Sengkarut Seleksi Mandiri UB 2026: Dari Misteri Rapor 89 Kedokteran hingga Dugaan Kebohongan Publik

Sengkarut Seleksi Mandiri Ub 2026: Dari Misteri Rapor 89 Kedokteran Hingga Dugaan Kebohongan Publik

 

Malang, ZonaNusantara – Ruang digital kembali diguncang polemik panas terkait transparansi sistem penerimaan mahasiswa baru di Universitas Brawijaya.

Belum reda sorotan publik atas lolosnya seorang peserta Seleksi Mandiri Universitas Brawijaya (SMUB) jalur nilai rapor tahun 2026 di Program Studi Kedokteran dengan rata-rata nilai hanya 89, kini bola liar isu tersebut menggelinding pada dugaan manipulasi informasi dan ketidakpastian parameter kelulusan.

Sengkarut Seleksi Mandiri Ub 2026: Dari Misteri Rapor 89 Kedokteran Hingga Dugaan Kebohongan Publik
Tangkapan Layar Unggahan Pengumuman Hasil Tes Smub

Geliat protes ini kembali memuncak setelah akun Instagram komunitas @mababrawijaya2026 mengunggah ulang klaim seputar nilai “tidak biasa” untuk ukuran salah satu program studi paling kompetitif di Indonesia tersebut.

Standar tinggi Fakultas Kedokteran UB yang biasanya menuntut nilai mendekati sempurna, membuat angka 89 seketika memicu skeptisisme massal di kalangan pejuang perguruan tinggi negeri (PTN).

Merespons kegaduhan yang kian meruncing, pihak manajemen kampus melalui Koordinator Penerimaan SMUB, Arif Hidayat, sebenarnya telah memberikan penjelasan resmi. Namun, langkah klarifikasi ini justru membuka babak baru dalam kontroversi tersebut.

Unggahan klarifikasi yang menyertakan tautan (link) berita dari portal ZonaNusantara.com disinyalir tidak mencerminkan isi sebenarnya dari produk jurnalistik tersebut.

Muncul indikasi kuat adanya upaya penggiringan opini atau pembohongan publik melalui penambahan narasi sepihak yang sengaja disisipkan dalam narasi di akun media sosial tersebut.

Baca Juga :  Kuliah Umum Uniasman Urai Penanganan Sengketa Lingkungan Hidup

Disparitas antara pernyataan resmi panitia dengan narasi yang beredar di jagat maya inilah yang kini memantik mosi tidak percaya dari warganet.

Gelombang protes tidak berhenti pada masalah misinformasi. Akun @arkanaglobal secara terbuka menyampaikan keberatan mendalam atas arah kebijakan afirmasi yang diterapkan oleh panitia seleksi.

“Saya tidak setuju hafidz diberi jalur sendiri, kecuali untuk prodi Al-Qur’an atau sejenisnya. Kedokteran mestinya prestasi bidang biologi yang diukur. Menurut saya ini termasuk SARA,” tulisnya.

Nada kekecewaan serupa diledakkan oleh akun @yustinuspaembonan. Ia mempertanyakan relevansi logis dari sistem pembobotan nilai yang dianggap mengesampingkan esensi ilmu medis.

“Masa iya hanya karena hafal Qur’an bisa lolos, padahal sama sekali tidak ada hubungannya dengan ilmu kedokteran,” cetusnya.

Di sisi lain, sengkarut ini juga menguliti borok sistemik dari apa yang disebut sebagai “Jalur Rapor”. Pengalaman pahit dibagikan oleh akun @eka.orto, yang membeberkan inkonsistensi penilaian panitia saat masa sanggah. Anaknya yang mengantongi nilai rapor lebih tinggi dari teman satu sekolahnya di fakultas yang sama, justru dinyatakan tidak lolos.

Baca Juga :  Diduga Sistem Amburadul, Seleksi Mandiri Universitas Brawijaya 2026 Melukai Nalar Publik

Alasan pihak universitas? Peserta yang lolos memiliki kuantitas sertifikat yang lebih banyak.

“Lucu sekali. Kalau begitu, usul buat Universitas Brawijaya yang terhormat, penerimaannya semua dikasih judul ‘Penerimaan Mandiri Prestasi’ saja, tidak perlu dibeda-bedakan. Toh yang diterima yang memiliki prestasi saja walaupun rapornya lebih jelek,” sindir akun @eka.orto.

Kasus SMUB 2026 ini menjadi pemantik penting atas evaluasi jalur mandiri PTN secara nasional. Ketika “Jalur Rapor” tidak lagi murni mengukur performa akademik di sekolah, melainkan bergeser menjadi ajang adu banyak sertifikat non-akademik atau kuota afirmasi tertentu tanpa parameter kelulusan yang transparan, maka akuntabilitas lembaga pendidikan tinggi dipertaruhkan.

Hingga berita ini diturunkan, publik masih menunggu respons dan evaluasi menyeluruh dari otoritas Universitas Brawijaya untuk membersihkan spekulasi yang terlanjur mencoreng proses seleksi akademis ini.

 

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts