
Wartawan senior Yunanto berpulang. Guru jurnalis ini meninggal di Samarinda Kalimantan Timur Kamis (8/7) karena sakit.
Kabar duka tersebut membuat wartawan di Malang, merasa kehilangan. Dian, seorang wartawan media online di Batu Jawa Timur, merasa sedih atas kepergian sosok panutan tersebut.
“Ya Allah SWT berikan Surgamu tempat terindah buat Bapak Yunanto. Aku yang belum mumpuni menjadi wartawan sudah ditinggal pergi bapak Yunanto,’ tulis Dian sapaan Eko Sabdianto dalam story’ WA.
Semasa hidupnya, Yunanto dikenal sebagai pribadi yang humanis, rendah hati dan menjadi tempat untuk bertanya. Selain itu, wartawan Harian Surabaya Post tahun 1982 – 2012 ini disapa sebagai guru jurnalis karena ketekunannya membimbing dan melatih wartawan pemula.
Kendati telah pensiun dari Surabaya Post salah satu koran terbesar di Jawa Timur yang terbit setiap sore, namun ia terus berkarya. Tulisannya bersahaja, dengan gaya bertutur yang mudah dipahami. Selain menulis kakek dua anak dengan dua cucu ini acapkali diundang sebagai narasumber di berbagai seminar – seminar.
Kecintaannya terhadap profesi wartawan begitu kuat. Dalam berbagai kesempatan, penasihat PWI Malang Raya periode 2021 -2024 ini, mengatakan, wartawan harus terus menulis sampai memperoleh gelar tertinggi yakni almarhum dan almarhumah. Kini sang guru telah mendapatkan gelar tertinggi itu.
Kepergian Yunanto yang tenang diusianya yang ke 67 tahun mengingatkan kita pada sebuah puisi Chairil Anwar, “Cintaku Jauh di Pulau”. Puisi yang mengesankan ada sesuatu yang belum terselesaikan pada sisa hidup ini, tapi di ujung sana ajal bertakhta dan berkata: tujukan saja perahu ke arahku.






