
Malang- Warga desa Pandanlandung, kecamatan Wagir, kabupaten Malang, Jawa Timur mengadakan perhelatan ruwatan Bersih Desa atau Murwakala Desa. Minggu (28/8).
Kepala Desa Pandanlandung, Wiroso Hadi menjelaskan acara bersih desa ini dilaksanakan turun temurun sejak jaman dahulu. Kegiatan semacam ini kata Wiroso Hadi, biasanya diadakan setiap enam tahun sekali pada bulan Suro. Namun pada masa jabatannya dilaksanakan setiap dua tahun, bergantian dengan karnaval.
“Sejak saya kecil, ya sejak jaman nenek moyang kita, acara seperti ini sudah ada. Biasanya enam tahun sekali. Tapi selama masa jabatan saya, diadakan setiap dua tahun.” jelasnya
Lanjut Wiroso, bersih desa ini dimaksudkan untuk memohon keselamatan dan ketentraman bagi seluruh masyarakat. Ritual ini bisa memberi dampak psikologis warga yakni ketenangan dan rasa percaya mendapat keselamatan.
“Bersih desa ini untuk memohon kepada Allah, keselamatan dan ketentraman bagi seluruh masyarakat. Dengan demikian warga percaya sudah mendapat keselamatan.” tambahnya
Rangkaian acara dimulai dengan pementasan seni Bantengan dan Campursari, yang menjadi ikon desa Pandanlandung. Juga diadakan doa bersama yang dipusatkan di Punden (makam) desa.
Esuk harinya, warga mengadakan perarakan ancak, semacam tempat berisi aneka makanan, yang dibuat sesuai kreativitas. Ada bentuk kuda putih, ogoh Ogoh, bunga dan sebagainya. Ancak ini diusung menuju balai desa, diiringi para penari. Isi ancak kemudian diperebutkan warga setelah didoakan, dengan makna berbagi rejeki.

Riska Aulia, salah satu pengiring ancak mengatakan sangat senang terlibat dalam kegiatan ini.
“Saya sudah tiga kali ikut acara ini. Rasanya senang sekali, wow gitu.’ ucapnya
Kegiatan yang berlangsung selama beberapa hari ini, melibatkan 38 RT dan 7 RW dari seluruh wilayah desa, yang memiliki sekitar 10.000 penduduk.
Nursanto, ketua RT 16 menyampaikan, sangat bersyukur karena warga sangat kompak dan saling mendukung, baik saat persiapan hingga pelaksanaan.
“Alhamdulilah, warga sangat kompak dan saling mendukung, sejak persiapan yang hanya empat hari, sehingga dapat terlaksana dengan baik.” katanya
Sabtu malam, dilanjutkan pagelaran wayang kulit Suko Budoyo, yang dibawakan dalang Ki Hadi Siswoyo, asal Kalipare Malang. Dengan lakon Semar Murwakala Desa.
Sebagai penutup acara, ditampilkan Terbangan Al Banjari serta pengajian, di depan balai desa.
Selanjutnya orang nomor satu di Desa Pandanlandung, mengharapkan budaya ini tetap dilestarikan agar tidak punah dan ditata lebih baik lagi.
“Saya berharap budaya ini tetap dilestarikan sampai kapan pun agar tidak punah, dan ditata lebih baik lagi.” pungkasnya






