
Oleh : Hendrika LW
Hari itu mentari kembali ingin menunjukkan keakuannya. Kehangatan yang sedari pagi memeluk semesta, berangsur memanggang bumi. Tak terkecuali pekerja yang hiruk pikuk mengumpulkan pundi – pundi di alam terbuka.
Terik. Panasnya tak segan-segan menyengat dan membakar siapa saja termasuk tubuh kurus lelaki paruh baya itu, hingga legam. Ya lelaki itu bernama Parno. Ia bermandi keringat. Bercucuran. Seperti baru keluar dari kolam renang. Selembar handuk berwarna putih setia melingkar di lehernya. Dengan handuk itu Parno menyeka keringat yang mengalir di wajah yang tampak tak lagi muda.
Kendati demikian, ia tak pernah mengeluh apalagi protes kepada alam. Karena ia menyadari betul, bahwa hujan dan panas adalah anugerah Pencipta yang wajib disyukuri.
Tepat di bulan Maret. Dalam hitungan kalender, sudah 40 tahun Parno menjadi penjaga perlintasan kereta api, yang terkenal angker itu. Lebih dari separuh hidupnya, ia mengabdikan diri sebagai karyawan PT KAI.
Menjaga perlintasan tanpa palang pintu, itulah pekerjaan yang menghidupi keluarganya. Ia berpikir bahwa pekerjaannya adalah amanah. Harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.
Demi keselamatan para pelintas. Parno merelakan diri untuk lebih banyak berdiri di pinggir perlintasan, daripada duduk di pos sederhana, yang letaknya tak jauh dari situ.
“Ini panggilan jiwa saya. Menyelamatkan nyawa sesama dari maut ular besi”, katanya dengan nada bahagia.
Gaji yang diterimanya hanya cukup untuk keperluan hidup sehari-hari. Namun ia sangat bersyukur karena masih diberi kepercayaan untuk berdinas di usianya yang sudah senja.
Pagi ini Parno tiba di pos. Jarum jam menunjukkan setengah enam. Wajahnya tampak pucat. Kurang bersemangat. Tak seperti biasanya, ia selalu datang dengan siulan irama lagu-lagu dangdut yang lagi populer. Sambil berjoget-joget pula.
Sardi panjaga shift malam, tampak keheranan melihat perubahan sikap Parno.
“Noo, tumben kamu datang tanpa siulan dangdut”, tegurnya heran.
“Entahlah, perasaanku gak enak. Sepertinya akan terjadi sesuatu”, jawabnya datar.
“Ya Allah, lindungilah semuanya”, ia menghempaskan bawaannya di atas meja kayu, yang sudah usang.
Ia menatap perlintasan itu, dalam-dalam. Menarik nafas panjang. Seperti ada kedukaan di sana.
Ditemani Sardi, Parno menyeruput kopi, yang dibekali istrinya dari rumah.
“Waahh, mantap! Kopi bikinan istrimu tiada duanya, Noo!” puji Sardi pada tegukan terakhir.
Kemudian Sardi pamit pulang, dan tugas selanjutnya diserahkan pada Parno.
Parno makin gelisah. Diambilnya tasbih, yang selalu ada di kantong celananya. Tak henti-henti ia mendaraskan doa syukur dan mohon keselamatan untuk semua orang.
Dikejutkan oleh aba-aba bahwa kereta akan lewat, ia segera berlari ke pinggir rel.
“Stop! Kereta!” teriaknya kepada pelintas.
Suara pria berambut putih itu terdengar lirih, kalah oleh deru kendaraan yang hilir mudik tak terhitung banyaknya. Peluit dan bendera kecil yang selalu menemani tugasnya, membantu memberi tanda kepada pelintas.
“Priiittt! Priiitt! Prrriiitttt!”
Tangan kanannya mengibar-kibar bendera kuning agar mereka hati-hati.
Dikeluarkan lagi bendera merah untuk menghentikan pengendara.
Kadang Parno kesal. Kesal banget.
Ketika orang-orang yang melintasi rel seakan tak menghiraukan aba-abanya. Padahal ia berusaha sungguh-sungguh melindungi keselamatan mereka.
“Awas, kereta! Berhenti!” teriaknya.
Ia sampai mengejar Yamaha hijau yang masih terlihat gres itu, untuk membuatnya berhenti.
Perempuan itu tetap melajukan motornya. Tak bisa dihindari, ia terseret puluhan meter. Entah ke berapa kalinya kejadian seperti itu.
“Ya Allah, aku sudah berusaha memperingatkan, tapi kenapa terulang lagi?” Ia menyeka matanya.
Penyesalan Parno menumpuk di atas sajadah. Berbaur dengan kesedihan yang mengalir dari jiwanya.
Tapi apa daya, semuanya terjadi di luar kendali dirinya. Kepasrahan pada Sang Khalik, membuat hatinya merasa lebih lega.
Waktu terus berganti. Hari-hari harus kembali dijalani dengan wajar, seperti biasanya. Karena keluarga menunggu rupiah yang dibawanya setiap awal bulan.
Kembali pada rutinitas.
Berangkat setelah subuh, pulang saat senja merayap ke peraduan. Demi anak istri. Demi asap dapur tetap mengepul. Ia menjalani pekerjaan dengan senang hati.
Sore itu, Sardi belum juga datang untuk menggantikan shiftnya.
Parno merasa sangat lelah. Ia rebahan di kursi pos, bercat abu-abu itu. Saking lelahnya, dalam hitungan menit dia tertidur pulas.
Seorang perempuan cantik menepuk bahunya perlahan.
“Bangun Pak, sudah waktunya pulang”.
Parno kaget bukan kepalang.
Perempuan itu yang terseret kereta tujuh hari lalu.
Hendrika LW : Penulis sastra. Buku puisi dengan judul “Nyayian Hati” segera terbit.





