Cerpen : Uak

Cerpen : Uak
Ilustrasi
Cerpen : Uak
Ilustrasi

 

Oleh : Irene Sidok

Kepulan debu seiring suara derit sapu lidi di halaman sekolah berbaur menjadi satu dengan riuh canda tawa para siswa baru di hari pertama masuk sekolah. Namun tidak begitu dengan Uak. Ada hampa di sudut hatinya. Haru biru antara seraut wajah tua yang ditinggalkannya dengan terpaksa dan kenyataan seragam biru putih yang melekat di tubuhnya kini. Belum lagi, Uak harus juga menerima kenyataan dirinya harus tersingkir dari teman-temannya yang terkotak-kotak menurut asal SD mereka. Uak tidak memiliki teman se-SD dengannya. Untunglah Sinta, siswi asal Koli Buluk yang kebetulan sendiri, menghampirinya dan akhirnya menjadi teman duduknya di kelas. Suatu tradisi yang hingga kini masih ditemukan.

Menuruti kemauan Ama sama dengan membendung rindu yang membuncah dalam dada Uak.
“Uak, ingat! Kau mau sekolah, to? “
“ Iya, Ama.” jawab Uak

“Kalau mau sekolah, jangan pulang kampung. Ina akan mempengaruhimu.” sambung sang Ama.

“ Iiiya”, sahut Uak terbata.
Walau di hati tak tahan menanggung, tapi diikhlaskannya demi Ama dan masa depannya sendiri. Sampai pada saat Inan Blupur terbaring lemah tak berdaya, dan terus memanggil nama Uak, Ama Nadus luluh.

“Uuaak.”, lirih suara Inan Blupur
“Iya, Inan!”, jawab Uak dengan tangis tertahan. Lalu rebah di atas tubuh yang kurus dan lemah itu.
“ Uaak, Kau tidak sayang saya,ka?”
“Sayang ko Inan.”
“Jangan pergi lagi. Jaga kubur saya.”

“Inaaaaaaan!” Tangis Uak pecah mendengar kata kubur itu. Rasa takut kehilangan Inan Blupur memuncak melemaskan seluruh nadinya. Nafasnya seakan terhenti.
Takdir berkisah. Sesaat kemudian Inan Blupur menghembuskan nafas kuat. Nafasnya yang paling akhir. Uak terseret dalam duka tak bertepi. Asanya sirna. Terbersit sesal mendalam di relung batinnya. Rasa itulah yang menyurutkan niatnya untuk kembali ke sekolah. Pesan terakhir Inan Blupur pun masih terngiang jelas di telinganya.

“Uak, kau harus kembali ke sekolah.”, bujuk Ama Nadus memecah kesunyian batin Uak.

“Tidak, Ama. Aku harus jaga makam Inan Blupur.”

“Kau masih muda, Uak! Masa depanmu masih panjang. Ina sudah pergi. Sudahlah!”

“Tapi..”

“Tidak, Uak. Kakakmu sudah putus sekolah. Dia laki-laki. Bisa cangkul kebun. Kau harus sekolah selagi Ama masih kuat.”

Agar tidak mengecewakan Ama, Uak putuskan kembali ke sekolah. Dilema. Antara niat bakti kepada Ama dan pesan terakhir Inan Blupur yang segar diingatannya. Pengaruhnya cukup besar terhadap kesehatan Uak. Dia jadi sering sakit. Bahkan dia sering mengalami peristiwa aneh. Pernah kaos kaki yang dipersiapkannya hilang begitu saja ketika hendak dikenakannya.
Uak cukup memakluminya. Sambil bergumam dalam hati.
“Mungkin aku hanya berpikir kalau sudah ku siapkan tapi ternyata belum.”

Namun Uak terpaksa berhenti sebelum masuk semester kedua, karena sakit yang berkepanjangan.

Tekad Ama Nadus sudah bulat. Uak tetap harus sekolah apapun yang akan terjadi. Setelah beristirahat sekitar tujuh bulan karena sakit, Uak kini tampak lebih sehat dan segar. Ama berniat mengantar Uak kembali ke sekolah di awal tahun baru ini.

Bintang timur beranjak naik perlahan meninggi lalu sirna oleh fajar yang mengintip dengan mata memerah. Sementara itu sang jago bak weker yang membunyikan alaramnya kepada setiap insan agar segera terjaga. Di rumah omnya, Uak terjaga juga oleh kokokan sang jago. Sementara Lina anak Omnya yang sekamar dengannya masih terbujur kedinginan. Lina akan menjadi teman sekelasnya kini, karena sekolahnya sempat terhenti oleh sakit yang dideritanya.

Baca Juga :  Cerpen: Langit Jingga di Hati Sarah

“Lin! Lina! Ayo bangun!”, panggil Uak sambil mengguncang-guncang tubuh Lina.

“Hmmm, masih ngantuk…!”, rengek Lina malas

“Tapi ayam sudah berkokok, Lina.”

“Iya.”, lalu bergegas bangun dengan sedikit terpaksa.

Lina segera mengangkat lampu pelita dari kamar mereka dan dibawanya menuju ke dapur. Disusul Uak yang berjalan di belakangnya. Dikeluarkannya ubi kayu dari bakul yang dibawa oleh Ama Nadus kemarin.

“Uak, kamu kupas ya. Saya cuci piring.”, kata Lina sambil mengulurkan pisau ke arah Uak.
“Iya, Lin”

Uak mulai mengupas ubi kayu tersebut sebatang demi sebatang. Tiba-tiba sesosok bayangan wanita tua lewat di depannya. Wanita tua itu cukup dikenalnya.

“Ah, tidak mungkin. Paling cuma perasaanku saja. Inan Blupur kan sudah meninggal.”, batin Uak sambil menggeleng.

Segera dicucinya ubi yang dikupasnya dan dimasukannya ke dalam periuk. Begitu Uak menuju ke arah tungku, sosok itu kembali tampak olehnya. Pas di pintu yang hendak dilalui Uak. Uak terperanjat dibuatnya. Bibirnya bergetar hendak memanggilnya tapi lidahnya terasa keluh.

“Uak. Ubinya sudah kamu rebus?”, tanya Lina dari arah tempat cuci piring.

Spontan Uak menoleh ke arah datangnya suara itu dan ketika berbalik sosok wanita tua tadi menghilang.

“Uak…!”, panggil Lina lagi.

“Iya, Lina. Ini mau ku rebus.”

“ Baiklah. Kalau begitu saya bakar tempurung dulu ya tuk strika pakaian”
Uak mengangguk. Pikirannya sudah tidak menentu. Sesaat mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Uak…Uak…!” suara lirih yang dikenalnya betul memanggil-manggil nama Uak.
Uak berpaling ke arah datangnya suara itu. Dilihatnya Inan Blupur tersenyum melihatnya. Tangannya memberi isyarat agar Uak mendekatinya.

“Uak, coba lihat ubinya!” suara Lina mengingatkan

Uak mendengarnya. Tapi lidahnya mulai keluh tak bisa bersuara. Apalagi bayangan Inan Blupur masih terpaku di sana.

“Uak, ayo jalan. Ikut aku. Kita pulang saja.”, ajak Inan Blupur.

Uak nampak ragu. Dia kembali melihat Lina yang sibuk menyeterika pakaian seragam mereka. “Apa Lina juga melihat Inan ya?”, batin Uak penuh selidik.

“Kenapa kamu lihat saya begitu? Ubinya sudah masak belum?” tanya Lina

Uak mengangguk perlahan. Dilihatnya lagi ke arah Inan Blupur. Masih di sana.

“Ayo! Pulang. Kasihan bapakmu sendiri. Tidak ada yang masak.” Ajak Inan Blupur lagi setengah memaksa. Uak terpaku sejenak. Inan Blupur menghampirinya. Dipegangnya tangan Uak. “Ayo, Uak. Kenapa masih berdiri?”

“Uak…Uak. Kita pergi mandi dulu baru makan ya.”, teriak Lina
Tak ada jawaban dari Uak. Lidahnya sudah kaku. Bibirnya terasa dingin seperti habis makan es. Lina berjalan menuju dapur.

“Uak, kau di mana?”
“Hah?” Uak kaget.
“Jadi Lina tidak bisa melihatku? Aku kan hampir ditabraknya?”, batin Uak heran.

Dilihatnya Lina kebingungan. Dicarinya Uak ke semua kamar bahkan sampai ke WC.
“Uak………kau di mana?”, Lina panik

“Aku di sini, Lina!”, jawab Uak dikuat-kuatkannya suaranya. Rupanya Lina tidak mendengar suara Uak.

“Uak….! Bapa….. Uak hilang. Saya sudah cari ke mana-mana tapi tidak ada.”

“Tidak mungkin, Lina! Ke WC ?” duga Bapak Lina

“Sudah, Bapa. Tidak ada.”, timpal Lina panik.

“Tu’ang aku di sini!”, jawab Uak. Mendengar jawaban Uak, Inan Blupur semakin mengencangkan pegangannya di tangan Uak. Matanya melotot marah.

Baca Juga :  Cahaya di Kampung Adat

“Kenapa kau panggil Tuangmu? Mau apa kau? Percuma. Sekarang pulang.!”

“Inan, tanganku sakit. Tolong lepaskan”, rengek Uak kesakitan
“Tidak. Pulang!”, balas Inan Blupur sengit.

“ Saya tidak mau, Inan. Saya mau sekolah.”

“Apa? Sekolah? Tidak. Kau perempuan. Pulang!”, seret Inan Blupur kasar.

“Kepala batu macam bapakmu Nadut. Kau lihat nanti!”, lanjut Inan Blupur mengancam.

“Inan, lepas ko. Tanganku sakit sekali.”

“Tidak akan ku lepaskan, Uak. Kalau bapakmu tetap bandel, kau tinggal dengan saya selamanya.”

“Hah? Berarti saya juga akan mati?

Tidak …..”, batin Uak ketakutan

Dan hanya dengan sekali kejapan mata saja, Uak sudah duduk dibale-bale depan rumah mereka di Daran Natar, Moko. Matahari baru terbit. Aman Nadus ke luar dari rumah hendak ke kebun. Dahinya sejenak berkerut, begitu dilihatnya putrinya termangu di atas bale-bale itu. Masih belum yakin dengan apa yang dilihatnya, buru-buru Ama Nadus menghampiri Uak.

“Uak? Kau di sini?”
Uak hanya menatapnya kosong.

“Tapi, bagaimana caranya kau ke sini?”, lanjut Ama Nadus bingung.

“Inan. Inan yang membawaku ke sini.”

“Apa? Inan? Inan siapa?”, buru Ama Nadus semakin bingung.

“Inan Blupur, Bapa.”, lanjut Uak tanpa ekspresi.

“Inan Blupur? Dia sudah mati, Uak?” duduk dan berusaha melihat kesungguhan Uak.

“Iya, Inan Blupur.” Uak masih belum berekspresi.

Ama Nadus semakin kebingungan. Dipandanginya Uak dari ujung kepala hingga kaki. Rambut panjang Uak tampak berantakan. Matanya sembab. Dan Ama Nadus terperanjat ketika melihat pergelangan tangan Uak.

“Uak, tanganmu kenapa ini? Kok, biru kehitam-hitaman begini? Ada apa sebenarnya?”, tanya Ama Nadus mengguncangkan tubuh Uak, panik.

Uak belum mampu berkata-kata. Belum bisa menerima kenyataan antara pertemuannya dengan Inan Blupur dan kenyataan sekarang. Hanya air matanya yang bercucuran. Uak menangis sejadi-jadinya. Ama Nadus duduk di sampingnya. Membiarkannya menangis. Sesaat Uak mulai terlihat tenang. Dikisahkannya detail peristiwa beberapa saat lalu yang dialaminya bersama Inan Blupur.

Lingkaran memar di pergelangan tangan Uak sedikit mengusir keraguan di benak Ama Nadus. Kehadiran Lina dan bapanya yang memberi kesaksian tentang hilangnya Uak secara tiba-tiba itu juga semakin menyingkirkan keraguannya. Memang tidak wajar perjalanan dari Nangatobong ke Daran Natar yang normalnya ditempuh dua sampai tiga jam itu, hanya bisa ditempuh Inan Blupur dan Uak dalam hitungan menit. Entah kekuatan apa yang mereka gunakan, tak seorang pun mengerti. Kekuatan dari alam yang tak kasat mata. Tak terjamah oleh akal sehat.

Senja makin temaram. Di ufuk barat, mentari memerah pudar. Sepudar asa di dada Uak yang kian beku oleh waktu. Di atas bukit, di sebuah batu besar di tepi Kali Wai Rita, Uak mendapati dirinya terhanyut jauh ke masa lalunya yang kelam. Satu desahan panjangnya seolah mengingatkan dia untuk kembali ke balik malam. Malam di mana dia tenggelam dalam ketrampilan ikat benang. Sumber pencaharian yang sangat didewakan Inan Blupur.

 

Irene Sidok; Guru SMP PGRI 1 Egon Waigete – Sikka, Nusa Tenggara Timur.

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts