Disadur kembali oleh Niko dari catatan asli yang disusun Vinsentius Sintu Lopez
TTU, NTT– 30 April 2026. Di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Timor Tengah Utara, waktu berhenti sejenak. Bukan karena jam mati, tapi karena satu nama memilih pulang.
Vinsentius Sintu Lopez, PPPK yang baru 10 bulan menyandang status ASN, dan 6 tahun sebelumnya menjadi Penyuluh Agama Katolik Non-PNS, menulis surat perpisahan. Tidak ada kemarahan. Tidak ada pamrih. Hanya syukur, maaf, dan terima kasih.
Dari Tapal Batas ke Lima Benua
Kantor Kemenag TTU bagi Vinsentius bukan sekadar tempat kerja. Di ruang Humas dan Komunikasi Publik, ia menenun kata. Mengantar kabar baik dari sudut kecil tapal batas negeri, hingga menyebar ke Asia, Afrika, Eropa, Australia, dan Amerika.
Caranya sederhana: jalinan pertemanan. Melalui RRI Atambua, INTAN TTU, TVRI Kupang, WORA TV, dan puluhan media lokal seperti Joflobamorratass, Zonanusantara, Garda Nusantara, kabar Kemenag TTU menembus batas.
“Menyuarakan harmoni dari mimbar-mimbar agama, persembahan para penyuluh multi agama yang cantik, ganteng, dan baik hatinya,” tulisnya. Katolik, Islam, Protestan. Semua punya ruang. Semua punya suara.
Sekolah Kehidupan di Tim Humas
Vinsentius menyebut tim Humas Kemenag TTU sebagai “sekolah kehidupan”. Di bawah komando Tryles M. Neonub, ia belajar bekerja dengan hati dan ketulusan.
Ia berterima kasih kepada Kakanwil Kemenag NTT Fransiskus Kariyanto, Kepala Kemenag TTU Marianus Keo, Kasubbag Yosep Kainio, Kasie Urakat Timateos Kolo, hingga rekan-rekan di unit umum: Bu Aziza, Bu Ani, Bu Kurnia, Mas Nikson, Marsel, Paul, yang dinahkodai Agustinus Ba’un.
“Keluarga mini tempat curhat dalam suka dan duka,” begitu ia menyebut mereka. Termasuk Fendy Bonlay, teman satu pena yang banyak memberinya inspirasi.
Purna Formil, Tidak Purna Melayani
Status PPPK-nya selesai. Tapi bagi Vinsentius, pelayanan tidak pernah selesai.
“Pengabdian bukan tentang berapa lama kita bertahan, tetapi tentang seberapa dalam jejak kita tertinggal,” tulisnya.
Ia meminta maaf jika pernah menyakiti. Meminta semua luka dikubur di pintu gerbang Kemenag TTU. Dan menitipkan satu pesan: biarkan yang baik disimpan di hati, yang buruk dibuang bersama waktu.
Selamat Tinggal, Bukan Selamanya
Suratnya ditutup dengan pantun khas Kefa:
_“Jalan jalan sepanjang jalan / Singgah menyinggah di Kota Kefa / Jangan lupa Mandi di kolam / OEL MASLETE tempatnya yang indah.”_
Ditulis di Kampung Adat Maslete, 1 Mei 2026, bertepatan dengan Hari Buruh Nasional. Sebuah kebetulan yang pas. Karena kerja Vinsentius selama ini memang kerja buruh iman: tak terlihat, tapi menggerakkan.
Ia pamit.
Tapi kenangan tidak.
Doa tidak.
Dan pelayanan, apalagi.
I Love Kemenag TTU and all of you tulisnya di akhir.
Dari tapal batas, Vinsentius membuktikan: pengabdian kecil bisa menggema sampai ke ujung dunia.






