
Hendrika LW.
Bunda
bolehkah aku berbaring
di sisi hatimu?
Seharian ini
aku duduk di trotoar itu
bercengkrama dan bercanda
dengan teman-teman senasib
walau sebetulnya hatiku tak gembira
Ragaku begitu lelah
walau aku hanya terpengkur di sini
Tetapi jiwaku jauh lebih letih
karena tak ada asa setitik pun
dalam hatiku
Aku rindu dengan buku
aku kangen pada guru
Aku ingin duduk di bangku sekolah
bukan di trotoar ini
Bunda…
aku begitu lelah
jiwaku tak sanggup
lagi duduk di sini
Bolehkah aku
meletakkan kepalaku sejenak,
sejenak saja
Aku ingin berbaring di situ
di sisi hatimu
yang sejuk dan lembut
Tak mengapa walau hanya sejenak,
sejenak saja…..
***
Rindu
Aku menunggumu
sejak malam itu
Setelah kita menghabiskan senja
bersama-sama
Senja merah, yang kita teguk berdua
dalam secangkir coklat hangat
Aku menunggumu
hingga fajar tiba
Dan masih menunggumu
sampai ujung senja
hingga senja berganti
berpuluh-puluh kali
Tapi hanya sunyi yang mendatangi
dan kau tak ada lagi
Aku ingin melupakanmu
karena kau telah lebih dulu
melupakanku…
Namun kerinduan itu
selalu menyelinap
dari balik daun pintu hatiku
Kucoba mengusirmu
dengan sepotong klausaku
“Pergilah bersama janjimu…”
Tapi kau selalu datang lagi
mengendap-endap di balik jendela
hingga terkadang, menyiksaku
Aku ingin membunuhmu
dengan bilah belati cintaku
Tapi itu terlalu sakit untukku
karena aku mesti mencabik-cabik
rasa sayangku padamu
Ah ya sudahlah,
kubiarkan saja rindu
mengintip di balik kelambu
dan membayangi tidurku
yang kadang mimpi tentangmu
Di sini, di balik bantalku
ku simpan sepotong harap
tuk jumpa lagi denganmu
karena aku ingin bercakap
dari hati ke hati
Tentu saja denganmu…
Hendrika LW, wartawan sastra, penulis buku antologi puisi “Nyanyian Hati” segera terbit.
Malang, 9 April 2019





