Dispangtan Kota Malang Gelar Pelatihan Olahan Ubi Jalar Guna Dorong Diversifikasi Pangan

Dispangtan Kota Malang Gelar Pelatihan Olahan Ubi Jalar Guna Dorong Diversifikasi Pangan

 

Kota Malang, ZonaNusantara – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang terus bergerak cepat menekan ketergantungan masyarakat terhadap konsumsi beras.

Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan), Pemkot Malang resmi membuka Pelatihan Pangan Olahan Berbasis Sumber Daya Lokal Tahun Anggaran 2026 pada Rabu (24/6/2026).

Pelatihan yang digelar selama empat hari mulai Senin (22/6/2026) hingga Kamis (25/6/2026) ini diikuti oleh 640 peserta dari berbagai kelurahan di Kota Malang. Para peserta merupakan warga yang dijaring melalui jalur Pokok Pikiran (Pokir) DPRD serta Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, S.P., menegaskan bahwa langkah ini merupakan upaya nyata pemerintah daerah dalam mendongkrak keterampilan masyarakat. Tujuannya agar potensi pangan lokal bisa disulap menjadi produk yang bernilai gizi tinggi sekaligus bernilai ekonomi.

“Lingkungan sekitar kita memiliki beragam sumber daya pangan lokal yang kaya nutrisi. Komoditas seperti ubi jalar, labu kuning, singkong, hingga pisang memiliki potensi besar untuk diolah menjadi makanan yang sehat, aman, dan higienis,” ujar Slamet Husnan saat dikonfirmasi awak media.

Slamet juga mengingatkan pentingnya regulasi pangan yang merujuk pada Undang-Undang No. 18 Tahun 2012. Menurutnya, pemenuhan gizi keluarga yang optimal tidak harus mengandalkan bahan pangan yang mahal atau produk impor.

Sementara itu, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dispangtan Kota Malang, Elfiatur Roikhah, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan implementasi dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.

Baca Juga :  Lomba Jurnalistik BPJS Ketenagakerjaan, Ajakan untuk Berpartisipasi dalam Membangun Kesadaran Ketenagakerjaan

“Saat ini, pola pangan harapan kita di Indonesia, termasuk di Kota Malang, masih di bawah standar karena konsumsi masyarakat masih sangat tergantung pada bahan tertentu, dalam hal ini adalah beras,” katanya.

Sebagai strategi jitu, Dispangtan Kota Malang memilih ubi jalar dan labu kuning sebagai bintang utama dalam pelatihan kali ini. Ubi jalar diproyeksikan menjadi alternatif sumber karbohidrat utama pengganti beras di Kota Malang.

Upaya diversifikasi (penganekaragaman) pangan ini ternyata sudah dirintis sejak tahun 2024. Dispangtan telah membagikan bibit dan sarana prasarana (sarpras) kepada 115 kelompok urban farming di 57 kelurahan.

Untuk menyiasati keterbatasan lahan perkotaan, mereka menerapkan sistem tanam di dalam karung menggunakan ‘Varietas Brawijaya’ hasil kerja sama dengan Universitas Brawijaya (UB).

Hasilnya pun mencengangkan. Berdasarkan monitoring dan evaluasi (monev) selama tiga bulan, satu karung media tanam mampu menghasilkan sekitar 100 kilogram ubi jalar, dengan berat per umbi mencapai 10 kilogram.

Jika program hulu berfokus pada budidaya, maka pelatihan ini menggarap sektor hilir. Warga dibekali keterampilan teknis untuk mengolah ubi jalar dan labu menjadi produk modern yang laku di pasaran, seperti mi ubi hingga aneka roti.

Baca Juga :  Dukung Penguatan DPD RI, Margarito Kamis: Politik Tidak Ada Minta, Yang Ada Mainkan!

Inovasi ini bahkan sudah diuji coba dan sukses menembus program nasional. Roti tawar berbasis ubi dan labu produksi Dispangtan telah didistribusikan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

“Berdasarkan petunjuk teknis dari Badan Gizi Nasional (BGN), dalam satu minggu memang diwajibkan ada menu pangan lokal, dan biasanya disajikan dalam bentuk roti tawar,” imbuh Elfiatur.

Langkah ini sejalan dengan komitmen Badan Pangan Nasional untuk meminimalisir penggunaan beras dan tepung terigu.

Meski punya potensi raksasa, tantangan besar masih membentang. Data survei Dispangtan tahun lalu menunjukkan tingkat konsumsi ubi jalar di Kota Malang baru menyentuh angka 6 persen. Selain itu, belum semua kelompok urban farming konsisten melakukan pembibitan ulang pasca-panen.

Lewat pelatihan strategis yang menghadirkan akademisi Universitas Widyagama dan praktisi industri PT Canggi Fully Group ini, Pemkot Malang berharap para peserta bisa menjadi agen perubahan.

Masyarakat diharapkan mampu mengembangkan pola konsumsi yang B2SA (Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman) di keluarga masing-masing, sekaligus menciptakan peluang usaha baru demi memperkuat fondasi ketahanan pangan Kota Malang secara berkelanjutan.

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts