
Bermodal semangat, harapan, rasa optimisme dan cita-cita yang tinggi membuat sosok perempuan bernama lengkap, Lia Fendiana Rozita, mampu menerjang berbagai rintangan. Ikuti kisahnya sebagaimana dirangkum Hendrika LW berikut ini.
Ia perempuan tangguh untuk kaumnya yang seusia dengannya. Tak akan pernah menyerah jika impian yang dikejarnya belum terwujud. Impian untuk hidup sukses layaknya seperti orang sukses lainnya. Hal yang lumrah. Ke mana pun ia melangkahkan kakinya, ia selalu menggenggam restu orang tua.
Merangkak dari titik nadi terendah. Dalam situasi jatuh bangun, air mata seakan menjelma menjadi teman sejati. Sejumlah pekerjaan ia telah mencobanya. Mulai dari kenek bus hingga mengamen.

Perempuan kelahiran Lumajang 21 Januari 1995, memiliki semangat membara. Semangat ini melengkapi kisah hidupnya sebagai seorang pengembara. Laksana pendaki gunung, ia tidak akan berhenti sebelum mencapai puncak.
Pengembaraan Lia dalam berbagai profesi dilakoni bermuara pada keinginan untuk belajar sebagai seorang seniman, penulis film, cerpen dan bahkan mengarang lagu.
Ditemui di lokasi shoting film, berjudul “Tersenyumlah Mama”, Lia mengisahkan lika liku perjalanannya, hingga “terdampar” di Java Creation.
Orang mungkin tidak percaya, jika Lia yang yang sekarang ini pernah bekerja sebagai asisten rumah tangga di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Berbekal ijazah SMP, perempuan berhijab ini mencoba mengadu nasib ke Pulau Dewata, Bali. Di negeri 1000 pura ini, ia menjajal pekerjaan baru sebagai penjaga toko termasuk menjaga loket penjualan karcis masuk di sebuah Central Park.
Deretan pekerjaan seperti penjaga warnet, counter HP, dan penjual minuman di Pantai Kuta ia lakoni. Ia pun tak pernah puas dan terus berkelana. Seorang petarung memang tak akan pernah berhenti dalam satu rentang waktu, sebelum menggapai cita-cita. Bagi dirinya hidup ini harus dilakoni.
Kisah hidup penulis naskah flim Tersenyumlah Mama yang segera tayang di medsos ini penuh drama dan berwarna.
Dari Bali, hijrah ke kota Jakarta. Di kota Metropolitan ini ia bekerja sebagai penjaga toko. Di sela sela kesibukan itu, ia menyisakan waktu
untuk mengembangkan hobinya, menulis, bermusik, menyanyi, foto dan videografi.
Kegigihan itu berbuah manis. Nasib baik menjemput. Perempuan berkulit sawo matang dan berkacamata ini mendapat tawaran bermain film berjudul, Raden Kian Santang dan Gajah Mada sebagai pemeran figuran.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Anak pertama dari dua bersaudara, pasangan Bendit Efendi dan Mistina ini belajar menjadi kru. Ia jalani pekerjaan sebagai wardrobe, clapper, make up, asisten penulis dan asisten sutradara.
Berbagai pengalaman pekerjaan itu menghantarkan Lia menjadi Sutradara. Ia kemudian membentuk Java Creation di bidang percetakan, desain, editing, videografi dan fotografi.
Bersama Muhamat Yuda Pratama dan Yulianti, mereka berhasil menyelesaikan beberapa film antara lain Anak Kopi dan Sang Juara di okeflix, segera tayang.
“Saya menjadi seperti ini berkat doa orangtua saya”, kata Lia yang menjadikan mama sebagai figur penyemangat.
Di puncak kariernya itulah Lia, berkeinginan membantu generasi muda yang berminat sebagai seniman khususnya di bidang perfilman dengan membuka kegiatan ekskul perfilman di SMK Pasirian Lumajang.
Lia dapat dijumpai di channel YouTube Lia Fendiana, akun FB Lia Fendiana Rozita, dan akun IG @Liafendianarozita





