KEFAMENANU,- Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Kefamenanu terus berinovasi dalam memberikan pembinaan kepada Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Melalui Program Kemandirian, para WBP kini mengolah koran bekas menjadi berbagai produk kerajinan bernilai estetika tinggi. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, yang menekankan pada pembinaan produktif dan berkelanjutan.
Kegiatan berlangsung di Gedung Tahanan Karsa, yang telah menjadi pusat pemberdayaan WBP Rutan Kefamenanu.
Dalam suasana penuh semangat, para warga binaan mempraktikkan keterampilan kreatif mereka dengan mengubah limbah koran menjadi barang berguna seperti tempat tisu, vas bunga, tempat sirih pinang, bingkai foto, celengan, hingga miniatur rumah ibadah.
Semua proses pembuatan dilakukan secara terorganisir dan diawasi langsung oleh Petugas Pembina Kemandirian, guna memastikan hasil kerajinan memiliki kualitas yang baik serta aman digunakan.
Kepala Rutan Kefamenanu, Muhamad Nurseha, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pengisi waktu luang, melainkan sarana pembinaan yang berorientasi pada kemandirian dan keterampilan hidup.
“Inovasi ini tidak hanya tentang mengisi waktu, tetapi tentang memberikan bekal nyata kepada warga binaan. Kami berharap keterampilan ini bisa mereka manfaatkan setelah bebas nanti, agar mereka mampu berwirausaha dan menjadi individu yang mandiri,” ujar Muhamad Nurseha.
Sementara itu, Petugas Pembina Kemandirian, Erwin B. J. Seran, mengungkapkan bahwa hasil karya para WBP tak hanya dipamerkan di lingkungan rutan, tetapi juga mulai dipasarkan ke masyarakat luas.
“Pemasaran ini adalah bukti bahwa keterampilan mereka bernilai ekonomi. Ini menjadi motivasi besar bagi para WBP dan membuktikan bahwa rutan bukan sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi juga tempat pembinaan yang produktif,” jelas Erwin.
Program ini berada di bawah koordinasi Kasubsi Pelayanan Tahanan, Ispriwiyati, yang menekankan pentingnya kegiatan pembinaan sebagai upaya membentuk karakter dan mental positif warga binaan.
Menurutnya, melalui kegiatan kreatif seperti ini, WBP tidak hanya belajar keterampilan teknis, tetapi juga mengasah kesabaran, kerja sama, dan tanggung jawab nilai-nilai penting yang akan membantu mereka beradaptasi kembali di tengah masyarakat setelah masa tahanan usai.
“Kami ingin mereka keluar dari rutan bukan dengan tangan kosong, tetapi membawa bekal keterampilan dan kepercayaan diri untuk hidup mandiri,” tutur Ispriwiyati.
Program Kemandirian di Rutan Kefamenanu ini menjadi salah satu contoh nyata penerapan 13 Program Akselerasi Pemasyarakatan, khususnya dalam aspek pemberdayaan dan pelatihan kerja bagi warga binaan.
Melalui kegiatan yang sederhana namun berdampak besar ini, Rutan Kefamenanu membuktikan bahwa di balik tembok pembinaan, masih tumbuh semangat untuk berkarya dan berubah menjadi lebih baik.
Dengan keberhasilan ini, diharapkan semakin banyak warga binaan yang termotivasi untuk berkarya, sekaligus menunjukkan kepada masyarakat bahwa rutan bukan sekadar tempat menebus kesalahan, melainkan wadah untuk menumbuhkan harapan dan membangun masa depan baru.






