Mengelola Indonesia seperti Sepak Bola Spanyol: Dari Politik Individual Menuju Kerja Kolektif

Mengelola Indonesia Seperti Sepak Bola Spanyol: Dari Politik Individual Menuju Kerja Kolektif

 

Oleh Capt. Sorindra, SH, MM, M. Mar

Piala Dunia 2026 sudah berakhir. Spnayol keluar sebagai juara dan mengangkat trofi. Apa pelajaran yang bisa diambil untuk bangsa ini?

Pertama mesti diyakini bahwa Indonesia bukanlah negara yang kekurangan pemain berbakat. Negara ini memiliki sumber daya alam yang melimpah, jumlah penduduk yang besar, generasi muda yang kreatif, serta keragaman budaya yang menjadi modal sosial luar biasa.

Namun, sebagaimana sebuah tim sepak bola, kumpulan pemain hebat tidak otomatis menghasilkan permainan yang baik. Tanpa sistem, koordinasi, disiplin posisi, dan tujuan bersama, keunggulan individual justru dapat berubah menjadi kekacauan.

Masalah utama pengelolaan Indonesia hari ini bukan semata-mata tidak adanya orang pintar atau pemimpin yang kuat, melainkan belum terbentuknya permainan kolektif yang mampu menghubungkan seluruh kekuatan tersebut. Politik masih terlalu sering dipahami sebagai pertandingan antar tokoh, antar partai, antar kelompok, bahkan antar lembaga negara. Perhatian publik lebih banyak diarahkan kepada siapa yang menjadi presiden, menteri, ketua partai, gubernur, atau calon pemimpin berikutnya daripada kepada sistem seperti apa yang sedang dibangun.

Akibatnya, pergantian pemimpin sering diikuti perubahan kebijakan, prioritas, dan program. Setiap pejabat ingin meninggalkan warisan pribadi. Program lama diganti nama, kebijakan baru diluncurkan, dan keberhasilan pemerintahan diukur melalui popularitas tokoh.

Akhirnya kita melihat bahwa negara kemudian menyerupai kesebelasan yang setiap pemainnya ingin menggiring bola sendiri, mencetak gol sendiri, dan menjadi pusat perhatian.

Di tengah pertumbuhan ekonomi dan penurunan sejumlah indikator kemiskinan, Indonesia masih menghadapi persoalan ketimpangan, kualitas pekerjaan, rendahnya upah sebagian tenaga kerja, korupsi, mahalnya biaya politik, lemahnya penegakan hukum, dan menurunnya kepercayaan terhadap institusi.

Pada Maret 2025, tingkat kemiskinan nasional tercatat 8,47 persen. Sementara itu, pada November 2025 tingkat pengangguran terbuka berada pada angka 4,74 persen dan rata-rata upah buruh sekitar Rp3,33 juta per bulan. Angka-angka tersebut menunjukkan adanya kemajuan, tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa pembangunan belum sepenuhnya menghasilkan kesejahteraan yang merata.

Dalam politik, tingginya biaya pemilihan juga menciptakan lingkaran persoalan. Pejabat yang harus mengeluarkan biaya besar untuk memperoleh kekuasaan akan menghadapi dorongan untuk mengembalikan modal politiknya setelah menjabat.

Data yang dikutip Universitas Gadjah Mada menunjukkan bahwa 167 kepala daerah pernah terjerat perkara korupsi sepanjang 2004–2024. Kondisi ini memperlihatkan bahwa korupsi tidak cukup dipahami sebagai kegagalan moral individu, tetapi juga sebagai akibat dari sistem politik yang mahal dan tidak sehat.

Belajar dari Permainan Spanyol

Sepak bola Spanyol menawarkan sebuah pelajaran menarik mengenai cara membangun kekuatan kolektif. Keberhasilan Spanyol tidak hanya lahir dari kehadiran pemain-pemain berbakat.

Kekuatan utamanya terletak pada identitas permainan yang dipahami bersama, pembinaan berjenjang, disiplin posisi, penguasaan ruang, serta kemampuan setiap pemain untuk bergerak bagi kepentingan tim.

Kesebelasan Spanyol tidak bergantung sepenuhnya pada satu bintang. Mereka membangun permainan melalui operan, pergerakan tanpa bola, penciptaan ruang, dan kesediaan pemain menjadi bagian dari suatu sistem.

Pemain yang menguasai bola tidak dianggap sebagai satu-satunya pusat permainan. Pemain lain harus membuka jalur operan, menarik lawan, menutup ruang, dan menyiapkan kemungkinan berikutnya.

Filosofi tersebut berkembang melalui pendidikan sepak bola yang konsisten sejak kelompok usia muda. Pemain dilatih memahami ruang, waktu, posisi, dan hubungan dengan rekan setim.

Karena itu, kolektivitas Spanyol bukanlah gerakan spontan, melainkan hasil dari sistem pembinaan jangka panjang. Keberhasilan mereka juga dikaitkan dengan kesinambungan identitas taktis, integrasi pemain muda, serta penempatan kepentingan tim di atas ketenaran individu.

Dari sepak bola Spanyol, Indonesia setidaknya dapat mengambil beberapa prinsip untuk memperbaiki pengelolaan politik dan pemerintahan.

Negara Harus Memiliki Filosofi Permainan

Sebuah tim yang baik mengetahui bagaimana ia ingin bermain. Demikian pula negara harus memiliki arah pembangunan yang jelas, konsisten, dan dipahami oleh seluruh lembaga pemerintahan.

Indonesia sebenarnya telah memiliki Pancasila, konstitusi, serta tujuan bernegara yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Namun, nilai-nilai tersebut sering berhenti sebagai semboyan.

Pancasila misalnya  belum selalu diterjemahkan menjadi ukuran konkret dalam menyusun anggaran, menentukan proyek pembangunan, mengelola sumber daya alam, atau mengevaluasi kebijakan.

Dalam permainan kolektif, filosofi tidak boleh berubah hanya karena pelatih berganti. Pemerintahan boleh berganti, tetapi tujuan jangka panjang negara harus tetap berlanjut.

Pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, industrialisasi, pemberantasan korupsi, pembangunan wilayah tertinggal, dan perlindungan lingkungan tidak boleh dimulai kembali dari nol setiap lima tahun.

Presiden dan kabinet seharusnya berperan sebagai pelatih yang menerjemahkan filosofi negara menjadi strategi, bukan sebagai pemilik negara yang bebas mengubah arah permainan sesuai kehendak pribadi.

Setiap Lembaga Harus Mengetahui Posisi dan Fungsinya.

Dalam sepak bola Spanyol, penguasaan ruang sangat penting. Setiap pemain memiliki wilayah tanggung jawab, tetapi tidak bermain secara kaku. Mereka dapat bertukar posisi selama keseimbangan tim tetap terjaga.

Baca Juga :  Perkuat Akses Pendidikan Tinggi, Uniasman Dipercaya Jadi Pusat Penyaluran KIP Kuliah di Bone

Prinsip serupa dibutuhkan dalam penyelenggaraan negara. Presiden, DPR, pengadilan, kepolisian, kejaksaan, pemerintah daerah, lembaga pengawas, media, dan masyarakat sipil harus menjalankan fungsi masing-masing.

Persoalan muncul ketika satu lembaga terlalu dominan, lembaga pengawas kehilangan kemandirian, atau kepentingan partai masuk terlalu jauh ke dalam institusi negara.

Pembagian kekuasaan bukanlah hambatan bagi pemerintahan. Seperti jarak antarpemain dalam sepak bola, pembagian kekuasaan justru menjaga keseimbangan. Pemerintah yang kuat bukanlah pemerintah yang menguasai seluruh ruang, melainkan pemerintah yang mampu bekerja efektif sambil tetap diawasi.

Koalisi politik yang terlalu besar juga tidak selalu menghasilkan pemerintahan yang lebih sehat. Tanpa oposisi yang kuat, parlemen dapat kehilangan fungsi koreksi.

Sebuah tim membutuhkan pemain yang memberikan dukungan, tetapi negara juga memerlukan lembaga yang berani mengingatkan ketika arah permainan menyimpang.

Bola Harus Bergerak Lebih Cepat daripada Ego Pemain

Sepak bola kolektif mengajarkan bahwa bola bergerak lebih cepat daripada manusia. Karena itu, pemain harus mengoper pada saat yang tepat dan tidak boleh terlalu lama mempertahankan bola hanya untuk menunjukkan kemampuan pribadi.

Dalam politik Indonesia, “bola” dapat dimaknai sebagai informasi, kewenangan, anggaran, dan pelayanan publik. Semua itu harus bergerak cepat di antara lembaga dan tingkat pemerintahan.

Jika informasi ditahan, kewenangan dipusatkan, atau anggaran digunakan sebagai alat loyalitas politik, pelayanan kepada masyarakat menjadi lambat.

Pemimpin yang baik bukanlah orang yang mengerjakan semuanya sendiri. Ia membangun mekanisme agar lembaga dapat bekerja tanpa selalu menunggu perintah dari atas. Pemerintah pusat harus memberikan ruang kepada daerah, sedangkan pemerintah daerah harus memberdayakan desa dan masyarakat.

Desentralisasi bukan berarti setiap daerah bermain sendiri. Sebaliknya, desentralisasi harus ditempatkan dalam satu pola permainan nasional. Pemerintah pusat menentukan arah umum, sementara daerah diberi kebebasan menyesuaikan strategi dengan karakter dan kebutuhan masing-masing.

Politik Harus Mengutamakan Sistem, Bukan Tokoh

Salah satu kelemahan politik Indonesia ialah kuatnya personalisasi kekuasaan. Keberhasilan program dilekatkan kepada nama pemimpin, sedangkan partai sering dibangun di sekitar figur tertentu. Akibatnya, institusi tidak tumbuh secara mandiri.

Sepak bola Spanyol menunjukkan bahwa pemain hebat tetap harus tunduk kepada sistem. Seorang bintang tidak boleh merusak struktur hanya karena merasa lebih penting daripada tim. Dalam pemerintahan, tidak boleh ada tokoh yang ditempatkan lebih tinggi daripada hukum dan institusi.

Negara yang sehat tidak bergantung kepada hadirnya seorang “penyelamat”. Negara harus tetap berjalan meskipun presidennya berganti, menterinya diganti, atau partai penguasa kalah dalam pemilu.

Hal itu hanya mungkin apabila birokrasi profesional, hukum ditegakkan secara konsisten, data pemerintahan terbuka, dan proses pengambilan keputusan tidak bergantung pada kedekatan personal.

Ukuran keberhasilan kepemimpinan bukan seberapa lama nama seorang pemimpin dikenang, melainkan seberapa kuat institusi yang ditinggalkannya.

Menyerang dan Bertahan sebagai Satu Kesatuan

Dalam sepak bola modern, penyerang adalah pemain pertama yang bertahan, sedangkan penjaga gawang menjadi pemain pertama yang membangun serangan. Tidak ada pemain yang hanya menjalankan satu fungsi tanpa memperhatikan kebutuhan tim.

Prinsip tersebut dapat diterapkan dalam pemerintahan. Pembangunan ekonomi tidak boleh hanya menjadi urusan kementerian ekonomi. Kebijakan ekonomi berkaitan dengan pendidikan, hukum, lingkungan, tenaga kerja, kesehatan, dan pemerataan wilayah. Demikian pula, pemberantasan korupsi tidak cukup dibebankan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi.

Pencegahan korupsi harus dimulai dari pembenahan pembiayaan politik, pengadaan barang dan jasa, transparansi anggaran, pengawasan masyarakat, pendidikan integritas, serta penegakan hukum.

KPK sendiri menjalankan strategi pendidikan, pencegahan, dan penindakan, yang memperlihatkan bahwa pemberantasan korupsi memang membutuhkan pendekatan menyeluruh.

Ketika terjadi kegagalan, lembaga negara juga tidak boleh saling menyalahkan. Dalam sebuah tim, kebobolan bukan hanya kesalahan penjaga gawang. Kesalahan dapat bermula dari penyerang yang kehilangan bola, gelandang yang terlambat menutup ruang, atau bek yang tidak menjaga posisi. Pemerintahan harus membangun budaya evaluasi sistemik, bukan sekadar mencari pihak yang dapat dijadikan kambing hitam.

Memberikan Ruang kepada Pemain Muda

Keberhasilan Spanyol juga ditopang keberanian memasukkan pemain muda ke dalam tim utama. Namun, pemain muda tidak sekadar diberi kesempatan. Mereka telah dipersiapkan melalui sistem pembinaan yang konsisten sehingga memahami filosofi permainan yang sama dengan pemain senior.

Indonesia memiliki jumlah generasi muda yang besar, tetapi keterlibatan mereka dalam politik masih sering bersifat simbolis. Anak muda dijadikan sasaran kampanye, pembuat konten, pengumpul suara, atau ornamen untuk menampilkan citra modern. Mereka belum selalu diberi ruang nyata dalam perumusan kebijakan.

Baca Juga :  Bank KB Bukopin Digugat Rp 13 Triliun, Ahli Hukum Pertahankan Kompetensi Pengadilan

Regenerasi politik tidak cukup dilakukan dengan memasukkan orang muda yang memiliki hubungan keluarga dengan elite. Regenerasi berarti membuka proses kaderisasi yang adil, transparan, dan berbasis kemampuan. Partai politik harus menjadi sekolah kepemimpinan, bukan sekadar kendaraan menuju jabatan.

Seperti akademi sepak bola, partai semestinya mengajarkan ideologi, etika publik, kemampuan menyusun kebijakan, komunikasi politik, dan tanggung jawab kepada masyarakat.

Menjadikan Perbedaan sebagai Variasi Permainan

Indonesia terdiri atas ribuan pulau, ratusan kelompok etnis, bahasa, agama, dan tradisi. Keragaman ini sering dianggap sebagai persoalan yang harus dikendalikan. Padahal, dalam sebuah tim, perbedaan karakter pemain justru dibutuhkan.

Ada pemain yang cepat, pemain yang kuat, pengatur tempo, pemutus serangan, dan pencetak gol. Mereka tidak harus menjadi sama untuk dapat bermain bersama. Yang dibutuhkan adalah tujuan dan aturan permainan yang sama.

Politik identitas menjadi berbahaya ketika perbedaan digunakan untuk memecah masyarakat dan mengumpulkan suara. Polarisasi yang diperkuat oleh media sosial, ruang gema digital, buzzer, dan disinformasi dapat melemahkan kemampuan masyarakat untuk berdialog secara rasional.

Belajar dari sepak bola, persatuan tidak berarti menyeragamkan seluruh pemain. Persatuan berarti menghubungkan perbedaan dalam sebuah pola kerja bersama. Negara tidak boleh memaksa semua daerah berkembang dengan cara yang sama. Keunikan daerah harus dipelihara, tetapi diarahkan bagi tujuan nasional.

Menguasai Ruang, Bukan Sekadar Menguasai Bola

Penguasaan bola tidak selalu berarti kemenangan. Sebuah tim dapat terus mengoper tanpa mampu menciptakan peluang. Dalam pemerintahan, banyaknya program, rapat, regulasi, pidato, dan proyek juga tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan.

Yang lebih penting ialah apakah negara benar-benar menguasai ruang kehidupan masyarakat: apakah sekolah dapat dijangkau, layanan kesehatan tersedia, lapangan kerja tercipta, harga kebutuhan pokok terkendali, hukum melindungi kelompok lemah, dan pembangunan hadir di wilayah terluar.

Politik tidak boleh berhenti pada statistik makro dan seremoni pembangunan. 

Pemerintah harus melihat ruang-ruang yang kosong: desa tanpa dokter, pulau tanpa transportasi memadai, sekolah tanpa guru, petani tanpa akses pasar, pekerja tanpa perlindungan, dan warga yang kesulitan memperoleh keadilan.

Dalam sepak bola Spanyol, operan dilakukan untuk menciptakan ruang dan mendekati gawang. Dalam politik, setiap kebijakan harus bergerak menuju tujuan konstitusional, yaitu melindungi rakyat dan mewujudkan keadilan sosial.

Kepemimpinan sebagai Pengatur Permainan

Indonesia tidak hanya membutuhkan pemimpin yang kuat, tetapi pemimpin yang mampu mengatur permainan. Pemimpin seperti ini tidak harus selalu menjadi pusat perhatian.

Ia mengetahui kapan harus memberikan instruksi, kapan memberi kebebasan, kapan mempercepat permainan, dan kapan menenangkan keadaan.

Ia tidak menuntut seluruh keberhasilan diakui sebagai jasa pribadi. Ia membuat orang lain mampu bekerja. Ia menyatukan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil dalam satu tujuan bersama.

Dalam tim kolektif, pemimpin tidak membangun ketergantungan. Ia membangun pemahaman. Ketika satu pemain keluar, pemain lain dapat masuk tanpa menghancurkan pola permainan. Demikian pula negara harus memiliki sistem regenerasi agar tidak mengalami kekacauan setiap kali terjadi pergantian kekuasaan.

Dari Politik Pahlawan menuju Politik Kolektif

Pelajaran terbesar sepak bola Spanyol bagi Indonesia adalah bahwa kemenangan bukanlah hasil satu pemain, satu pelatih, atau satu generasi. Kemenangan merupakan hasil pembinaan panjang, kejelasan filosofi, kedisiplinan menjalankan peran, dan kepercayaan antarpemain.

Indonesia perlu meninggalkan politik yang terlalu bergantung pada figur menuju politik kelembagaan. Negara tidak boleh dikelola seperti kumpulan pemain yang berebut bola, melainkan sebagai satu kesebelasan yang memahami ruang, peran, dan tujuan.

Presiden tidak dapat bekerja sendirian. Tidak semua beban negara ini ditimpakan kepada presiden. Pemerintah pusat tidak dapat membangun Indonesia tanpa daerah. Negara tidak dapat menciptakan kesejahteraan tanpa masyarakat, dunia usaha, pekerja, petani, akademisi, media, dan generasi muda. Semua harus terhubung dalam satu pola permainan.

Pada akhirnya, sepak bola mengajarkan bahwa kolektivitas bukan berarti menghilangkan kemampuan individu. Kolektivitas justru menciptakan ruang agar kemampuan setiap orang dapat memberikan manfaat terbesar bagi tim.

Indonesia telah memiliki banyak pemain hebat. Yang masih harus dibangun adalah cara bermain bersama.

Ketika ego bersedia mengoper, kekuasaan bersedia diawasi, lembaga memahami posisinya, generasi muda memperoleh ruang, dan seluruh kebijakan diarahkan kepada kepentingan rakyat, politik tidak lagi menjadi pertandingan untuk memperebutkan negara. Politik akan kembali menjadi kerja kolektif untuk memenangkan masa depan Indonesia.

Penulis adalah Kepala Seksi Kesyahbadaran Kantor UPP Kelas I Molawe, Konawe Utara Sulawesi Tenggara 

 

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts