JAKARTA, ZONANUSANTARA— Tiga warisan dokumenter Indonesia resmi tercatat dalam Memory of the World Committee for Asia and the Pacific Regional Register UNESCO. Penetapan itu diputuskan dalam Sidang 11th UNESCO MoWCAP General Meeting yang digelar di Jakarta.
Ketiga warisan tersebut adalah Bo’ Sangaji Kai, Kidung Bhuwana Wināśa, dan Koleksi Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin — Jejaring Sastra Asia Tenggara dalam Koleksi Sastra Modern.
Dari total 21 warisan dokumenter dari 10 negara yang diregistrasi dalam sidang tersebut, Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah penetapan terbanyak. Indonesia sendiri mengusulkan lima warisan, dan tiga di antaranya berhasil lolos.
Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sekaligus Ketua Memory of the World Indonesia, Mego Pinandito, menyebut capaian ini sebagai bukti komitmen Indonesia dalam pelestarian warisan dokumenter.
“Kepercayaan UNESCO MoWCAP kepada Indonesia melalui ANRI untuk menjadi tuan rumah adalah sebuah kehormatan dan bentuk penghargaan dunia terhadap pelestarian warisan dokumenter di Indonesia,” ujar Mego.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh nominator dan Sekretariat MoW Indonesia yang telah memperjuangkan warisan dokumenter Indonesia hingga masuk register UNESCO MoWCAP.
Warisan pertama, Bo’ Sangaji Kai, merupakan sumber primer penting mengenai sejarah Kesultanan Bima, hubungan diplomatik dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara, serta catatan autentik letusan Gunung Tambora pada 1815.
Naskah ini juga menyimpan informasi berharga mengenai tradisi pemerintahan Kesultanan Bima, termasuk keberadaan Sultanah dan perlindungan hukum bagi perempuan.
Nominasi diajukan oleh Perpustakaan Nasional RI, Samparaja Museum Foundation, dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Warisan kedua, Kidung Bhuwana Wināśa, menghadirkan perspektif lokal mengenai sejarah politik, diplomasi, dan perlawanan terhadap kolonialisme Belanda yang melibatkan Kerajaan Bali dan Lombok.
Sebagai satu-satunya kidung tradisional Bali yang diketahui mendokumentasikan peristiwa tersebut, naskah ini memiliki nilai penting dari sisi sastra dan sejarah. Tradisinya masih hidup hingga kini melalui praktik pelantunan pada Hari Raya Saraswati.
Nominasi diajukan oleh Perpustakaan Nasional RI, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Badung, Griya Agung Mandara Pemaron, dan Griya Gede Belayu.
Warisan ketiga berasal dari Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, yakni arsip Jejaring Sastra Asia Tenggara dalam Koleksi Sastra Modern.
Digagas H.B. Jassin sejak 1930-an, koleksi ini merekam perkembangan kesusastraan modern serta hubungan intelektual dan kultural antarsastrawan di Asia Tenggara melalui korespondensi, catatan kegiatan, dan berbagai arsip kesusastraan. Nominasi ini diajukan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta.
Ketiga warisan tersebut menghadirkan keragaman sumber sejarah Indonesia. Bo’ Sangaji Kai merekam sejarah pemerintahan dan hubungan antarkawasan, Kidung Bhuwana Wināśa menyimpan ingatan sejarah lewat tradisi sastra Bali, sedangkan koleksi PDS H.B. Jassin mendokumentasikan jejaring intelektual dan kesusastraan Asia Tenggara.
Sebagai tuan rumah MoWCAP General Meeting ke-11, Indonesia melalui ANRI turut memperkuat kerja sama negara-negara Asia dan Pasifik dalam mengidentifikasi, melindungi, dan mempromosikan warisan dokumenter.






