KENDARI, 10 Mei 2026 — Di tengah semakin kuatnya perhatian dunia terhadap ekonomi biru, keselamatan pelayaran, dan geopolitik maritim, sebuah buku strategis berjudul Nautika dan Masa Depan Maritim Indonesia karya Capt. Sorindra segera hadir untuk publik Indonesia.
Buku setebal sekitar 250 halaman ini bukan sekadar buku nautika biasa. Ditulis langsung oleh praktisi pelayaran dan kesyahbandaran, karya ini memadukan pengalaman lapangan, regulasi internasional, dinamika pelabuhan modern, hingga refleksi mendalam tentang masa depan Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia.
Capt. Sorindra, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Seksi Kesyahbandaran KUPP Kelas I Molawe, Sulawesi Tenggara, menghadirkan perspektif autentik dari dunia pelayaran nasional—mulai dari geladak kapal hingga ruang kebijakan negara.
“Indonesia adalah poros maritim dunia. Masa depannya dimulai dari laut yang kita kelola hari ini,” tulis Capt. Sorindra dalam salah satu bagian bukunya.
Melalui prolog bertajuk Indonesia dan Takdir Laut, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa laut bukan sekadar ruang geografis, tetapi fondasi peradaban, jalur ekonomi, sekaligus penentu masa depan bangsa.

Buku ini dibagi ke dalam enam bagian besar yang membahas secara komprehensif berbagai isu strategis kemaritiman Indonesia, antara lain:
Sejarah maritim Nusantara dan pengantar ilmu nautika Teknologi pelayaran modern dan sistem navigasi Keselamatan pelayaran serta standar internasional IMO
Tata kelola pelabuhan dan transformasi digital smart port Illegal fishing, keamanan laut, dan tantangan lingkungan
Revolusi teknologi maritim berbasis AI dan autonomous ship.
Refleksi pengalaman nyata seorang syahbandar di lapangan. Tidak hanya mengulas aspek teknis, buku ini juga menyuarakan pentingnya reformasi birokrasi maritim, profesionalisme pelaut, serta pembangunan sumber daya manusia kelautan sebagai bagian dari menjaga kedaulatan nasional.
“Keselamatan pelayaran bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi bagian dari menjaga kehormatan bangsa maritim,” tegas Capt. Sorindra.
Dalam buku tersebut, Capt. Sorindra juga menyoroti perubahan besar industri pelayaran global yang kini bergerak menuju era digitalisasi, kecerdasan buatan, dan pelabuhan pintar. Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi kekuatan maritim dunia apabila mampu memperkuat logistik nasional, modernisasi pelabuhan, dan integritas tata kelola laut.
“Pelaut bukan hanya penggerak kapal, tetapi penjaga jalur ekonomi dan kedaulatan negara di laut,” tulisnya.
Keunggulan utama buku ini terletak pada pendekatan praktis dan aplikatif. Pembaca tidak hanya memperoleh teori nautika dan regulasi internasional, tetapi juga kisah nyata, studi kasus lapangan, serta pengalaman langsung dari dunia kesyahbandaran dan inspeksi kapal.
Buku Nautika dan Masa Depan Maritim Indonesia dirancang untuk menjadi referensi penting bagi:
Taruna dan mahasiswa kemaritiman
Pelaut dan praktisi pelayaran
Akademisi dan peneliti
Pengambil kebijakan sektor maritim
Masyarakat umum yang peduli masa depan laut Indonesia
Menurut Capt. Indra, pada tahap penerbitan awal, buku ini akan dicetak sebanyak 1.000 eksemplar. Buku tersebut direncanakan didistribusikan secara luas kepada para pelaku dunia kesyahbandaran di seluruh Indonesia, kementerian dan lembaga terkait sektor kelautan dan transportasi laut, perguruan tinggi pelayaran dan kemaritiman, hingga kampus-kampus umum yang memiliki perhatian terhadap perkembangan ilmu nautika dan ekonomi maritim nasional.
Distribusi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memperluas literasi kemaritiman serta mendorong lahirnya diskusi akademik dan kebijakan yang lebih serius mengenai masa depan laut Indonesia.
“Buku ini saya harapkan tidak hanya dibaca di lingkungan pelayaran, tetapi juga menjadi bahan refleksi nasional tentang bagaimana Indonesia memandang laut sebagai kekuatan strategis bangsa,” ujar Capt. Indra.
Sampul buku menampilkan ilustrasi kapal kontainer, aktivitas bongkar muat peti kemas, dan suasana pelabuhan modern yang merepresentasikan transformasi sektor maritim nasional menuju era globalisasi dan teknologi.
Saat ini buku masih memasuki tahap akhir penyempurnaan tata letak dan editorial sebelum resmi diterbitkan dalam waktu dekat.
“Saya ingin buku ini menjadi kontribusi kecil bagi generasi muda maritim Indonesia agar semakin mencintai laut dan memahami bahwa masa depan bangsa ini sangat ditentukan oleh cara kita mengelola laut,” ujar Capt. Sorindra dari Jakarta.
Dengan hadirnya Nautika dan Masa Depan Maritim Indonesia, Capt. Sorindra berharap lahir kesadaran baru bahwa laut bukan halaman belakang Indonesia, melainkan pusat peradaban, ekonomi, dan masa depan bangsa. ***






