NLR Indonesia Resmi Meluncurkan BodyTalk 2.0

Nlr Indonesia Resmi Meluncurkan Bodytalk 2.0
Ist

JAKARTA, Zonanusantara– NLR Indonesia resmi meluncurkan BodyTalk 2.0 secara zoom, Kamis (21/8/2026).

BodyTalk 2.0 merupakan project yang bertujuan memperkuat pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR), perlindungan dari kekerasan, serta partisipasi bermakna remaja dengan disabilitas dan remaja yang pernah mengalami kusta.

Peluncuran BodyTalk 2.0 mengusung tema “Growing Forward: Suara Remaja, Hak atas Tubuh, Perubahan yang Berkelanjutan”.

Dalam peluncuran tersebut, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia Veronica Tan menegaskan pentingnya investasi pada orang muda, termasuk remaja dengan disabilitas, sebagai bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

“Saya memegang teguh Asta Cita keempat karena ujung tombak kita adalah SDM, anak muda, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda dan penyandang disabilitas,” ungkap Veronica Tan dalam peluncuran BodyTalk 2.0 secara daring pada Kamis (20/8/2026).

Diakui bahwa masih banyak permasalahan dan kasus tentang anak yang terjadi sehingga membutuhkan kolaborasi multi-stakeholder untuk menyediakan satu pintu layanan bagi perempuan, anak dan penyandang disabilitas.

Wamen PPPA Veronica Tan juga mengapresiasi Program Body Talk 2.0 NLR Indonesia yang akan memberikan kompetensi dan know-how terkait pengetahuan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduktif kepada remaja dengan disabilitas dan yang mengalami kusta. Dengan pengetahuan ini, remaja lebih memahami hak dan mengenal risiko dalam mengambil keputusan serta mencari pertoloongan ketika mengalami kekerasan.

Ketua Dewan Pembina Yayasan NLR Indonesia Rahmawati Retno Winarni ikut menegaskan. komitmen NLR Indonesia bahwa setiap remaja termasuk remaja dengan disabilitas dan yang pernah mengalami kusta berhak untuk tumbuh sehat, aman dan bermartabat.

“Melalui Program Body Talk 2.0, kita memperbaharui apa yang telah dicapai pada Body Talk 1.0 sebelumnya. Kita ingin memastikan remaja dengan disabilitas dan kusta memperoleh layanan hak kesehatan termasuk kesehatan reproduksi yang inklusif. Mereka terlindungi dari kekerasan dan memiliki ruang untuk bersuara,” ungkap Rahmawati

Baca Juga :  Tanggapi Persoalan Persekam Metro FC, Wabup Malang Angkat Bicara

Hadir sebagai pembicara dalam peluncuran secara daring ini, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas Jonna Aman Damanik, Sri Roswati dari Direktorat Guru PMPK bidang Kespro Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rr. Weni Kusumaningrum dari Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Konsultan Body Talk 1.0 Mawar Nita Pohan, Youth Champion Wilhelmina Ice dan Program Manager Disability, Equity and Inclusion (DEI) NLR Indonesia Fahmi Arizal.

Selain itu turut berpartisipasi dalam kegiatan daring ini pejabat dari dinas terkait, perwakilan lembaga mitra pembangunan, organisasi penyandang disabilitas (OPD), komunitas pemerhati kusta, mitra pelaksana program dan media.

Salah satu Youth Champion dari Program Body Talk 1.0. Wilhelmina Ice mengungkapkan hak kesehatan termasuk kesehatan reproduksi yang inklusif. Mereka terlindungi dari kekerasan dan memiliki ruang untuk bersuara,” ungkap Rahmawati

Hadir sebagai pembicara dalam peluncuran secara daring ini, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas Jonna Aman Damanik, Sri Roswati dari Direktorat Guru PMPK bidang Kespro Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rr. Weni Kusumaningrum dari Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Konsultan Body Talk 1.0 Mawar Nita Pohan, Youth Champion Wilhelmina Ice dan Program Manager Disability, Equity and Inclusion (DEI) NLR Indonesia Fahmi Arizal.

Selain itu turut berpartisipasi dalam kegiatan daring ini pejabat dari dinas terkait, perwakilan lembaga mitra pembangunan, organisasi penyandang disabilitas (OPD), komunitas pemerhati kusta, mitra pelaksana program dan media.

Salah satu Youth Champion dari Program Body Talk 1.0, Wilhelmina Ice mengungkapkan pengalaman sebelum mengikuti program Body Talk 1.0. la merasa malu dan sulit bertanya kepada siapapun terkait tubuhnya atau menstruasi.

Baca Juga :  Debat Ketiga Paslon Walikota dan Wakil Walikota Batu

“Hal-hal itu masih dianggap tabu. Saya takut salah bicara dan takut dimarahin karena menanyakan sesuatu yg belum pantas dibiarakan,” ujar Ice.

Namun setelah Body Talk 1, Ice mengaku mengalami banya perubahan. la belajar tenang kesehatan reproduksi melalui diskusi, contoh dan berbagi pengalaman dengan teman sebaya. Suasana pelatihan lebih interaktif, terbuka dan tanpa merasa takut dihakimi. Materi ajar pun pun mudah dipahami lewat ilustrasi dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Program Body Talk 2.0 merupakan kelanjutan dari Body Talk 1.0 yang telah memberi manfaat kepada 534 remaja dengan disabilitas, melahirkan 18 youth champion, dan melatih 143 orang tua/pengasuh dan sejumlah lembaga/sekolah di empat kabupaten/kota.

Program Body Talk 2.0 hadir untuk memperkuat pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi bagi remaja dengan disabilitas dan remaja yan gernah mengalami kusta. Program ini menyasar hampir 500 remaja di Banyuwani, Situbondo, Palu dan Kupang selama 2026 hingga 2028.

Program ini akan melibatkan orang muda dengan disabilitas dan yang pernah mengalami kusta sebagai aktor utama, bersama orang tua/pengasuh, sekolah, tenaga kesehatan dan penyedia layanan, organisasi penyandang disabilitas dan organisasi masyarakat sipil, serta pemerintah daerah dan kementerian/lembaga terkait di tingkat nasional.

Strategi kolaborasi ini diharapkan membantu remaja lebih memahami dan menyuarakan hak mereka, terlindungi dari kekerasan, dapat mengakses layanan yang inklusif, aman dan responsif serta memiliki kendali atas tubuh dan masa depan mereka. (Lius Salu)

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts