Oleh Yosef Naiobe- Penulis Sastra
Bone biasanya berisik saat kemarau tiba. Angin kering berdebu menyapu jalanan. Tapi hari itu, Masjid Agung justru hening.
Andi Nizar dan Tasya mengucap janji suci di hadapan penghulu.
Cinta yang tumbuh pelan sejak di bangku sekolah akhirnya bermekaran, berlabuh di kursi pelaminan.
Dulu mereka hanya teman biasa di sekolah. Saling tatap. Canda menjadi pemandangan sehari-hari di antara keduanya. Lama-lama, ada perasaan lain mengalir dan menyusup perlahan hingga kedalaman batin Andi Nizar.
Pagi itu, bel istirahat pertama baru saja berbunyi. Siswa SMA di Watampone berhamburan ke halaman. Dari kejauhan, Andi Nizar menyaksikan Tasya. Hatinya berdebar. Detaknya tak normal. Ia tak mengerti gejolak apa yang mengguncang tubuhnya.
“Tasya… Tas…” gumamnya pelan saat gadis itu melangkah ke sudut sekolah, menghampirinya.
“Tasya… aku… aku…”
Kalimat itu tak pernah tuntas. Rasanya seberat berjuta kilogram. Mulutnya terkunci.
“Ayo, katakan,” pinta Tasya.
“Tapi janji kamu tidak marah, kan?”
Tasya hanya tersenyum. Entah ia benar-benar tak paham, atau sengaja membiarkan temannya disandera perasaannya sendiri.
Tahun berganti. Lulus SMA ganti toga wisuda. Andi Nizar memilih jaksa. Tasya memilih dosen. Jarak memisah, tapi tatap itu tak pernah hilang. Lewat pesan singkat, lewat doa, cinta mereka tanpa banyak drama. Tidak ada janji manis berlebihan. Hanya kesetiaani: “Kita jalani sampai Allah mudahkan.”
Doa itu menemukan wujud rupa. Doa yang jauh di angkasa datang. 22 Juni 2026 penanggalan sakral dan bersejarah. Andi Nizar dan Tasya melangsungkan ijab Kabul di Masjid Agung. Ia teringat masa sekolah di bangku SMA dulu ketika ia tak berani bicara. Hari ini ia berjanji setia seumur hidup.
Masjid Agung, tempat umat Muslim bersujud hening. Andi Nizar berdiri di depan penghulu. Di luar, Tasya menunggu. Ia tampak anggun hari ini. Laksana angsa putih yang terbang masuk dalam sangkar hati Andi Nizar. senyumnya sama seperti senyum di halaman SMA dulu: tenang, menguatkan.
Gedung serbaguna Masjid Agung disesaki tamu. Harmoni warna Bugis membalut ruangan. Akad nikah yang berlangsung sontak berubah jadi panggung pesona. Pengantin pria melangkah gagah, balutan baju adat warna hijau. Kepala sang mempelai dihiasi sigera keemasan membuatnya bagai pangeran yang turun dari legenda. Sigera merupakan mahkota pakaian adat Bugis






