Toko Nisar Phone Tetap Menggeliat di Tengah Pandemi

Toko Nisar Phone Tetap Menggeliat Di Tengah Pandemi
Muhammad Ayatullah
Toko Nisar Phone Tetap Menggeliat Di Tengah Pandemi
Muhammad Ayatullah

BONE- Market, perdagangan smart phone tak pernah kenal situasi. Apa pun kondisinya, kawat halo halo yang kini menjelma sebagai alat komunikasi ini tetap saja menjadi barang buruan konsumen. Itulah yang terjadi dan dialami toko Nisar Phone, di Jalan Ahmad Yani, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Terletak di jalan poros utama yang menghubungkan trans, Makassar ke Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara, toko handphone, milik Nisar, tak pernah sepi. Selalu ramai dikunjungi konsumen.

Seorang karyawan Muhammad Ayatullah (20) mengatakan customer selalu ramai pada hari kerja, antara Senin hingga Jumat.

“Hari, Sabtu dan Minggu sepi. Mungkin karena orang libur,”ucap Yaya, sapaan akrab Muhammad Ayatullah memberi alasan, di Bone, Senin (21/3).

Pemuda lajang tamatan SMK Negeri 1, Watampone ini lebih jauh mengatakan toko handphone milik Nisar, selama pandemi, tetap buka termasuk hari libur. Saat pandemi maupun hari libur lanjut Yaya, barang jualannya laku dibeli konsumen. Yaya mengaku merk atau tipe yang digemari konsumen (pelanggan), warga Tanete Riattang Barat, ini menyebut handphone OPPO sama Vivo.

Baca Juga :  Juni, Tarif Pelanggan Perumda Tirta Kanjuruhan Mengalami Kenaikan

“Merk lain juga laku. Cuma dalam data pembelian dua merk ini lebih laku ketimbang yang lain,”ujarnya.

Selain merk OPPO dan Vivo, tokoh handphone Nisar ini juga menjual berbagai merk lain seperti Samsung, realme, (Xiaomi). Barang-barang dagangan yang menghiasi toko handphone milik keluarga Andi Abbas ini didatangkan langsung dari Bandung Jawa Barat.Selain kota Bandung, alat komunikasi tercanggih jaman ini juga diorder dari kota Makassar dan Jakarta.

“Kita juga datangkan dari Makassar, juga Jakarta namun lebih banyak dari Bandung,”katanya.

Dalam limit waktu satu bulan, biasanya rutin. Namun seperti dijelaskan Yaya, acapkali dalam satu bulan bisa order lebih dari satu kali, jika barang sudah laku terjual.

“Memang setiap bulan baru kita order lagi. Namun kadang tidak tentu. Kalau barang sudah habis ya bisa dua kali kita order hanya dalam sebulan,”tutup Yaya, melempar senyum.

Baca Juga :  CU Kasih Sejahtera Dorong Peternak Ayam Potong Kembangkan Bibit Sendiri

Geliat ekonomi di kota kelahiran mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla ini tergolong unik. Daerah dengan jumlah penduduk lebih dari dua juta ini jauh dari kebisingan yang padat. Angkot tidak ada. Terminal bus yang terletak di pintu gerbang kota pun sepi.

Angkutan penumpang hanya rute pelabuhan Bajoe dan pasar pinggir sungai di jalan Sambaloge. Itu pun secara fisik, angkutan tersebut sudah termakan usia. Jumlahnya juga terbatas.

Tidak diperoleh penjelasan dari pihak instansi terkait apakah masih ada peremajaan atau menunggu waktu untuk dijadikan museum melegenda karena digilas persaingan angkutan menggunakan aplikasi, atau bisnis digital.

 

Tetap Terhubung
Ikuti Zonanusantara.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Related posts