Cerpen : Gerimis Perlahan

Cerpen : Gerimis Perlahan
Ist
Cerpen : Gerimis Perlahan
Ist Lp

Oleh : Yosef Naiobe

“Aku tak pernah mendewakan cinta. Itulah sebabnya kenapa aku tak gampang jatuh cinta. Tapi sekali aku jatuh cinta pada seseorang yang aku suka, ke ujung dunia pun aku kejar,” Celoteh Armando pada Fitri

Dari rangkaian kisahnya Armando agak kesal. Batinnya dicekoki perasaan cemburu. Berkali kali Fitri dah menjelaskan, masa lalu yang ia lewati hanya sebatas perjalan waktu.

“Dari situ aku belajar, Man,” ujar Fitri.

“Di kota ini aku belajar jatuh cinta pada cowok yang cuek,” gumam Fitri.

Gadis bermata lentik itu harus bersusah payah meyakinkan Armando. Kerap kali ia merasa kesal terhadap cowok yang keras kepala dan dingin terhadap mahasiswi yang mengidolakan dirinya. Sebagai pemain musik Armando digandrungi kaum hawa. Namun bagi dirinya itu hanya bagian dari sebuah konsekuensi.

“Siapa suruh jatuh cinta sama pemusik,” ujarnya seolah menasihati angin.

Fitri mengenal Armando saat kegiatan festival parade band kampus di tempat mereka kuliah di kota Yogya.

Armando yang memegang basis itu piawai memainkan guitar merk Yamaha dengan empat tali senar. Malam itu, para pemain yang rata- rata masih mahasiswa itu tampil memukau. Menghipnotis. Penonton dibikin histeris. Membius semua yang menyaksikan penampilan pentas musik tersebut. Malam itu seolah milik Armando seorang. Ia benar-benar menjadi idola. Termasuk Fitri, Maya, Nadya dan Kristin. Empat kawanan dari Fakultas Biometrik ini sama-sama mengidolakan Armando.

Usai melantunkan sebuah tembang nostalgia Armando disalami Fitri. Namun ia tak langsung merespon jika ada bidadari kampus mengincarnya. Perasaan Armando seperti es yang membeku di dalam kulkas. Ia pun cuek dan pergi begitu saja meninggalkan Fitri.

Sejenak perasaan jengkel menggelayuti gadis asal Padang Pariaman ini. Meski demikian ia berusaha membungkus rapi gejolak cintanya pada Armando.

Baca Juga :  Cerpen: Langit Jingga di Hati Sarah

Di luar sana Armando tidak menyadari perasaan Fitri yang mengharu biru. Kadang memutih, memerah dan membiru. Armando terus saja melangkah dengan prinsip kuno yang diyakini bahwa godaan itu gombal. Cinta itu lukisan abstrak yang hanya indah di saat pertama.

Rinai hujan di sore ini menambah galau perasaan Fitri. Beberapa kali telpon genggamnya berdering ia tak peduli. Dibiarkan saja hingga nada dering telpon genggamnya berhenti sendiri. Pikirannya menerawang jauh. Tatapannya kosong. Benda halo itu berdering lagi. Dengan berat hati ia mencoba nelihat siapa gerangan yang menelponnya. Tak disangka, ternyata Armando. Cowok yang ia baptis sebagai sosok yang cuek dan tak gampang digoda.

Rasa percaya dan tidak percaya berada dalam garis batas yang sangat tipis. Masuk akal sebab Armando jarang menelpon dirinya, meski mereka berdua kuliah di kampus yang sama cuma beda fakultas.

“Halo Fitri. Apa kabar,” kata Armando.

Fitri tak langsung menjawab. Ia masih mengumpulkan sisa tenaganya untuk menjawab sapaan Armando. Cowok yang selama ini ia idolakan sebagai cowok masa kini.

“Halo Ar. Tumben mau nelpon Fitri. Mimpi apa aku semalam ya? Di telpon cowok ganteng,” jawab Fitri sambil menggoda.

Tak mau membuang waktu. Armando langsung menyodok pada saran. “I love you,’ Fitri.

“Apaaaa?” Teriak Fitri kegirangan.
Tanpa disadari butiran bening jatuh membedah kedua pipinya.

“Ar, di kota ini aku belajar jatuh cinta untuk yang pertama kali. Hanya dirimu yang membuat segalanya berubah,” lirih Fitri.

Senja terkulai manja di ufuk barat. Perlahan tenggelam ke peraduan.  Gemercik hujan pun berhenti.

***

Nostalgia

Oleh : Kimberly Harefa

Berawal dari ketidaksengajaan
Kita dipertemukan
Oleh sapaan pagi
Yang begitu manis

Baca Juga :  Cerpen: Kutemukan Cinta di Rak Buku

Namun, hatiku belum siap terbuka
Pikiranku kalut
Bayang masa lalu masih melekat
Meski kutahu, sosok penghias pagi mulai membuatku salut

Semenjak hari itu
Kau tak pernah melewatkan sehari pun untuk sekedar tahu kabarku
Mendengar setiap ceritaku
Membuatku menjadi wanita yang kembali utuh

Janji-janji mulai terucap
Masa depan mulai diperbincangkan
Saling mendekatkan diri dengan keluarga
Agar kabar baik bisa terdengar

Kita sepakat untuk saling berambisi;
Kau berteman peluh tak kenal hari
Aku belajar memantapkan diri
Dan menjadi tempatmu melepas letih

Tak banyak kata yang terucap
Pembuktian yang selalu kau tunjukkan
Membuatku tak henti mengucap syukur padaNya
Dipertemukan dengan lelaki idaman

Kadangkala hati bertanya
Sudahkah aku pantas
Melakukan tanggung jawab dengan tuntas
Saat menjadi wanitamu kelak

“Semoga saja”, kuyakinkan hatiku

Kita sudah melalui banyak kisah
Mungkin inilah saatnya
Saling mengobati luka
Sebelum lebih menganga

Terima kasih
Sudah membuat pagiku menjadi baik
Lebih baik dari yang terbaik

Pengorbananmu,
Sempurna untukku

#HanyaKataKim
19-5-20

***

Pantun

Hendrika LW

Pohon salam tumbuh di halaman
Daun kupetik buat masakan
Ini malam tak ada kawan
Rindu sepi mencekam nian

Besuk Kamis pergi Jakarta
Naik kereta turun di Senen
Adik manis apa kabar di sana
Lihatlah kakak, tampil lebih keren

Makan rujak buah mangga
Cabe sepuluh pedas rasanya
Bolehkah diajak aku ke sana
Silaturahmi pada mertua

Naik becak pergi ke pasar
Beli tomat jeruk dan nangka
Aduh kakak janganlah gusar
Adik takkan pergi kemana

***

 

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts