperti ini, bagaimana dengan pasien yang kondisinya urgen? Keterlambatan obat tentu berpotensi membahayakan keselamatan dan nyawa pasien,” tegas Cahyono, Kamis (11/6/2026).
Keluhan senada juga diungkapkan oleh pasien BPJS lain yang memilih menyembunyikan identitasnya.
Ia mengaku telah melakukan kontrol ke dokter yang sama sejak 13 Mei 2026, namun hingga kini paket obat dan insulin yang menjadi haknya tak kunjung keluar.
Khawatir kondisinya makin memburuk, ia terpaksa merogoh kocek pribadi untuk membeli obat secara mandiri di luar rumah sakit.
“Kalau terus-menerus menunggu obat dari apotek RS Unisma, saya khawatir kondisi kesehatan saya makin drop. Ternyata, keluhan ini tidak hanya dialami saya, banyak pasien lain di sana yang merasakan hal yang sama,” ungkapnya kecewa.
Sampai berita ini diturunkan, pihak manajemen RS Unisma masih bungkam dan belum memberikan keterangan resmi terkait kendala distribusi serta keterlambatan kronis pelayanan obat yang dikeluhkan para pasien tersebut.






