Pesona Gunung Bromo 

Pesona Gunung Bromo 
Menikmati hawa dingin di Gunung Bromo

Catatan: Hendrika L. Wariati

Malam makin larut. Rembulan enggan menampakkan diri. Hanya temaram lampu jalanan menerangi sebagian bumi yang sudah terlelap.

Sementara halaman parkir Kontena dipadati rombongan komunitas Herbalife, yang datang dari berbagai wilayah. Gresik, Lembang Bandung, Jakarta, Malang dan Batu sebagai tuan rumah, penyelenggara acara. Para peserta akan menikmati keindahan alam Gunung Bromo, yang terkenal eksotik di seluruh penjuru dunia.

Perjalanan dimulai. Dua Hiace putih beriringan  menerobos jantung kota Batu menuju desa Tumpang. Menyusuri aspal gelap dan berliku, yang dibangun pemerintah untuk mempermudah pengguna jalan menuju lokasi. Hiace putih meluncur dengan tenang, tanpa kendala. Tiba di perhentian Desa Poncokusumo, Hiace menyerahkan trip estafet kepada Jeep Hardtop. Kendaraan ini diyakini mampu menguasai medan perjalanan berbukit.

Perjalanan wisata ini dikemas dalam bentuk vacation lokal, dengan tema “Healing to Bromo”. Misi ini digagas para leader komunitas Herbalife. Khusus wilayah Malang dikomandani Maria Ani dan Budi Hermawan.

Sekitar pukul tiga dini hari, rombongan tiba di area puncak. Desiran angin pegunungan, menyapu perlahan, mengalirkan hawa yang sangat dingin, membuat kulit makin merinding. Semua peserta bersigap menebalkan pakaian, hingga berlapis-lapis. Meski demikian, hawa gunung mampu menembus tulang.

Bersamaan, fajar masih mengintip, menanti saat untuk menyingsing. Sambil menunggu waktu, rombongan beristirahat di warung kopi, untuk menghangatkan tubuh yang sedari tadi menggigil. Deretan warung kopi sungguh menjadi tempat yang nyaman, menawarkan kehangatan.

Desir angin makin kencang. Udara makin menggigit. Untuk mengusir dingin, perapian pun disiapkan. Budi Hermawan dan kawan-kawan, menumpangkan tangan di atas tungku arang sambil berdiskusi untuk acara vacation selanjutnya.

Baca Juga :  One-Day Tour in Phi Phi Island: Exploring the Natural Beauty of Thailand

Pramusaji pun segera menyiapkan minuman. Segelas teh, kopi dan jahe panas terhidang di setiap meja. Kepulan aromanya menyatu dengan aroma pinus, yang melambai menyambut kedatangan wisatawan, domestik dan mancanegara, yang terbilang ratusan.

Waktu merayap perlahan. Angin bertiup makin kencang. Bayang -bayang sunrise seakan mendesak segera dinikmati, oleh ratusan pasang mata yang penasaran.

Matahari diperkirakan segera terbit. Rombongan dan para wisatawan segera beranjak, menuju puncak. Beriringan mendaki bukit. Menapaki setiap tangga membuat nafas tersengal. Namun ini tak menyurutkan semangat untuk bisa melihat terbitnya sang surya lebih dekat.

Matahari adalah tamu istimewa

Sekitar pukul lima pagi, langit yang tadinya gelap gulita mulai diwarnai siluet di ufuk timur. Semburat jingga memantul, menembus gunung dan pepohonan. Panorama eksotika alam semakin membuat decak kagum, semua mata yang memandang.

Ratusan kamera mulai membidik dari berbagai sudut. Tak ingin melewatkan pemandangan ajaib, yang tak bisa disaksikan di kota, karena terhalang tingginya gedung pencakar langit.

Sang surya perlahan merangkak naik, udara semakin menghangat. Semburan hawa panas semakin terasa menghangatkan kulit, yang semalam berselimut kabut.

Merasa puas menikmati suasana dari puncak Bromo, semburat jingga di ufuk timur, deretan bukit nan elok, hamparan pasir bak lautan, dan kawah yang mengepulkan aroma belerang. Rombongan segera menapaki tangga turun menuju Jeep Hardtop. Tak lupa menggenggam Edelweis, bunga abadi yang bisa bertahan lima tahun, sekalipun terpotong dari dahannya.

Baca Juga :  Mengintip Kemewahan Casino Marina Bay Sands Singapura

Hari semakin panas. Puluhan mobil serupa menderu memadati jalanan menuju lembah. Berkelok kelok. Melewati lautan pasir yang membuat nyali teruji. Gesekan pasir dan roda-roda Jeeb yang menderu kencang, membuat jalanan seperti menjerit, menderit-derit.

Sampailah di kawasan kawah, yang tersohor di mancanegara. Puluhan kuda sudah menanti wisatawan, yang ingin merasakan kepulan asap dan aroma belerang. Bila tak ingin berkuda, wisatawan bisa berjalan kaki sekitar tiga kilometer untuk mencapai bibir kawah.

Budi Hermawan memandu tim dalam acara ceremonial untuk branding. Setelah itu peserta  bebas “berenang” di lautan pasir, yang terhampar luas, sekitar sepuluh kilometer persegi. Membentang mengelilingi Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Widodaren, Gunung Kursi dan Gunung Watangan, berada pada ketinggian 2100 m dpl. (sumber go explore Bromo)

Sekitar pukul sepuluh, rombongan melanjutkan perjalanan ke Bukit Teletubbies. Melewati hamparan rumput yang mulai mengering. Pohon adas, ilalang dan paku-pakuan dapat dinikmati di sepanjang jalan. Menghias lautan pasir yang mengepulkan debu saat ditiup angin.

Tibalah di Bukit Teletubbies, yang tak kalah elok. Dikelilingi tebing hijau mempercantik pemandangan. Lagi-lagi membuat decak kagum wisatawan.

Matahari menunjukkan keakuannya. Sorotnya kian panas memanggang kulit. Sehingga rombongan tak ingin berlama-lama berada di sana.

Sayonara Bromo

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts