
Satu dari Sekian Mimpi
Oleh : Kimberly Harefa
Kembali aku menikmati indahnya cakrawala
Sambil menyaksikan berpulangnya mentari
Di sini, tempat biasa aku bercengkrama
Dengan mimpi dikemudian hari
Anganku selalu berandai-andai
Kelak bisa menjadi yang berguna
Meski keterbatasan yang dimiliki
Itu bukan penghalang, bukan?
Kuhabiskan masa sebelum dewasaku
Bersama dengan titipan Tuhan yang hebat
Aku masih beruntung
Karena masih diberi akal yang sehat
Kupandangi mereka satu per satu
Ada banyak pasang mata yang juga menatap dengan tulus
Hati semakin terenyuh
Bisakah aku menggandeng tanganmu, kawan?
Aku tak pernah berjanji untuk selalu bersamamu
Karena kita pasti akan berpisah pada masanya
Entah salah satu dari kita berhasil berjuang
Atau malah berpulang
Terima kasih karena sudah mengetuk pintu hatiku
Menawarkan pilihan untuk menjadi ciptaanNya yang baik
Tapi memang manusia tempatnya salah
Terkadang aku pun pernah khilaf
Kulirik mentari yang perlahan mulai menghilang
Aku tersenyum
Betapa indah karyaMu, Tuhan
Semoga ini bukan kali terakhir aku menatapnya
Aku bergegas masuk
Serta merta kubawa mimpi dalam anganku
Berharap akan terwujud
Dan bukan hanya sebagai pelengkap tidurku
Ya,
Mimpi dari sekian mimpi
#HanyaKataKim
17-5-20
Penulis : Pecinta sastra. Aktif menulis di media
***
Makan Terakhir
Oleh Hendrika LW
Saat itu aku memulai kehidupan baru. Aku mengenal lawan jenis secara privasi, saat sama-sama mencari makan di tempat yang asri. Benno, cowok bertubuh tegap dan berbulu lebat, yang jadi idola para gadis. Kami hidup bersama tanpa pesta perkawinan. Di dunia kami insting cinta sudah cukup. Aku melahirkan tiga bayi yang tambun dan sehat.
Alam tak henti mencumbuiku dengan kehangatan. Aku melahirkan lagi. Melahirkan lagi. Melahirkan lagi. Kehidupan kami sangat bahagia. Rumah bambu yang nyaman, lahan kebun yang luas, membuat kami makmur.
Entahlah, hari itu mungkin sudah naas kami. Pantas saja sejak semalam aku gelisah, firasatku tak enak. Pagi itu seperti biasa, nyonya baik hati menaruh seember makanan sisa di bawah pohon mangga. Anak-anak segera kupanggil sarapan.
“Wah, enak sekali makanan ini, ya Bu.” Kami makan dengan lahap. Tak kusangka, ini adalah makanan terakhir kami. Beberapa jam kemudian semua terkapar, termasuk aku. Sejak hari itu, rumah nyonya sepi dari suara cericit kami.
Penulis : Wartawan, pegiat sosial dan penulis sastra
***
Balada Seorang Pelaut
Yosef Naiobe
Katanya cinta seorang pelaut tercecer di mana mana. Dalam satu hari bisa 1000 janji.
Entah berapa janji dibuat dalam seminggu.
Janji janji itu dilarung melalui
Hempasan gelombang,
dan hembusan angin
Atau….
Bisa ditambat di setiap persinggahan
Saat kapal berlabuh,
Pelaut..
Oh…
Pelaut
Menjaring nafkah dengan menerjang laut
Luasnya samudra mengajarimu
Tentang banyak hal. Tapi satu hal
Kau insan yang perkasa
Sabar menghadapi badai
Sabar menahan rindu.
Sabar menantikan fajar
Setelah sekian lamanya terombang ambing
dalam pekatnya malam
Pelaut
nasibmu mengharu biru
Kesetiaanmu lebih dalam
dari laut yang kau seberangi
Menantikan seorang kekasih
Bagai pelabuhan agar
Kau bisa menambatkan
Kapal cintamu
Dalam buritan penuh cerita
Penulis : Wartawan dan penulis sastra






