Pelabuhan Bungku Mulai Bergairah

Pelabuhan Bungku Mulai Bergairah
Dr Andi Abbas, SH, MH, M. Si

Catatan : Yosef N- Morowali

Setelah lebih dari satu tahun mengalami stagnan akibat penguatan darmaga, kini situasinya mulai menggeliat. Pergerakkan roda ekonomi pun mulai tampak bergairah.

Sore itu, langit di Morowali baru saja diguyur hujan. Di tengah cuaca berkabut mendung, tampak kesibukan di pintu masuk darmaga Pelabuhan Bungku, Kabupaten Morowali. Belasan kendaraan roda empat dan roda dua menurunkan calon penumpang kapal laut tujuan Menui dan Kendari Sulawesi Tenggara.

Semua calon penumpang diturunkan di sebuah pembatas yang dipasangi portal tidak jauh darmaga, jaraknya sekitar 200 m. Kendaraan tidak diperkenankan masuk ke darmaga tempat Kapal Motor Penumpang (KMP) Sabuk Nusantara 50 berlabuh. Otoritas Syahbandar membangun pos dilengkapi portal untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan penumpang kapal termasuk aktivitas bongkar muat di darmaga.

Dua orang petugas karcis sibuk melayani pembelian karcis, sementara seorang lagi bernama Arifin berdiri di tengah portal untuk mencegah kendaraan menerobos masuk ke darmaga, sambil mengingatkan bahwa kendaraan hanya sampai di area yang dipasangi portal.

“Penumpang turun di sini saja. Kendaraan tidak diperkenankan masuk ke darmaga,” kata Arifin,’Sabtu (13/7) sore.

Perwira Jaga, Andi Erwin, menjelaskan untuk memperlancar kebutuhan pelayaran, ia dibantu empat personil. Dua orang bertugas di pos, sementara dua orang lainnya, di kantor melayani agen.
“Kebetulan hari ini saya yang bertugas untuk menandatangani Surat Persetujuan Berlayar (SPB),” jelasnya.

Pelabuhan Bungku Mulai Bergairah
Kesibukan Di Darmaga ( Foto : Yosef)

Dikatakan sebelum menerbitkan SPB ia harus memastikan dokumen kapal telah lengkap. Begitu juga dengan manifes penumpang harus sesuai kapasitas kapal. “Kalau kapal berkapasitas 200 penumpang ya tidak boleh ditambah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa bila ditemukan
dokumen kelautannya ada yang telah melampui ketentuan atau ekspayer diminta untuk direvisi menggantinya dengan dokumen yang baru.

“Diperpanjang hari itu juga. Jadi kami harus tanggap. Melayani dengan prima dan cepat. Tidak boleh persulit dan menghambat,”ujar Andi Erwin.

Kepala Syahbandar Bungku, Dr Andi Abbas, SH, MH, M. Si mengatakan akan terus mengembangkan fasilitas pelabuhan demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk saat ini, yang menjadi perhatian adalah bagaimana mengoptimalkan fasiltas yang ada sembari berusaha mengadakan fasilitas lain seperti alat bongkar muat crane darat yang memang sangat di perlukan.

Baca Juga :  Ketua PSMTI dan Pemuka Agama Bersatu dalam Penghargaan untuk Kepemimpinan 10 Tahun Bupati Bone

Menurutnya, ke depan pelabuhan Bungku memiliki prospek dalam meningkatkan ekonomi masyarakat yang tentunya harus ditunjang dengan fasilitas yang memadai. Saat ini lanjutnya, lapangan penumpukan masih sempit. Kendati memiliki lahan yang luas namun strukturnya harus dipadatkan.

“Selain itu gudang yang tersedia ada dua. Yang satu besar, satu kecil,” ungkapnya.

Melihat kemajuan yang signifikan, Andi Abbas menegaskan akan terus berusaha meningkatkan fasilitas pelabuhan dengan mengusulkan penambahan darmaga dan memperluas lapangan penumpukan. Termasuk crane darat minimal dua unit.

Andi Abbas membangun sebuah sinergi yang solid antara pelaku usaha, masyarakat, Syahbandar sebagai regulator dan pemerintah daerah. Empat komponen ini harus bersinergi dalam meningkatkan ekonomi masyarakat mengingat
posisi pelabuhan Bungku, berada di pusat industri besar. Salah satunya yakni Indonesia Morowali Industrial Park (PT. IMIP) dan perusahaan lain yang sedang dibangun. Bila fasilitas pendukung sudah memadai Andi Abbas memproyeksikan ke depan akan terjadi lonjakan yang lebih bessar. Arus logistik dari satu wilayah ke Pelabuhan Bungku begitu juga sebaliknya yang terhubung laut akan lebih murah dan cepat. “Memangkas antrian yang panjang. Juga biaya murah. Kalau dulu logistik dari Kendari. Bayangkan kapan tiba di Bungku,” urai Andi Abbas.

Hingga saat ini sudah ada dua kapal konteiner yang masuk. Ini secara langsung berdampak pada geliat ekonomi di kab. Morowali. Ada biaya logistik yang terpangkas termssuk waktu.

“Begitu pun penumpang yang tadinya tidak ada sekarang di atas 50 ke atas setelah pelabuhan bungku d operasikan. Dari segi penumpang sudah ramai. Ini menunjukkan animo masyarakat sekitar dan pengusaha di bidang kemaritiman sangat baik. Bahkan beberapa perusahaan logistik ada yang sudah datang ke Bungku,”ujarnya.

Baca Juga :  Strategi Baru KPU Bone, Cafe Demokrasi untuk Pilkada yang Lebih Partisipatif

Andi Abbas yang pernah menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Bone memikiki obsesi untuk mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya guna menciptakan peluang usaha bagi masyarakat di sekitar pelabuhan, seperti ojek, buruh pelabuhan atau buruh bagasi penumpang. Peluang usaha ini akan tercipta bilamana pergerakan orang di pelabuhan mulai tampak ramai.

“Pelaku usaha sudah bisa jualan untuk Anak Buah Kapal (ABK) dan calon penumpang”katanya.
.
Sementara itu Capt. KMP Sabuk Nusantara 50, Muslih mengatakan dua bulan terakhir terjadi lonjakan penumpang dari Pelabuhan Bungku, dengan tujuan Menui dan Kendari. Pria yang sudah 25 tahun berprofesi sebagai nahkoda kapal ini mengaku penumpang terbanyak dari Bungku. Ia membandingkan saat pertama membuka jalur perintis Tol Laut, dari Menui ke Bungku, hanya membawa satu penumpang. Berikutnya hanya dua penumpang. “Sekarang ini sudah ada banyak penumpang,”ungkap Muslih ditemui di atas kapal.

Data yang diperoleh dalam manifes kapal terdapat 47 penumpang dewasa,
enam penumpang anak-anak serta empat penumpang yang masih bayi. Penumpang asal Bungku ini ada yang turun di Menui dan tujuan terakhir di Kendari.

Seorang penumpang, Amria mengaku sudah dua kali menggunakan moda transpirtasi laut dari Bungku ke Menui. Perempuan paruh baya ini merasa terbantu dengan kehadiran KMP Sabuk Nusantara 50 karena biaya yang dikeluarkan hanya Rp 45.000 untuk kelas ekonomi. “Biayanya murah. Kalau menggunakan transportasi darat biayanya lebih mahal,” katanya.

KMP Sabuk Nusantara akan berlayar selama 14 jam untuk sampai ke Pelabuhan Menui. Selanjutnya akan berlayar lagi menuju Kendari. Bagi nahkoda kapal ada atau tidak ada penumpang ia terus berlayar.
“Tugas saya hanya berlayar. Ada atau tanpa penumpang,” tutup Muslih yang memulai kariernya sebagai nahkoda kapal pada tahun 1999.

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts