Membangun Asa di Ujung Timur Indonesia

Membangun Asa Di Ujung Timur Indonesia

Oleh Capt Sorindra, SH, MM, M. Mar.

Setiap hari kita menyaksikan arus lalu lintas di samudera yang berhias bendera berbagai warna dan corak. Bendera-bendera itu ikut memberikan warna bagi pelayaran yang kian marak dilayari kapal-kapal. Di antara angin buritan, umbul-umbul penghias bodi kapal menjadi pemandangan menakjubkan, sekaligus penyemangat bagi sang nakhoda dan kru kapal.

Pemandangan yang lumrah bagi khalayak, namun tidak demikian bagi pegiat kesyahbandaran. Warna-warni di perairan luas adalah pemandangan yang tidak biasa. Itu adalah pemandangan yang menakjubkan sekaligus menyenangkan. Kapal bukan sekadar bongkahan besi yang mengapung. Di atasnya tersimpan harta karun bagi negara, bagi bangsa, dan untuk kesejahteraan masyarakat.

Nilai harta karun itu mungkin bisa dihitung dengan angka. Namun di balik buritan kapal, harapan, semangat, dan inspirasi menyimpul menjadi satu bagian elementer yang saling terkait.

Nakhoda, pengendali kapal, dan kru adalah komponen terpenting yang tidak bisa diabaikan. Sebab, kemudi kapal memang tugas utama nakhoda, tetapi mekanis, kelistrikan, hingga urusan dapur dan kampung tengah adalah bagian dari kewenangan awak kapal yang tidak bisa diintervensi oleh siapa pun.

Dari sini kita belajar filosofi kebersamaan. Individu dalam satu kesatuan. Gugusan pulau, sapuan ombak, angin laut, dan jangkar adalah denyut kehidupan. Pertarungan di samudera bukan sekadar melawan ombak, melainkan menjaga agar asa terwujud demi asap dapur yang terus mengepul. Sanak keluarga adalah vitamin penambah semangat dalam berkarya.

Molawe Membentangkan Buku Kehilangan 

Saya telah lama mengabdikan diri di dunia kemaritiman. Namun penempatan saya di KUPP Kelas I Molawe, Konawe Utara, bukanlah sekadar mutasi jabatan dan pengabdian kepada bangsa dan negara. Bagi saya, Molawe adalah sekolah kehidupan. Tempat di mana saya tidak hanya belajar tentang hidup, tetapi belajar melampaui batas-batas hidup itu sendiri.

Baca Juga :  Predikat WTP Kesembilan, Komitmen Bone dalam Pengelolaan Keuangan Diakui BPK

Antara Molawe dan Morowali 

Dua daerah ini laksana cermin. Bisa melihatnya dari lokasi berbeda namun menghadirkan face yang sama, denyut nadi kehidupan dan arus laut yang sama. Kembaran (Twins)

Boleh dibilang dari anjungan di Molawe, saya meneropong Morowali bukan sebagai kompetitor, melainkan sebagai cermin masa depan. Menggarap di laut yang sama menjala Devisa dari arus samudera melalui setiap kapal yang berlayar di atas permukaan.

Jika Molawe adalah pintu gerbang Sulawesi Tenggara, maka Morowali adalah halaman depannya. Apa yang terjadi di perairan Morowali, getarannya terasa sampai ke Kendari. Kapal-kapalnya sama, krunya sama, samuderanya sama.

Banyak orang di darat mengira tugas Syahbandar hanya stempel dan tanda tangan agar kapal bisa berlayar bebas tanpa hambatan. Padahal tugas Syahbandar di seluruh Indonesia, sama: Menjadi Jangkar. Memastikan pelayaran itu aman dan nyaman dalam artian tidak melanggar hukum.

Jangkar yang baik tidak diuji saat laut tenang. Ia diuji saat badai datang. Badai investasi yang luar biasa besar, badai trafik kapal yang padat, badai tuntutan akan kecepatan bongkar muat, tetapi di sisi lain harus tetap mengedepankan keselamatan.

Di sinilah jangkar itu diuji. Apakah kita akan hanyut mengikuti arus kecepatan dengan mengorbankan keselamatan, atau kita tetap mencengkeram pada prinsip: No Safety, No Sailing.

Pejabat Syahbandar memegang jangkar yang sangat berat. Dan sebagai Kepala Seksi Kesyahbadaran, saya paham betul beratnya sebuah maha karya. Saya menyebutnya mahakarya karena keselamatan aktivitas kapal harus dipastikan aman serta dilindungi oleh undang-undang.

Baca Juga :  Kadis Asman Hadapi El-Nino dengan Strategi Terencana

Setiap kapal yang berangkat dengan membawa muatan nikel atau barang komoditas lain, pada dasarnya sedang membawa janji. Janji kepada pembeli di luar negeri, janji devisa untuk negara, dan janji untuk keluarga. Betapa penting dan mahalnya sebuah janji bila seketika hilang bersama jangkar.

Janji itu hanya bisa ditepati jika jangkarnya kuat. Investasi di laut bukan sekadar membangun jetty dan mengeruk alur. Investasi di laut adalah membangun kepercayaan. Bahwa perairan ini dikelola oleh orang-orang yang paham samudera. Bahwa Devisa dari Samudera itu benar-benar untuk negara karena dijaga dengan benar di pintu keluarnya.

Kembali ke Asal

Dari Kendari, saya belajar satu hal: pelabuhan yang hebat tidak dibangun dari betonnya, melainkan dari integritas penjaganya. Molawe dan Morowali punya investasi. Punya samudera. Selama Syahbandar-nya tetap menjadi jangkar yang kuat, maka janji itu akan tetap terjaga, hingga bersambung rasa kebanggaan bersama keluarga, sanak famili maupun pihak lain yang ikut merasakan aura yang sama.

Salam hormat untuk rekan-rekan Syahbandar di Morowali. Kita jaga samudera yang sama.

Capt. Sorindra, SH, MM, M. Mar

Praktisi Maritim – Kepala Seksi Kesyahbandaran Kantor UPP Kelas I Molawe Konawe Utara, Sulawesi Tenggara

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts