
SERPONG -Azmi Abubakar, seorang insinyur Teknik Sipil. Ia juga dikenal sebagai pemilik Museum Peranakan Tionghoa di BSD Serpong, Tangerang Selatan. Dengan latar belakang tersebut ia mengukir serta rekonstruksi rumah kebangsaan Suku Tionghoa penuh keanekaragaman memori kebangsaan.
“Aahli teknik sipil lebih pada rancangan struktur bangunan hitung-hitungannya. Saya memaknai museum (Peranakan Tionghoa) sebagai bagian proses rekonstruksi rumah kebangsaan, yang sangat penting,” Azmi Abubakar, Jumat (28/5).
Keberadaan suku Tionghoa di Indonesia, sempat tidak masuk sejarah perjuangan Bangsa Indonesia. Keberadaan museum juga menjadi bagian penting untuk rekonstruksi rumah kebangsaan.
“Saya kira ada relevansi antara teknik sipil dengan museum peranakan Tionghoa. Ahli teknik sipil kan bicara konstruksi. Kalau membandingkan dengan arsitek, (insinyur) sipil bertanggungjawab pada hitung-hitungan. Arsitek kan lebih pada estetika. Saya memaknai museum sebagai bagian rekonstruksi dengan hitung-hitungannya,” kata alumnus fakultas teknik sipil dan perencanaan ITI Serpong, Banten.
Museum Peranakan Tionghoa menempati ruko dua lantai di Ruko Golden Road C28/25 di Jalan Pahlawan Seribu, BSD, Tangerang Selatan. Ruangannya sebenarnya cukup luas. Namun, karena total koleksi Azmi lebih dari 35 ribu item, lantai dasar sebagai tempat memajang koleksi terasa sempit.
Koleksi museum Peranakan Tionghoa tidak melulu dibayangi keterbatasan dana untuk operasional. Kendatipun, ia mengaku bukan pengusaha besar yang memiliki dana untuk menyubsidi operasional museum.
“Saya kan terbatas untuk urusan keuangan. Tapi saya mendorong, bahkan melampai dari apa yang saya miliki untuk pengembangan (museum). Saya sekarang sudah berpikir untuk membeli tempat, dan tidak kontrak lagi (bangunan ruko Museum). Kami berusaha untuk tidak kontrak lagi, tetapi tetap menolak bantuan dari siapapun. Kami mau independen,” kata pria kelahiran Maret 1972.
Di kedua sisi ditempatkan lemari dengan tinggi hampir menyentuh langit-langit. Salah satu lemari berisi ratusan komik Tionghoa. Di bagian tengah ada dua rak besar dengan koleksi beragam buku, dokumen, dan sejenisnya tentang kalangan Tionghoa di Indonesia.
“Dari semua yang saya miliki, mungkin aset terbesar yakni museum. Karena kami mengeluarkan (uang) terus, paling besar (pengeluaran) untuk koleksi museum,” kata Azmi Abubakar.
Supplier berbagai artefacts museum masih terus berdatangan. Kalau tagihan, setiap minggu pasti ada untuk belanja koleksi. Bahkan pernah satu minggu, belanja terus menerus. 2 – 3 hari per minggu, ia pasti mengeluarkan untuk untuk menambah koleksi. Kendatipun demikian, ia sudah berencana memindahkan lokasi museum ke tempat yang lebih luas, terintegrasi dengan kantornya. Harapannya, gedung baru bisa lebih nyaman untuk pengunjung, peneliti, siswa-siswa sekolah dan lain sebagainya.
“Saya melihat, anak-anak sekolah datang dengan kendaraan bus. Tempat saya kan kecil yang sekarang ini. Sehingga saya harus cari tempat yang lebih luas. Rencana ke depan, tamu pengunjung bisa menginap. Kalau peneliti mau meneliti di museum, biaya terbesar kan akomodasi. Kegiatan penelitian kan nggak selalu mencari keuntungan. Hal-hal ini menjadi perhatian. Krn itu ujung tombaknya,” kata Azmi Abubakar saat ditemui di resto Petic Bistro, CityWalk Sudirman. (Setiawan Liu)






