
Menepi
Oleh Kimberly Harefa
Aku mulai menepi
Menjauh dari rutinitas yang ada
Sembari menyeruput secangkir kopi
Barangkali menjadi penawar hati yang gundah
Terbesit semua yang pernah terjadi
Keluh menetap
Dan dosa selalu mengiringi
Lantas, masihkah Ia menatap?
Namun, Tuhanku maha asyik
Ia tahu, tapi tak pernah jauh
Menyadarkanku untuk berdzikir
Agar hidupku tak berujung sendu
#HanyaKataKim
***
Juwita
Oleh : Yosef Naiobe
Juwita,…
Kita adalah waktu tanpa batas
Antara kau dan aku
Menyimpan sejuta rasa
Yang tak terungkap
Meski kita saling menyukai
Sekian lamanya berjalan
Perasaan terus saja menggilas
Juwita
Gadis rupawan
Setiap aku merindu
Hanya bisa mendesah tak tahu arah
Kala hasrat akan ingin
Aku hanya menyentuh ruang kosong
dan tembok pemisah
Aku tak tahu harus mendaraskan
cinta ini pada siapa
Pada angin yang hanya menyapu
Kepada ombak yang cuma menderu
Atau,…
kutitip pada nafas yang mendesah?
Juwita nan jelita
Aku tanpamu bisa apa
Setiap malam nan kelam
Aku memeluk bayangmu
Bersama sejuta mimpi’
Hingga fajar tak lagi cemberut.
Mungkinkah kelak kita seatap?
Semoga suatu saat kita menatap
Matahari yang sama.
***
Penjual Kopi
Oleh : Hendrika LW
Aku duduk di bangku halte bis antar kota. Mataku tertuju pada gadis berjaket jins biru tua. Pertama, dia seusia putriku yang telah tiada. Kedua, ia mulai menjajakan kopi di tengah hari, saat matahari hanya menimbulkan bayangan pendek.
Beberapa bus berhenti menghampiri penumpang. Aku tak juga beranjak, seakan kakiku berat melangkah. Aku terus saja memperhatikan gadis itu sampai kopi renteng di tangannya habis dinikmati pelanggan.
Wajahnya sumringah memasukkan dompet kecil ke dalam tas kresek hitam. Aku mendekatinya. Kuulurkan sejumlah lembaran uang, tapi dia menolak. “Saya berjualan untuk biaya kuliah, Pak.” Senyumnya tertinggal di antara rasa kagumku





