Menuju Purnabakti: Saat Seragam Korpri Dilepas, Pengabdian Diuji: Bukan Akhir, Tapi Cermin Kesungguhan

Menuju Purnabakti: Saat Seragam Korpri Dilepas, Pengabdian Diuji: Bukan Akhir, Tapi Cermin Kesungguhan

V. Sintu Lopes: Jurnalis Batas Negara

Rintik hujan membasahi tanah Bikomi pagi itu. Di Lapangan Kantor Bupati TTU, barisan peserta upacara HUT Otonomi Daerah ke-30 berdiri khidmat dalam balutan seragam Korpri. Di antara mereka, V. Sintu Lopes, staf Humas PPPK Kemenag TTU, menatap lurus ke depan. Bukan hanya sebagai peserta upacara. Tapi sebagai pribadi yang sedang menghitung hari.

H-3. Tiga hari lagi, seragam kebanggaan yang melekat selama sepuluh bulan terakhir itu akan ia lepas. Bukan karena pindah tugas. Bukan karena dipecat. Tapi karena masa baktinya selesai.

“Senin, 27 April 2026—hari yang tidak sekadar lewat sebagai rutinitas,” tulisnya. “Hari ini mengetuk kesadaran paling dalam: sejauh mana pengabdian ini bagi Kemenag TTU benar-benar hidup, bukan hanya dikenakan.”

Baca Juga :  Kodim 1618/TTU Bangun Harapan di SDN Lanaus

Seragam yang Bertanya

Bagi jutaan orang, seragam Korpri adalah simbol kebanggaan yang dikejar. Rapi, berwibawa, penuh makna. Tapi pagi itu, di bawah langit TTU yang mendung, seragam di badan Sintu seolah balik bertanya: Apakah kerja dan dedikasi di dalamnya juga sepadan?

“Sejujurnya, masih jauh dari sempurna,”kata Sintu. “

Ia hadir mendampingi Plh. Kepala Kantor Kemenag TTU, Maximus Fanu, http://S.Ag. Bukan sekadar tugas humas. Di momen H-3 itu, ia berdiri sebagai manusia yang sedang bercermin. Melihat ke belakang, pada sepuluh bulan pengabdian sebagai PLO dan staf humas. Melihat ke depan, pada pertanyaan yang tak bisa dihindari: setelah seragam dilepas, apa yang tersisa?

Pengabdian Tak Pensiun

Upacara selesai. Seremoni bubar. Tapi satu kesadaran mengendap kuat: pengabdian sejati tidak diukur dari seragam yang dikenakan, melainkan dari dampak yang ditinggalkan.

Baca Juga :  Video Orang Tua Siswa di SMKN 5 Bone Viral, Protes Siswa Tidak Naik Kelas Diselesaikan dengan Damai

“Semangat otonomi daerah bukan sekadar jargon tahunan,” tulis Sintu. “Melainkan panggilan untuk bekerja lebih berdampak bagi masyarakat.”

Baginya, H-3 purnabakti ini bukan akhir. Justru awal pembuktian. Bahwa tanggung jawab dan panggilan nurani tidak pernah pensiun, meski atribut kedinasan telah ditanggalkan.

Senin itu, Sintu Lopes pulang tanpa janji apa-apa. Kecuali satu: tetap setia melayani, dengan atau tanpa Korpri. Karena pengabdian, baginya, tidak pernah bergantung pada pakaian. Tapi pada hati.

Pojok Humas Kemenag TTU, 27 April 2026

V. Sintu Lopes

 

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts