KOTA MALANG – Polemik rencana pembangunan jalan tembus dari kawasan perumahan Griya Shanta menuju Jalan Candi Panggung, Kota Malang, tak kunjung selesai.
Hal itu membuat warga Perumahan Griyashanta merasa kecewa dan lelah atas upaya penyelesaian yang dianggap sebagai angin segar.
Kekecewaan itu terlihat dengan adanya pemasangan banner di sejumlah titik wilayah RW 12 Kelurahan Mojolangu.
Dalam banner tersebut terlihat warga Perumahan Griyashanta mengajak masyarakat untuk saling terbuka melalui diskusi publik.
Dengan dibukanya ruang diskusi publik tersebut warga perumahan Griya Shanta berharap adanya rumusan solusi penyelesaian polemik tersebut.
Koordinator Forum Komunikasi dan Diskusi Warga RW 12 Perumahan Griyashanta, Irawan Satrijo mengatakan, dengan adanya ruang diskusi publik tersebut dapat menampung aspirasi masyarakat yang sebelumnya enggan menyampaikan pendapat.
“Forum ini bentuk nyata keseriusan kami. Kami berusaha menjaring warga yang sebelumnya tidak berani speak up (Berbicara) sejak awal, sebenarnya banyak juga warga yang setuju dengan rencana jalan tembus, itu,” katanya, saat dikonfirmasi awak media, Selasa (7/4/2026).
Irawan menegaskan bahwa pemasangan banner bukan sebagai aksi tandingan. Melainkan ajakan kepada seluruh elemen warga untuk duduk bersama dan berdialog.
“Faktanya, banyak warga tidak berani speak up karena merasa ewuh-pakewuh. Termasuk terkait donasi untuk kebutuhan selama polemik ini berlangsung,” jelasnya.
Irawan menjelaskan, bahwa sejak polemik mencuat, sejumlah warga diminta berdonasi secara sukarela. Dana yang terkumpul bahkan mencapai puluhan juta rupiah dan digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk keperluan hukum.
“Agar kondisi tidak berlarut, kami mendorong terbentuknya ruang diskusi terbuka,” tegasnya
Sebab, lanjut Irawan, warga membutuhkan informasi yang utuh agar tidak lagi muncul kabar simpang siur. Ia mencontohkan isu pembangunan tower yang sempat beredar, namun kemudian terbukti tidak benar.
“Informasi yang simpang siur harus diluruskan. Dengan komunikasi terbuka, termasuk bertemu DPRD, kami berharap semua bisa menjadi lebih jelas,” pungkasnya.
Sebagai informasi, keberadaan banner yang berisikan ajakan untuk bersinergi mencari solusi bersama. Selain itu, terdapat pula kalimat “Lelah dengan Donasi, Membuka Ruang Diskusi dan Solusi” itu menjadi simbol kegelisahan sekaligus harapan warga.
Karena, di balik ketenangan lingkungan, tersimpan dinamika yang masih berlangsung, dengan upaya sebagian warga untuk mengajak yang lain duduk bersama, membuka diri, dan mencari solusi secara kolektif.
Akan tetapi, ada beberapa warga yang ngotot menolak pembangunan jalan tembus di lahan yang berstatus Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum (PSU) yang telah diserahkan ke Pemkot Malang.






