BONE– Komitmen Pemerintah Kabupaten Bone dalam menjaga kelestarian lingkungan dan menjawab tantangan perubahan iklim terus diperkuat. Di bawah kepemimpinan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M bersama Wakil Bupati H. Andi Akmal Pasluddin, yang dikenal dengan tagline BerAMAL, Pemkab Bone mendorong desa-desa agar lebih adaptif dan berdaya melalui program berbasis ekologi.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Sosialisasi Program Kampung Iklim (Proklim) dalam Penerapan Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi (TAKE) yang dirangkaikan dengan Pemberian Apresiasi Proklim Kabupaten Bone Tahun 2025, dilaksanakan oleh Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bone, Senin, 22 Desember 2025, di Ball Room Novena Hotel Watampone.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Asisten III Pemkab Bone, A. Yusuf, S.IP., M.Si, dan diikuti oleh para Kepala Desa, Pendamping Desa, serta para Camat se-Kabupaten Bone. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menjadi bukti keseriusan pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan desa yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
A. Yusuf menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas yang sudah dirasakan dampaknya hari ini. Karena itu, diperlukan peran aktif pemerintah desa dan masyarakat dalam melakukan aksi nyata yang terstruktur dan berkelanjutan.
Sejumlah narasumber kompeten dihadirkan dalam kegiatan tersebut. Koordinator ICRAF Provinsi Sulawesi Selatan, Muhammad Syahrir, memaparkan materi tentang Peran Proklim dalam Mendorong Ekonomi Hijau di Kabupaten Bone. Ia menjelaskan bahwa Proklim bukan hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan.
Sementara itu, Mubarak, S.P., M.Si dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa memaparkan secara khusus tentang Program Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi (TAKE). Ia menjelaskan bahwa sejak tahun 2025, program TAKE mulai diterapkan di Kabupaten Bone, di mana desa-desa yang memenuhi kriteria berbasis ekologi akan memperoleh tambahan dana Alokasi Dana Desa (ADD) sebagai bentuk insentif atas komitmen menjaga lingkungan.
Dari sisi teknis, Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Bone, Andi Takdir, S.T., M.Si, memberikan materi tentang Pengenalan Aksi Adaptasi dan Aksi Mitigasi dalam Program Proklim. Ia menegaskan bahwa Proklim merupakan program nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup, yang memberikan apresiasi kepada masyarakat dan komunitas yang aktif melakukan aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat tapak, seperti dusun atau lingkungan.
“Proklim tidak hanya menekankan pada aksi di lapangan, tetapi juga menuntut proses administrasi yang tertib melalui aplikasi SRNPPI. Dari sinilah desa didaftarkan dan dibina untuk naik kelas dalam Proklim,” jelas Andi Takdir.
Ia juga memaparkan bahwa Proklim memiliki beberapa tingkatan, mulai dari Proklim Pratama, Madya, Utama, hingga Lestari sebagai tingkatan tertinggi yang menunjukkan keberlanjutan aksi dan kelembagaan di masyarakat.
Menambah bobot substansi kegiatan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone, Dray Vibrianto, S.IP., M.Si, menyampaikan materi tentang Peran Pemerintah dalam Pengendalian Perubahan Iklim. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa Proklim merupakan program nasional yang memberi pengakuan dan apresiasi kepada komunitas atas upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dilakukan secara terorganisasi dan berkelanjutan.
Dray Vibrianto merinci bentuk aksi adaptasi perubahan iklim, antara lain pengendalian kekeringan, banjir, dan longsor melalui pemanenan air hujan, peresapan air, perlindungan mata air, penghematan air, hingga relokasi permukiman. Selain itu, peningkatan ketahanan pangan juga menjadi fokus melalui pola tanam adaptif, sistem irigasi yang efisien, pertanian terpadu, penganekaragaman tanaman pangan, serta pengembangan urban farming.
Pada sisi aksi mitigasi, Dray menjelaskan pentingnya pengelolaan sampah dan limbah padat maupun cair, pemanfaatan energi baru terbarukan, konservasi dan penghematan energi, penerapan budaya pertanian rendah emisi gas rumah kaca, menjaga tutupan vegetasi, serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
Dengan gaya komunikatif, Dray memberikan ilustrasi sederhana namun mengena.
“Kalau kita parkir mobil di luar selama tiga jam, lalu masuk ke dalamnya, kita langsung merasakan panas. Seperti itulah kondisi bumi kita hari ini. Pemanasan global sudah nyata, dan dampaknya dirasakan di mana-mana,” ungkapnya.
Sebagai penutup, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pameran produk desa binaan ICRAF, yang menampilkan berbagai hasil olahan dan inovasi desa berbasis lingkungan. Pameran ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap iklim dapat berjalan seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Pemkab Bone berharap semakin banyak desa yang terlibat aktif dalam Proklim, sehingga pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan benar-benar terwujud, sejalan dengan semangat BerAAMAL untuk Bone yang lebih hijau, tangguh, dan sejahtera. (*)






