
Kimberly Harefa
Entah kapan tepatnya
Isi ruang obrolan kita menjadi sepi layaknya tak berpenghuni
Aku rindu,
Pada dirimu yang dulu
Tak pernah ada kata bosan
meski seberapa sering kau menceritakan hal yang sama
Tak apa; aku suka.
Ceritakan saja bagaimana debu ingin berteman denganmu
Kita sempat merayu waktu untuk menghadiahkan temu
Sang waktu mengizinkan.
Aku ingat mata itu, lembut
Membuatku merasa menjadi putri
tak bersepatu
Namun,
Seperti dongeng Cinderella yang harus meninggalkan sepatunya
tepat di jam 12 malam
Aku pun harus meninggalkan kebiasaan yang pernah
kita bingkai bersama
Memulai kebiasaan baru,
mencari jalan agar kisah ini
tak pernah menjadi kenangan
Tak apa kan?
Maaf jika kukatakan sekali lagi,
aku rindu.
Tapi sepertinya kali ini rinduku berbeda, ada getaran setiap kuukir dengan tinta hitam
Rasa takut tak luput menggodaku
Berbisik jika ada rindu yang mulai tak berbalas?
Ah, entahlah
Ada banyak hal yang semestinya kupikirkan
Berbenah diri untuk menjadi wanita Surgamu, mungkin?





