
Oleh: Hendrika LW
Udara pagi ini terasa dingin. Di sebelah barat, kabut tebal menyelimuti gunung Panderman. Seakan ia masih terlelap.
Duh, dingin sekali. Lilu mengerjapkan matanya. Menggeliat di dalam selimut lurik hitam putih peninggalan nenek. Enggan bangun rasanya. Tapi mau tak mau, Lilu harus segera beranjak dari tempat tidur. Karena ia harus membantu ibu membuat sarapan dan kue, yang akan dijual ke pasar Krempyeng.
Lilu sudah terbiasa bangun pagi sejak kecil. Mendengar ayam berkokok, jam 04.30, pasti ia segera bangun, karena melihat ibu sudah sibuk di dapur.
“Bu, aku bantu mencuci piring ya.” kata Lilu dengan senang hati.
Selesai membantu ibu, Lilu segera mandi dan berangkat ke sekolah, yang tak jauh dari rumah. Tak lupa, Lilu memasukkan tiga uang koin ke dalam celengan. Ibu pun pergi ke pasar untuk menjajakan kue dagangannya.
“Liluuu, berangkat yuk.” panggil Salsa, yang rumahnya bersebelahan dengan Lilu.
Iya, sebentar Sal. Aku ambil tas dulu.”
Lilu dan Salsa berjalan kaki ke sekolah. Mereka sudah bersahabat sejak kecil. Mereka rukun dan saling membantu. Kadang-kadang bertengkar juga sih, tapi tidak lama sudah akur lagi. Begitulah, dinamika pertemanan.
Lilu dan Salsa selalu tiba di sekolah lebih awal, sebelum teman-temannya datang. Walaupun tidak sedang piket kelas.
“Selamat pagi, Pak Karno.” sapa Lilu dan Salsa kepada penjaga sekolah.
“Pagi, Lilu. Pagi Salsa. Kalian rajin sekali.” jawab pak Karno
“Iya, Pak.” kata Lilu menuju ruang kelas enam.
Hari itu, guru wali kelas, mengumumkan rencana acara perpisahan kelas enam. Dan juga menanyakan anak-anak mau melanjutkan sekolah ke mana.
Apa yang disampaikan guru, membuat Lilu berpikir. Mau sekolah ke mana? Bagaimana harus bayar acara perpisahan? Uang celengan cukup apa nggak? Hal itu membuatnya berdiam diri, sehingga sepanjang hari enggan bermain dengan teman-temannya.
Lilu, kamu kenapa. Ayo main.” Salsa menarik tangannya.
“Nggak papa Sal. Aku capek aja.” jawab Lilu tersenyum.
Sesampainya di rumah, Lilu menceritakan masalahnya pada ibu.
“Bu, aku bisa terus sekolah kan?” tanya Lilu ragu.
“Ya, tentu saja Sayang, kamu harus sekolah sampai jadi sarjana.” jawaban ibu membuat Lilu sangat senang.
Mulai hari ini Lilu lebih bersemangat belajar dan tidak mau jajan lagi Semua uang pemberian ibu, dimasukkan celengan. Karena Lilu ingin melanjutkan sekolah sampai jadi sarjana, seperti kata ibu. Ia juga rajin sekali membantu ibu berjualan, agar mendapatkan keuntungan yang lebih banyak
Sore itu Lilu menghitung uang di celengan. Semua dikeluarkan. Celengan Lilu yang terbuat dari kaleng susu sudah hampir penuh. Karena ia rajin menabung sejak kelas satu.
Setiap hari Lilu pasti menyisihkan sebagian uang jajannya untuk dimasukkan celengan. Ada tiga kaleng susu besar, disimpan dalam lemarinya. Semua dihiasi dengan sangat bagus. Ada gambar bunga, panda dan kelinci.
“Nak, uang celenganmu sudah banyak ya. Kamu mau belikan apa?” tanya ibu saat melihat Lilu menghitung uangnya.
“Buat biaya sekolah, Bu. Ditabung mulai sekarang biar banyak.” ibu memeluk Lilu dan meneteskan air mata.
Hendrika LW, wartawan penulis sastra, pengurus Persatuan Artis Film (Parfi) Kota Malang.





