Anak Sungai Brantas Disebut Penyebab Banjir Bandang di Kota Batu

Anak Sungai Brantas Disebut Penyebab Banjir Bandang Di Kota Batu
Foto : Toski D
Anak Sungai Brantas Disebut Penyebab Banjir Bandang Di Kota Batu
Foto : Toski D

MALANG– Banjir bandang yang melanda kota Batu dan Malang Jawa Timur yang terjadi beberapa waktu lama ini berasal dari salah satu anak sungai Brantas.

Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, Raymond Valiant, dalam rilisnya, Jumat (12/11) menyatakan banjir yang menelan korban jiwa itu terjadi bukan di sungai utama Kali Brantas, melainkan di alur kecil yang terbentuk secara alami dan merupakan aliran dari lereng Gunung Arjuna.

“Banjir itu dari salah satu alur anak sungai Brantas, bukan di sungai utama Kali Brantas. Alur itu di musim kemarau cenderung kering dan ada aliran air pada saat musim hujan. Sehingga secara alami kedalaman dan lebar alur pun cenderung dangkal dan sempit,” kata dia.

Raymond menjelaskan, di alur kecil yang terbentuk secara alami dan merupakan aliran dari lereng Gunung Arjuna tersebut, jika dalam kondisi normal, debit yang mengalir di alur semacam ini cenderung kecil mengikuti intensitas hujan di hulunya.

Baca Juga :  KPU TTU Resmi Tetapkan 30 Nama Anggota Legislatif Terpilih Periode 2024-2029 

“Curah hujan kumulatif pada 4 November lalu hanya sebesar 80 mm selama dua jam. Ini artinya bukan hanya hujan yang menjadi penyebab utama banjir, melainkan debris atau material banjiran yang terbawa oleh aliran air sungai,” jelasnya.

Raymond membeberkan, untuk memperoleh potret riil penyebab dari bencana banjir bandang tersebut, PJT I melakukan upaya penelusuran alur sungai tersebut hingga ke bagian hulu dengan menggunakan teknologi droning dan secara manual yang dilakukan selama 4 hari, yakni mulai tanggal 5 hingga 9 November 2021.

“Dari hasil penelusuran itu diketahui jika sebagian besar lahan di hulu Brantas cukup kritis. Tutupan lahan yang kritis ini menjadi pemicu tingginya laju erosi di hulu. Dari hasil foto udara yang kami peroleh, banyak terlihat longsoran baru pada lereng-lereng Arjuna. Selain itu juga ditemukan bekas-bekas bendung alami yang telah jebol terbawa aliran air pada saat hujan turun,” terangnya.

Dengan kondisi seperti itu, lanjut Raymond, yang mengakibatkan tingginya debris flow pada kejadian banjir bandang 4 November lalu. Hasil penelusuran ini nantinya akan disampaikan kepada pemangku kebijakan, baik Pemerintah Kota Batu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, maupun Kementerian PUPR.

Baca Juga :  Tak Dukung 8 Program Prioritas Gubernur, Pj Bupati Bone Siap Ambil Langkah Tegas

“Dengan potret kondisi riil hulu Brantas ini, diharapkan dapat memudahkan pemangku kebijakan dalam menentukan upaya penanganan dan sekaligus pencegahan bencana serupa di masa mendatang,” harapnya.

Sebagai informasi, banjir bandang yang terjadi tersebut menyisakan duka mendalam bagi warga Kota Batu.

Setidaknya 7 korban meninggal akibat terseret arus dan tertimbun material banjiran. Sedangkan lebih dari 50 rumah rusak dan beberapa diantaranya hanyut.

Untuk itu, selain upaya penelusuran alur, Perum Jasa Tirta I juga bersinergi dengan BPBD Kota Batu, Pemkot Batu, Pemerintah Provinsi Jatim, BBWS Brantas, TNI, dan masyarakat melakukan proses pembersihan pasca kejadian banjir.

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts