Goresan Cinta Nenek

Goresan Cinta Nenek
Ist
Goresan Cinta Nenek
Ist

 

Hendrika L.W.

 

Engkau laksana fajar, menyirami tunas-tunas daun dengan kehangatan kasih abadi.

Aku mengibaratkan kasih sayangmu seperti mentari, bulan, bintang dan sungai yang mengalirkan kehidupan tiada bertepi.

Banyak kisah, suka duka kulewati bersamamu. Aku ingin menuliskannya kini, di saat kau telah berada dalam keabadian cinta Sang Maha Kehidupan.

Aku melukis cerita tentangmu seperti pelangi di langit biru. Kisah yang tak akan hilang oleh waktu. Karena sudah terpatri sedemikian rupa, dalam jiwa dan raga. Tersimpan rapi dalam setiap lembar diary hidupku. Kau, sebuah keagungan cinta dan kasih sayang tak mengharap balas, untukku dan kami semua.

Saat kugoreskan pena ini, mataku mengalirkan bulir-bulir bening. Perasaanku mengharu biru, karena kau serasa hadir di sini. Duduk di atas tikar, sama seperti kau menemaniku saat belajar dengan lampu petromax, yang menyala saat maghrib dan padam jam sembilan malam.
“Sinau sing pinter, ben iso mangan wareg karo pucuke potlot.”

Baca Juga :  Cerpen : Kekasihku

Belajar yang rajin, supaya bisa makan kenyang dengan ujung pensil. Kata-kata ini baru bisa kucerna setelah dewasa, saat aku menggunakan ujung penaku untuk menulis sajak kehidupan.

Nenek, yang sebelum Subuh, membangunkan aku terutama jika ada ulangan. Membangkitkan semangatku agar tak meredup, seperti pelita yang menemaniku saat belajar dini hari.

Nek, banyak nasihat kudengar darimu, sosok yang sabar dan bersahaja. Banyak pula kenangan bersamamu, yang membuatku kangen. Hingga alam menghadirkanmu dalam mimpiku.

Masakanmu, yang sederhana adalah makanan terlezat bagiku. Bothok tawon, sayur asem, sambal terasi. Menjadi hidangan tak tertandingi.

“Yen mangan sak madya wae, sak cukupe. Eling karo kancane.”

Kalau makan secukupnya saja, tak usah berlebih. Ingat juga sama orang lain. Nasihat ini kuingat sampai saat ini, dan kuteruskan pada cucu-cucumu.

Nenek telah mengajariku banyak hal. Kesabaran, pengertian dan kepedulian pada orang lain.

Baca Juga :  Puisi : Menepis Sepi

Hingga jam nol nol, dini hari. Aku masih menggoreskan ingatanku tentangmu, Nek. Mungkin sampai berabad-abad pun, aku tak mampu menuliskan semua kenangan itu.

Aku selalu berdoa untukmu, semoga kau tenang, damai, bahagia di Surga. Di sisi Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan  Penyayang, penuh Kerahiman. Dan kau tersenyum melihat kami semua.

Bunga-bunga yang kuuntai dalam doa ini, kukirim untukmu di setiap nafasku. Serta segala kebaikan yang kau ajarkan, kupersembahkan kembali untuk kebahagiaanmu.

Salam cinta dariku, yang selalu mekar sepanjang musim.

Hendrika L.W. : Wartawan Sastra, penulis buku nyanyian hati, pegiat sosial dan anggota Persatuan Artis Film Kota Malang

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts