Flores Zonanusantara-Belum genap dua bulan terpilih sebagai Ketua Pengurus Puskopdit Flores Mandiri Hubertus Bernardus Sary dihadapkan dengan tantangan. Dan tantangan itu tidak lahir dari kekuatan manusiawi melainkan dari kekuatan alam. Bencana Gempa Bumi magnitudo 7,7 Mw Sabtu 15 Agustus 2026 tentu berdampak juga pada Gerakan Koperasi di Flores.
Ketua Pengurus Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Flores Mandiri yang berkantor pusat di Ende, Hubertus Bernardus Sary,S.Pd yang diwawancara Zonanusantara via WhatsApp, Sabtu (22/08/2026) mengatakan tantangan utama Puskopdit saat ini adalah merawat kebersamaan dan soliditas,menumbuhkan inovasi selaras jaman sambil tidak meninggalkan jati diri Koperasi Kredit.
Selain itu bagaimana memperkuat tata kelola, pelayanan humanis dan edukasi berkelanjutan kepada para anggota agar tidak terjebak pada rentenir berwajah koperasi yang saat ini lagi marak di berbagai wilayah jangkauan Puskopdit Flores Mandiri.
Menurut Hubert bencana gempa 15 Agustus 2026 lalu tentu cukup berpengaruh pada keberadaan koperasi kredit di tiga wilayah kerja Puskopdit Flores Mandiri yakni Kabupaten Ende, Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada. Bencana Gempa bumi pada tanggal 15 Agustus 2026 dan gempa susulan yang terus terjadi saat ini berdampak pada aktivitas masyarakat dan anggota koperasi kredit. Mereka tidak bisa mencari nafkah lalu kemudian pendapatannya menurun bahkan tidak berpendapatan. Dengan begitu kemampuan membayar simpanan maupun pinjaman pasti terganggu atau menurun.
Gempa dasyat tersebut juga membawa dampak kerusakan baik rumah anggota maupun fasilitas umum dan fasilitas primer maupun Puskopdit. Hubert mengatakan saat ini sedang dilakukan pendataan oleh Kopdit-Kopdit Primer. Tetapi dari pantauan dipastikan ada fasilitas seperti gedung pelayanan yang mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan ringan dan sedang. Mungkin saja ada yang mengalami kerusakan berat.
Ditanya apakah bencana gempa berpengaruh pada meningkatnya angka kemacetan, Hubert mengaku sampai saat ini belum mendapat data secara riil, karena data riil hanya disampaikan kepada Puskopdit setelah tutup buku pada akhir bulan. Tapi dalam kondisi anggota yang lagi di pengungsian,tidak bekerja, sedang panik dan berjuang menyelamatkan diri tentu akan berpengaruh pada peningkatan Non Performing Loan (NPL) pada kopdit-kopdit primer maupun Puskopdit Flores Mandiri.
Untuk mengantisipasi meningkatnya angka kelalaian, Hubert mengatakan perlu melakukan dua hal. Pertama, seluruh fungsionaris kiranya turun ke para anggota terdampak, menyapa dan empati terhadap kesulitan yang sedang terjadi sambil mengedukasi bahwa kewajiban membayar pinjaman sedapat boleh ditunaikan sehingga para anggota dengan sadar dan beritikat baik memenuhi kewajiban mereka.
Kedua, jika gempa susulan terus terjadi lalu para anggota tidak bisa membayar akibat tidak bisa beraktivitas maka pengurus dapat membuat kebijakan Relaksasi Pinjaman seperti penundaan cicilan pokok dan bunga,
memperpanjang jangka waktu pinjaman agar sesuai dengan kemampuan. Ataupun meninjau kembali syarat pinjaman dalam Surat Perjanjian Pinjaman. Hal ini tentu membutuhkan analisis yang cermat agar tepat sasaran dan dapat menggairahkan kembali anggota-anggota terdampak.
Dari tiga wilayah kerja Puskopdit Flores Mandiri yakni kabupaten Ende, Kabupaten Nagekeo dan Kabupaten Ngada, menurut Hubert semuanya berdampak. Pusat gempa di Nagekeo sangat dekat dengan wilayah tiga kabupaten ini.
Menurut Hubert untuk wilayah baik Ngada,Ende maupun Nagekeo semuanya pasti terdampak gempa bumi sejak 15 Agustus sampai saat ini. Hubert berharap mudah- mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama situasi kembali normal dan semua warga masyarakat serta para anggota dapat beraktivitas sebagaimana mestinya.Ia yakin, badai gempa ini pasti segera berlalu. ***






