Sosok di Balik Film Becak

Sosok Di Balik Film Becak
Silvester Harsono
Sosok Di Balik Film Becak
Silvester Harsono

Berangkat dari hobi dan minat pada kamera, serta cita-cita sejak kecil untuk membuat film, lantas ia belajar secara otodidak.

Tak ada yang mengira, jika dalam diri sosok ini mengalir sastra. Mungkin sebagian masyarakat belum mengenalnya. Tetapi bagi siswa dan guru SDK Santa Maria, pria bernama lengkap Silvester Harsono tidak asing lagi.

Suami dari Noor Susanna, yang akrab disapa Harsono ini, sangat familiar. Kiprahnya di dunia film mulai beranjak ke ranah popularitas.

Ditemui di lokasi perumahan, yang dikelilingi sawah nan asri, Harsono menceriterakan awal mula debutnya di dunia perfilman.

Berangkat dari hobi dan minat pada kamera, serta cita-cita sejak kecil untuk membuat film, lantas ia belajar secara otodidak.

Tetapi jalan hidup seseorang tidak selalu selaras dengan impian. Profesi sebagai guru olahraga membuatnya begitu sibuk hingga mengesampingkan impian membuat film.

Baca Juga :  Disperindag TTU Dorong Budaya Tertib Ukur untuk Perlindungan Konsumen

Suatu hari minatnya kembali menggeliat. Ide-ide membuat film serasa menyesakkan kepala. Tak ingin membuang kesempatan, ia berupaya mewujudkannya.

Dengan menggandeng beberapa pemain dan kru kameramen Squadra Entertainment, melalui channel youtube “Guru Action”, Harsono, mulai memunculkan daya kreasinya di saat masa pandemi covid 19.

Beberapa film pendek yang sudah digarap antara lain Waspada Covid 19, New Normal, Impian Tukang Becak, Dompet dan Bakat.

Khusus film Becak dibuat serial. Ayah dari Samuel Galen Pambayu ini, sangat tertarik dengan kehidupan tukang becak, karena ia memliki kesan mendalam dengan karakter tukang becak.

“Bagi saya becak itu menggambarkan kesederhanaan, ketulusan dan kejujuran,” katanya saat di temui di kediamannya.

“Itu yang mendasari pola pikir saya untuk hidup. Ya, seperti itu dasarnya.” Lanjutnya dengan senyum, mengisyaratkan kebanggaannya.

Baca Juga :  Video Kerusuhan di Gondanglegi, Hoax

Ditanya soal hambatan, ia mengutarakan keterbatasan properti dan kemampuannya.

“Saya masih belajar. Perlengkapan belum memadai, saya baru punya beberapa kamera. Kru untuk pengambilan gambar juga masih terbatas, karena Squadra ada kesibukan lain.”

“Jadi jika mereka gak bisa, terpaksa saya merangkap pekerjaan. Ya, sutradara, ya kameramen. Walaupun repot ya.” tambahnya.

Silvester Harsono berharap film-film yang dibuatnya mampu memberi pesan moral kepada masyarakat tentang etika dan berkarakter yang baik.

“Kami bisa berkarya lebih besar dengan kandungan makna yang lebih kuat. Tentunya dengan dukungan para pemain dan kru kameramen yang solid,” pungkasnya.

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts