
Paradoks
Oleh : Hendrika LW
Kuliah kerja nyata di desa terpencil membuat sebagian mahasiswa ciut nyali. Bayangan malam tanpa listrik, tidak ada WiFi, jalanan makadam dan berlumpur. Ah, tapi tidak denganku. Gadis desa yang sejak kecil sudah terbiasa berbaur dengan lumpur sawah.
Kami berlima dari satu fakultas, aku, Rany, Febi, Viko dan Rahmi. Selasa siang tiba di desa Oebela, kabupaten Timor Tengah Selatan dengan kendaraan oto, semacam truk barang. “Selamat datang di kampung kami.” Sambutan kepala desa sangat hangat. Kami tinggal di salah satu rumah warga, karena rumah pak kades sedang dalam perbaikan. Kami mulai membiasakan diri tidur di ranjang dengan kasur ‘spons’ tipis, yang sudah kumal kecoklatan.
Betapa gembiranya, seluruh warga mendukung program kegiatan kami dengan penuh semangat. Keramahtamahan dan kehangatan di sini membuat kami betah. Sekalipun untuk ke desa lain, kami harus beradu dengan lumpur. Di atas roda yang terbenam jalanan, pikiranku menerawang ke kota. Aspal yang mulus, tapi masih di bongkar-bongkar, dengan alasan yang tak kupahami. Serta lampu-lampu super benderang yang mengalahkan cahaya bulan. Hingga kunang-kunang pun terhalau….
Kebahagiaan
Riny Aur
Tersenyumlah….
Karena senyum bisa menopengi
kedukaan,
Kau akan menderita jika melihat kesengsaraan di wajahmu
Tertawalah….
Karena itu mampu mengusir derita,
titisan luka pasti mengalir pada hati yang menderita.
Yakinlah…
Keesokan hari kau akan memadu kasih, bercerita tentang bahagia
Kau akan tertidur dalam pelukan angkasa,
Kau akan menemukan kebahagiaan yang nyata





