Petani Dituding Jadi Biang Kerok Kelangkaan Gas Elpiji, Ini Penjelasannya

Petani Dituding Jadi Biang Kerok Kelangkaan Gas Elpiji, Ini Penjelasannya

 

Bone – Kelangkaan gas elpiji yang  terjadi di berbagai daerah belakangan ini termasuk kabupaten Bone  dalam dua pekan terakhir ini mulai memunculkan beragam tudingan diantaranya kepada  sektor pertanian menjadi salah satu penyebab utama meroketnya konsumsi gas elpiji, bahkan hingga memicu kelangkaan.

Dugaan ini muncul lantaran maraknya penggunaan gas elpiji untuk keperluan pertanian yang seharusnya tidak menggunakan bahan bakar tersebut. Sejumlah petani  beralih menggunakan gas elpiji untuk menggerakkan mesin pompa air, pengering hasil panen, hingga alat pertanian lainnya. Padahal, sesuai dengan peruntukannya, gas elpiji bersubsidi seharusnya hanya dinikmati oleh rumah tangga dan usaha mikro.

Seperti yang diungkapkan oleh, Maryam, salah seorang Ibu rumah tangga, warga kelurahan Macanang kecamatan Tenete riattang barat kab. bone sulsel,menyebutkan bahwa selama para petani mulai menggunakan gas elpiji 3 kilo untuk keperluan pertaniannya , kebutuhan gas untuk rumah tangga mulai sangat sulit.

” selama petani beralih ke gas untuk digunakan di sawahnya, kita selalu kesulitan mendapatkan gas di beberapa pangkalan karena kebanyakan petani menggunakan lebih dari dua  tabung gas ” ungkap, Maryam, Minggu ( 02/98)

Baca Juga :  Wakil Bupati TTU Dorong Kefamenanu Jadi Kota yang Bersih dan Dinamis

Bahkan para IRT dan  beberapa usaha gorengan  gerobak mengeluhkan kelangkaan gas elpiji selama petani juga ikut menggunakan gas untuk keperluan pertanian. ” kami harus keliling mencari  , kesana kemari pak semua pangkalan kosong dan juga semua alasannya  kosong karena ada beberapa petani belinya lebih dari dua hingga 3 tabung ” jelas, Mas Tri,salah seorang  pedagang, gorengam gerobak.

Salah seorang petani dari  kecamatan Palakka , Bakri , mengakui jika  saat ini rata-rata petani menggunakan  gas elpiji untuk keperluan pompa pengairan  memang ada. “tak bisa dipungkiri pak saat rata-rata petani sudah beralih ke gas elpiji untuk pompa air, terutama di daerah yang listriknya kurang stabil , apalgi saat ini dolar juga sulit didapatkan ” jelasnya.

Terkait dengan  kelangkaan Gas  saat ini beberapa  masyarakat menilai jika hal ini adalah  bersumber dari kelangkaan solar  dan  banyaknya penyalah gunaan pemanfaatan BBM subsidi sehingga petani yang biasanya menggunakan solar utk keperluan pertanian kini beralih ke gas dan berdampak keras ke kebutuhan dapur.

Baca Juga :  Di Akhir Masa Jabatan Wali Kota Malang Launching Tower Tugu Tirta

” ya beginilah jika pengawasan BBM khususnya solar kurang oleh pihak terkait sehingga BBM yang seharusnya  ada jatah dan hak petani disalah gunakan oleh  pihak- pihak yang tak bertanggung jawab  sebagai mafia BBM dan dijual kembali keluar hingga petani beralih ke gas ” ungkap Arifin, salah seorang pengamat lokal  Bone ya mana prihatin dengan kelangkaan  Gas dan solar di Bone saat ini.

Kelangkaan Gas Elpiji dan BBM ini  seharusnya sudah segera ditangani oleh pihak terkait khususnya oleh pemerintah Kabupaten Bone untuk turun tangan langsung  dan menyelesaikan kelangkaan yg sudah berlangsung beberapa pekan ini, pihak APH juga diminta tegas menindak pemain dan pelaku yg telah menyalah gunakan BBM bersubsidi dgn menindak tegas para mafia BBM  yang juga penyebab utama petani beralih dari solar ke gas Elpiji. ( subaer)

 

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts