Atambua, Zonanusantara– Komunitas JALA SARA Indonesia kembali menggaungkan semangat persatuan. Pesan itu disampaikan dalam Obrolan Komunitas RRI Pro 1 Atambua, Selasa (9/6/2026).
Dialog bertema “Kerukunan Bukan Hadiah” menghadirkan Ketua JALA SARA Indonesia V. Sintu Lopes dan penyiar RRI Pro 1 Atambua Jeremias Amfotis. Keduanya menekankan bahwa kerukunan bukan datang dengan sendirinya.
“Kerukunan tidak turun dari langit sebagai hadiah. Kerukunan lahir dari sikap saling menghormati, saling memahami, dan kemauan hidup berdampingan dalam perbedaan,” kata V. Sintu Lopes.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan keberagaman suku, agama, ras, budaya, bahasa, dan tradisi. Kekayaan itu hanya jadi kekuatan jika dirawat bersama seluruh elemen bangsa.
Tantangan terbesar saat ini, lanjutnya, bukan keberagaman itu sendiri. Yang lebih berbahaya adalah penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan menurunnya budaya dialog di masyarakat.
“Konflik sosial tidak lahir dari perbedaan suku, agama, atau ras. Konflik lahir dari cara pandang yang keliru terhadap perbedaan tersebut,” tegas alumnus Seminari Lalian Atambua itu.
Ia menambahkan, “Keberagaman tidak pernah menjadi masalah. Masalah muncul saat orang gagal memahami dan menghargai perbedaan. Jika dikelola baik, keberagaman justru memperkokoh persatuan Indonesia.”
V. Sintu Lopes juga menyoroti peran media sosial. Platform digital bisa jadi ruang persaudaraan, tetapi juga rawan jadi ladang hoaks dan provokasi jika tanpa tanggung jawab.
Karena itu, ia mengajak masyarakat meningkatkan literasi digital dan berpikir kritis terhadap setiap informasi. Tujuannya agar tidak mudah terprovokasi isu pemecah belah.
Sebagai komunitas penguat persaudaraan lintas identitas, JALA SARA Indonesia rutin menggelar dialog kebangsaan, seminar, kampanye perdamaian, aksi kemanusiaan, hingga pendidikan toleransi untuk generasi muda.
Khusus di perbatasan Indonesia–Timor Leste, komunitas ini mendorong pendekatan berbasis budaya dan kearifan lokal. Ikatan sejarah dan budaya yang sama dinilai bisa mempererat persaudaraan warga.
“Ketika kita mau mengenal orang lain lebih dekat, ruang bagi prasangka jadi kecil. Dari pengenalan lahir pemahaman, dari pemahaman lahir penghormatan, dan dari penghormatan tumbuh kerukunan,” ujarnya.
Ia menegaskan tokoh agama dan tokoh adat punya peran sentral. Selain jadi panutan moral, mereka juga berfungsi sebagai penengah saat terjadi gesekan sosial.
Generasi muda mendapat perhatian khusus dalam dialog tersebut. Kaum muda harus dilibatkan aktif dalam kegiatan kebangsaan dan toleransi karena merekalah penjaga keberagaman ke depan.
“Generasi muda bukan hanya pewaris bangsa, tetapi juga penjaga keberagaman Indonesia di masa depan,” katanya.
Sebagai contoh, ia mengangkat semangat gotong royong saat bencana. Dalam situasi itu, masyarakat bersatu tanpa mempersoalkan identitas.
“Kemanusiaan selalu mampu mengalahkan sekat-sekat perbedaan. Itulah wajah asli Indonesia yang harus terus kita rawat,” tegasnya.
Menutup dialog, Ketua JALA SARA Indonesia mengajak masyarakat menjadikan keberagaman sebagai modal sosial.
“Indonesia tidak dibangun atas dasar keseragaman, tetapi atas kesediaan hidup bersama dalam perbedaan. Mari perkuat dialog, toleransi, dan gotong royong demi Indonesia yang damai dan bersatu,” pesannya.
Dari Kampung Adat Maslete, Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, JALA SARA Indonesia terus menggaungkan semboyan:
Menjala Hati, Guna Menjaga Negeri, dan Menebarkan Jala Perdamaian ke Seluruh Penjuru Dunia.






