Nasib Bisnis rumla _Carrageenan_ dengan Trader di Brazil

Nasib Bisnis Rumla _Carrageenan_ Dengan Trader Di Brazil

Nasib Bisnis Rumla _Carrageenan_ Dengan Trader Di Brazil

Jika bisnis diolah dengan cara yang tidak profesional dan benar, ancamannya sangat besar bagi pengusaha sesewaktu bangkrut. Apalagi jika karena ceroboh dan lupa bersyukur.

Salah satunya, warga Negara Indonesia yang buka usaha di Sao Paulo, Brazil The Tjin To (Kim To) dengan _partner_ bisnis pengolahan rumput laut (rumla) _carrageenan_ di Luwuk, Sulawesi Tengah (Sulteng).

“Ya benar penutupan usaha impor rumla. Kami putus kerjasama, pecah kongsi dengan rekan bisnis, Hedy. Suruh dia (Hedy) saja yang urus (ekspor impor),” _trader_ di Sao Paulo, Brazil Kim To dihubungi  via WhatsApp belum lama ini.

Rumla Carrageenan Manufacturer PT Brasindo Gum di Desa Kyoan Luwuk. Kondisi Perusahaan; awalnya dikelola bersama Kim To dengan mitra lokal, Hedy. Periode tahun 2012 – 2018, hasil kongsi dengan mitranya, Brasindo berhasil ekspor ke Brazil.

Nilai kontrak rumput laut mencapai 3 juta dolar AS (per tahun 2015) yang melibatkan tiga perusahaan. Kontrak tersebut terdiri dari 1,8 juta dolar A
S untuk PT Brasindo Gum dengan Indobras Representacao Comercial. Serta senilai 1,2 juta dolar AS antara PT Gumindo Perkasa Industri dan Indobras Represencao Comercial.

Baca Juga :  Sicepat Ekspres Donasikan Ratusan Paket Lewat Indahnyaramadhan Traktir Sembako

“Mungkin saja kami lalai, lupa dengan hak dan kewajiban)” kata Kim To dengan nada pasrah.

Dikatakan, ketika usaha ekspor impor rumla masih jaya, pengiriman mencapai 30 – 40 ton untuk pasar Brazil. Kegiatan bongkar kapal di Brazil, dari pengiriman ekspor rumla, kapal pasti menerima dokumen. Tapi menurut Kim To, begitu sampai di pelabuhan, pengiriman tidak bisa langsung diproses sampai garasi truk peti kemas (pool).

“Tidak bisa langsung masuk pabrik. Prosesnya 60 hari. Buyer di Brazil sudah ok dan menawar untuk pembayaran sampai 90 hari. Kalau proses penerimaan barang ada yang sampai 30 hari. Kami sebagai trader pasti mainkan harga. Kalau importer (Brazil) bayar kontan, 30 hari atau 60 hari, bahkan 90 hari (per US Dolar),” kata Kim To.

Baca Juga :  Sempat Tutup Karena Tak Miliki PeduliLindungi Toko Lailai Kembali Beroperasi

Buyer di Brazil mengajukan permintaan, agar produk carrageenan dihaluskan. Proses penghalusan ibaratnya investasi. Sementara rekan bisnisnya di Luwuk, Sulawesi Hedy sempat ragu dengan kualifikasi penyediaan/pengiriman rumla ke pasar Brazil melalui trading house Kim To.

“Pembayaran 90 hari dianggap sulit. Kami sempat beli mesin untuk penghalusan bahan baku carrageenan. Sehingga sempat terpikir, pak Hedy mau mengalihkan ekspor ke Korea. Itu pikiran (ide) pak Hedy. Pengalihan pasar ekspor sudah beres. Saya mau kembali fokus pada usaha foto kopi saja di Sao Paulo,” kata Kim To. (Setiawan Liu)

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts